Category Archives: Kuliah di Thailand

NEW RELEASE…Chulalongkorn University Scholarship 2019, Beasiswa dari Chula untuk Warga ASEAN dan Non-ASEAN

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Sekitar seminggu yang lalu ada postingan masuk di Grup Facebook Alumni ASEAN Scholarship Chulalongkorn University (Chula) tentang beasiswa yang baru saja dirilis oleh Chula. Pada dasarnya ini semacam pengumuman beasiswa rutin tahunan dari Chula, hanya saja ada yang berbeda untuk tahun ini karena biasanya beasiswa ditawarkan dikenal dengan beasiswa ASEAN Scholarship yang artinya hanya untuk pelamar dari negara-negara ASEAN, serta khusus program pasca sarjana (graduate program).

Hal yang berbeda dari pengumuman beasiswa Chula tahun ini setidaknya ada dua, pertama beasiswa diperuntukkan tidak cuma untuk program pascasarjana (graduate) tetapi juga untuk S1 atau under graduate. Kedua, tidak cuma untuk negara ASEAN saja namun juga untuk Non-ASEAN. Yang terakhri ini sebenarnya tahun-tahun sebelumnya juga ada (beasiswa non-ASEAN), hanya saja biasanya terpisah pengumumannya.

Lebih detail mengenai beasiswanya sebagaimana disebutkan di website Office of Academic Affairs Chula, setidaknya ada 3 skema beasiswa dari Chula untuk tahun ini, yaitu:

  1. Undergraduate Scholarship Program
  2. Graduate Scholarship Program
  3. One Semester Scholarship Program

Pengumuman Chulalongkorn University Scholarship 2019

Adapun detail masing-masing beasiswa adalah sebagai berikut:

Untuk detail sebenarnya saya pengen jelaskan satu-satu, namun keterbatasan waktu kali ini hanya bisa melampirkan petunjuk beasiswa dan formnya. Silakan pembaca cermati sendiri di file yang saya lampirkan pada masing-masing skema beasiswa berikut ini:

#1. Undergraduate Scholarship Program

Untuk detail petunjuk dan form pendaftaran silakan download berikut ini:

#2. Graduate Scholarship Program

Untuk detail petunjuk dan form pendaftaran silakan download berikut ini:

#3. One Semester Scholarship Program

Untuk detail petunjuk dan form pendaftaran silakan download berikut ini:

Deadline lamaran beasiswa:

Selain dengan skema yang baru, pengumuman beasiswa kali ini juga memberikan tenggat waktu (deadline) yang relatif longgar. Pelamar bisa memilih untuk mendaftar untuk perkuliahan tahun 2019 atau 2020. Setidaknya ada waktu untuk mengumpulkan persyaratan bagi yang belum siap dalam waktu dekat. Detail deadlinenya adalah sebagai berikut:

  • Not later than May 31, 2019 for the first semester (Mulai kuliah Agustus 2019)
  • Not later than October 31, 2019 for the second semester (Mulai kuliah Maret 2020)

Demikian semoga bermanfaat. Selamat mendaftar bagi yang berminat, semoga berjodoh kuliah di Thailand.

Purwokerto, 3 Ramadhan 1440 H (8 Mei 2018)

Advertisements

HOT NEWS!!!…Beasiswa Full Scholarship S2 dan S3 dari Mahidol University Thailand: Active Recruitment and On-site Interview Khusus untuk Pelajar Indonesia

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Satu hari yang lalu, tepatnya Sabtu, 12 Januari 2019 sekitar pukul 11 siang saya dikejutkan dengan sebuah email dari Thailand. Tidak tanggung-tanggung email ini merupakan email resmi dari salah satu staf Faculty of Graduate Studies kampus terkenal di Thailand, Mahidol University. Pengirimnya adalah Pi (sebutan panggilan) Lalita atau lengkapnya Lalita Adulyakittiphaisan. Saya sendiri tidak kenal secara langsung dengan beliau, tapi cukup familiar namanya karena pernah tahu dari istri saya yang alumni Mahidol. Saya memang pernah pernah beberapa kali ke Graduate Studies Mahidol di Salaya menemani istri saya jika ada urusan di sana, namun saya tidak pernah berurusan secara langsung dengan beliau ataupun Graduate Studies dan saya juga bukan alumni Mahidol. Oleh karena itu agak heran juga koq saya diemail beliau.

Btw, kita lupakan keheranan saya dapat kiriman email dari Pi Lalita. Yang penting untuk dibahas adalah isi dari email itu. Pesan utama dari emailnya adalah pengumuman dari Faculty of Graduate Studies Mahidol University mengenai rencana melakukan “Active Recruitment dan On-site Interview” untuk penerima beasiswa dari Mahidol tahun 2019 yang akan dilaksanakan di Bali dan Jakarta pada bulan Maret 2019 besok. Dan meminta saya untuk membantu mensosialisasikan informasi ini. Berikut detail emailnya:

Email Pi Lalita dari Faculty of Graduate Studies Mahidol tentang Penerimaan Beasiswa S2/S3 tahun 2019

Ada beberapa point penting dari email Pi Lalita di atas:

  1. Mahidol menyediakan beasiswa penuh S2 dan S3 khususnya bagi warga negara Indonesia yang mengcover biaya kuliah (tuition fees) dan biaya lainnya termasuk full stipend (living cost) selama 2 tahun untuk S2 dan 3 tahun untuk S3
  2. Akan diadakan seleksi langsung di Indonesia, yaitu di Jakarta dan Bali pada tanggal 2 dan 3 Maret 2019.
  3. Lebih detail infonya bisa dilihat di http://www.grad.mahidol.ac.th/ActiveRecruitment2018/

Link website Graduate Studies Mahidol tentang kegiatan Active Recrutment 2019

Email dari Pi Lalita itu juga melampirkan dua dokumen tentang kegiatan active recruitment tersebut. Satu file berisi tentang detail dari rekrutmen dan syarat-syarat beasiswa dan satu dokumen foto tentang kegiatan rekrutment. Dari dokumen yang di lampirkan, tersebut bahwa kegiatan active recruitment ini ternyata tidak hanya dilaksanakan di Indonesia, tetapi juga di 3 negara lainnya yaitu: Kamboja (26 Januari), Nepal (2 Maret) dan Myanmar (9 Maret 2019). Khusus di Indonesia dilaksanakan 2 kali yaitu di Jakarta dan Bali sebagaimana saya sebutkan sebelumnya (untuk tempat pelaksanaan akan diumumkan kemudian).

Mahidol University Full Scholarship

Selain info mengenai kegiatan “Active Recruitment dan On-site Interview”, dokumen dari email Pi Lalita juga menjelaskan secara ringkas mengenai info beasiswa yang ditawarkan. Diantara beberapa poinnya adalah bahwa beasiswa ini adalah beasiswa full scholarship untuk S2 dan S3. Selain itu juga disebutkan mengenai target dari penerima beasiswa ini atau siapa yang bisa melamar, dan juga mengenai prosedur pendaftaran bagi yang akan mengikuti kegiatan.

Siapa yang bisa mandaftar program ini?

  1. Dosen atau staff universitas atau institusi yang berkaitan dengannya seperti staf rumah sakit pendidikan atau pusat studi/lembaga penelitian
  2. Pegawai pemerintah atau lembaga negara termasuk baik pemerintah daerah maupun pusat
  3. Karyawan swasta atau lembaga non pemerintah yang mempunyai kontribusi bagi negara
  4. Individual yang mempunyai prestasi akademik dan kemampuan bahasa Inggris yang baik.

Tahapan Proses Seleksi Kandidat

Bagi siapa saja yang berminat dan memenuhi kualifikasi, silakan melalui proses seleksi sebagaimana berikut:

  1. Melakukan registrasi pada website Graduate Studies Mahidol, link pendaftaran sebagai berikut: kunjungi http://www.grad.mahidol.ac.th/ActiveRecruitment2018/
  2. Bagi pelamar yang tertarik dan sudah mendaftar, bisa membawa dokumen berikut pada saat acara: sertifikat bahasa Inggris (TOEFL or IELTS), ijazah dan transkrip nilai. Kemampuan bahasa Inggris merupakan nilai plus, tapi bukan merupakan syarat yang diharuskan.
  3. Beberapa program studi mengharuskan mini test sebelum wawancara, detail mengenai hal ini akan diumumkan kemudian.
  4. Pengumuman hasil interview akan disampaikan 2 pekan setelah wawancara. Selanjutnya Graduate Studies akan membantu proses registrasi di program studi masing-masing.
  5. Bagi pelamar yang sudah pernah mendaftar pada tahun lalu masih bisa mengikuti seleksi melalui program ini.
  6. Beberapa program studi mungkin tidak mengikuti proses active recruitment ini, namun pelamar masih bisa mendaftar program dan beasiswanya melalui Graduate Studies Mahidol University. Link nya bisa diakses di sini.

Detail dari keterangan diatas bisa didownload di sini: active-recruitment-announcement-2019-general.

Poster Kegiatan “Active Recruitment and On-site Interview” Mahidol Unversity di Indonesia

Demikian sekilas info mengenai beasiswa full scholarship dari Mahidol University yang saya terima dari Pi Lalita, staf Graduate Studies Mahidol University. Semoga bermanfaat.

Purwokerto, 13 Januari 2018.

Memahami dan Mengurus Visa Studi dan Visa Kunjungan ke Thailand

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Visa ibarat tiket untuk bisa masuk dalam suatu pertunjukan. Oleh karena itu, visa merupakan dokumen yang sangat penting bagi yang akan masuk ke suatu negara, apapun alasannya. Terlebih untuk keperluan studi lanjut yang jelas tidak sekedar sehari-dua hari kunjungan. Oleh karena itu, memahami apa saja visa kunjungan ke Thailand dan bagaimana mengurusnya merupakan hal yang penting bagi yang akan berkunjung ke sana. Bahkan bagi yang hanya akan berkunjung sekedar wisata satu atau dua hari saja.

Ya, meski Thailand, sebagai sesama negara ASEAN telah menerapkan kebijakan “bebas visa” 30 hari kunjungan bagi seluruh pemegang paspor Indonesia. Namun perlu juga anda paham seperti apa itu visa, termasuk “free visa” kunjungan sekalipun. Paling tidak anda tahu medan sebelum berperang…koq se_ngeri itu ya…maklum pengalaman tak terlupakan saya pertama ke Thailand hampir saja dideportasi…kaya TKI ilegal saja ya…hehehe

Saya sendiri selama 2 tahun lebih hidup di Thailand pernah pengalaman menggunakan berbagai tipe visa. Mulai dari free visa 30 (ini yang pertama dan hampir di deportasi), Non-Ivisa keluarga O, dan visa studi ED), pernah juga ke sana setelahnya (menggunakan visa kunjungan/turis).

Pertama, sekedar mengingatkan bahwa visa adalah izin yang diberikan oleh suatu negara (dalah hal ini imigrasi) terhadap orang asing untuk masuk, tinggal dan melakukan/tidak melakukan sesuatu serta pergi/meninggalkan negara tersebut (Wikipedia, 2018). Selanjutnya mengenai jenis-jenisnya, untuk visa ke Thailand ada beberapa jenis visa:

  1. Visa Turis/Visa 30 hari FREE (termasuk visa on arrival)
  2. Visa Studi
  3. Visa Bisnis/Kerja
  4. Visa Pernikahan (marriage visa)
  5. Visa Pensiunan (retirement visa)
  6. Visa Permanent Resident

VISA TURIS: BEBAS Visa Kunjungan 30 hari

Pertama yang perlu dipahami dan semoga juga sudah diketahui, bahwa Thailand sebagai sesama negara ASEAN telah memberlakukan perjanjian bebas visa kunjungan (turis/wisata) bagi sesama negara anggota ASEAN termasuk Indonesia selama 30 hari. Jadi, seperti berkunjung ke Malaysia atau Singapura, jika anda sebagai WNI pemegang paspor Indonesia dan bertujuan ke Thailand untuk “berkunjung” atau wisata untuk maksimal 30 hari maka tidak perlu mengurus atau mengajukan visa ke Kedutaan/Konsulat Thailand di Indonesia.

Visa Pertama Ke Thailand

Anda cukup menyiapkan tiket pulang-pergi saja lalu bawa paspor (dengan sisa masa berlaku min. 6 bulan) dan berangkat ke Thailand, insyaAllah diterima masuk ke sana. Saya garis bawahi mengenai tiket pergi-pulang karena ini yang menjadi syarat utama visa ini diberikan.  Visa ini kadang dinamakan dengan Visa on Arrival. Karena visanya didapatkan saat anda tiba di bandara dan diperiksa oleh imigrasi Thailand di bandara atau perbatasan masuk ke Thailand.

Wujud visanya hanya sebuah stempel petugas imigrasi di bandara tempat anda mendarat dan masuk ke Thailand atau dengan sebutan lain, visa on arrival (lihat gambar disamping). Jadi untuk visa ini anda tidak perlu mengurus apa-apa, hanya sekali lagi siapkan paspor dan tiket pulang pergi. Plus data dimana anda akan tinggal. Karena ini diperlukan untuk menulis di Departure Card yang anda terima dari pramugari pesawat sebelum anda mendarat dan diserahkan ke petugas imigrasi.

Departure card ini penting dan jangan sampai hilang selama anda di Thailand, baik untuk kunjungan sebentar maupun lama. Kalau sampai hilang maka akan lama urusannya. Alhamdulillaah saya belum pernah…hehe.

Meski visa ini visa free, dan tidak perlu aplikasi pengajuan visa sebagaimana saya jelaskan di atas. Namun terkadang pihak imigrasi mengadakan “random checking”, dan biasanya ditanyakan maksud kunjungan, tinggal dimana dan punya uang berapa. Saya punya pengalaman “tak terlupakan” mengenai hal ini saat pertama kali ke Thailand, dan hampir saja dideportasi…haha. Ceritanya panjang, lain waktu insyaAllah saya ceritakan.

Visa kunjungan 30 hari ini, basically untuk tujuan kunjungan wisata. Oleh karena itu, kalau anda ditanya petugas imigrasi alasan kunjungan ke Thailand, jawaban paling aman adalah mau piknik atau traveling (tips). Pertama, karena visa ini memang tujuan utamanya untuk itu. Kedua, tidak perlu pertanyaan lain kalau anda sudah jawab ini. Ketiga, karena ini traveling kan mendatangkan visa untuk mereka jadi pasti mereka senang dan akan menyambut dengan gembira. Terlebih Thailand merupakan salah satu tourist destination dunia.

Bagaimana jika punya tujuan lainnya misal kunjungan kampus, magang 30 hari dll, apakah bisa menggunakan visa ini?. Menurut pengalaman saya bisa. Saya pernah mengantar magang mahasiswa saya selama 28 hari di Khon Kaen University juga pakai visa jenis ini dan Alhamdulillaah aman sampai pulang kembali. Tapi untuk amannya anda sebaiknya punya surat pengantar baik dari Indonesia maupun dari tempat magang anda di Thailand. Namun jangan sekali-kali menggunakan visa ini untuk bekerja, karena kalau ketahuan makan akan didenda dan dideportasi plus dibanned untuk masuk ke Thailand selama beberapa tahun. Karena untuk visa kerja ada sendiri (Visa B, bisnis).

Visa ini hanya berlaku 30 hari. Bagaimana jika ingin piknik atau magang misalnya lebih dari 30 hari?. Cara paling mudah adalah anda ke perbatasan terdekat (Laos misalnya bagi yang tinggal di Bangkok, atau ke Malaysia bagi yang di Thailand selatan) lalu keluar dari Thailand dan masuk lagi seperti biasa. Ini juga yang banyak dimanfaatkan para keluarga (bukan keluarga inti, kalau keluarga inti bisa pakai visa keluarga/visa O) dan juga pekerja ilegal di Thailand.

Selain dengan cara itu, anda bisa juga mengajukan visa turis selama 60 hari dengan masa waktu entry 3 bulan. Artinya anda punya izin tinggal di Thailand selama 60 hari dan bisa bolak-balik selama beberapa kali (tergantung single/multiple entry visa) ke Thailand. Hanya saja visa turis 60 hari ini tidak free alias berbayar dan ada beberapa persyaratan antara lain:

  1. Punya deposit bank minimal Rp. 8 juta (USD 700) atau Rp. 16 juta (USD 1400) per keluarga untuk single entry dan sejumlah Rp. 80 juta (USD 8000) untuk multiple entry
  2. Letter of employment
  3. Booking Hotel
  4. Application fee Rp. 560.000 (single entry) atau Rp. 2.800.000 (multiple entry)
  5. dll syarat lainnya. Lihat detail di website Kedutaan Thailand di Jakarta.

Dengan seabreg persyaratan dan biaya itulah mengapa bagi yang bermaksud kunjungan lebih dari 30 hari banyak yang menggunakan cara mudah dan murah dengan ke perbatasan terdekat. Keluar lalu masuk lagi dengan free. Untuk yang seperti ini bahkan di Bangkok ada penyedia jasanya, semacam travel agent ke Laos selama 1 hari, nginap disana (biar dianggap kunjungan wisata beneran…hehe), lalu balik lagi dengan visa free.

Visa Studi, Non-Immigrant Visa “ED”

Bagi yang akan melanjutkan studi atau kuliah ke Thailand, baik untuk short course (6 bulan misalnya) atau full time student (lebih dari 1 tahun) tentu tidak memungkinkan menggunakan visa turist. Pertama jelas tidak boleh, kedua jelas repot dan banyak biaya. Untuk itu umumnya menggunakan visa belajar atau dikenal dengan “Non-Immigrant Visa ED”.

Contoh Visa Belajar Saya (Non-immigrant Visa ED)

[Baca: NEW RELEASE…Chulalongkorn University Scholarship 2019, Beasiswa dari Chula untuk Warga ASEAN dan Non-ASEAN]

Visa ini bisa diurus dan Kedutaan/Perwakilan Thailand (konsulat) di Indonesia (Jakarta, Medan, Makassar, Denpasar) dengan memenuhi beberapa persyaratan dan membayar biaya aplikasi visa. Diantara persyaratannya sebagaimana disebutkan oleh website Kedutaan Thailand di Jakarta antara lain:

1. Visa Application form(s) and photograph(s): Completed and signed Visa Application form and 2 recent photograph(s) (size 3.5×4.5 cm). Non-Indonesian applicants may be required to submit more than one set of application form. (See: Additional Requirements for Non-Indonesian Applicants)

2. Passport (valid for no less than 6 months)

3. Original acceptance letter from the school, training institution or company in Thailand. The letter must be typed in the school/company’s letter head signed by authorized person and a copy of School license or business registration (Copies of documents must be signed by authorized person and an affixed seal)

Important Notes: For informal courses e.g. Thai language and cultural training courses, applicants must provide documents which demonstrate that the course meets the minimum requirement as follows:

– If the course is less than 5 months, the period of study must be at least 4 days per week, 2 hours per day.

– If the course is longer than 5 months, the period of study must be at least 5 days / week, 5 hours per day.

4. Additional document in case of internship/exchange in Thailand: Letter of certification from the University in which the applicant is currently enrolled, providing information on the student status, purpose and period of the internship in Thailand

5. Additional document for applicants who will study at secondary education institution or below: Letter of Approval from the Office of the Basic Education Commission or its district offices e.g. the Primary/Secondary Educational Service Area Office or the Bureau of Educational Development for Special Administration Zone in the South

6.  Police Record issued by the Police in Indonesia or the country of residence (the Police Record must be in English and issued within one month): for applicants enrolled in university
or higher education institution and informal courses

7. Application fee (Cash only in Indonesian Rupiah – Non-refundable): IDR 1,120,000

Setelah semua persyaratan dipenuhi selanjutnya tinggal datang ke ke Kedutaan/Perwakilan Thailand di Indonesia dan mengajukan permohonan visa. Biasanya satu pekan selesai.

Visa studi ini saat pertama kali hanya berlaku 90 hari. Selanjutnya setelah anda di Thailand sebelum habis batas waktu 90 hari maka anda harus mengajukan visa baru, dengan masa waktu 1 tahun. Namun demikian, meski berlaku satu tahun anda tetap harus wajid lapor setiap 90 hari (90 days report). Jadi setiap 90 hari anda meski ke imigrasi di Bangkok untuk lapor, kalau tidak anda didenda minimal 2000 baht (sekitar 800 ribuan, dg kurs 1 baht Rp. 400) meski telat 1 hari.

Visa Keluarga, Non-Immigrant Visa “O”

Apabila anda kuliah/kerja di Thailand tetapi ingin membawa keluarga untuk waktu yang lama, maka anggota keluarga harus mengajukan visa keluarga atau dikenal dengan Non-Immigrant Visa “O”. Anggota keluarga yang boleh mengajukan jenis visa ini hanyalah anggota keluarga inti: Suami/istri, anak dan orang tua yang dibuktikan dengan kartu keluarga.

Saya sendiri pernah sekali mengajukan visa ini, dulu sewaktu menemani istri saya sebelum saya sendiri diterima kuliah di Chula dan selanjutnya mengajukan visa ED.

Visa Keluarga, Non-Immigrant Visa “O”

Secara detail persyaratannya adalah:

Full-time student under 20 years old: The student’s parents must show proofs of family relationship and a letter of certification from the educational institution in Thailand.

Full-time student above 20 years old: The student’s spouse and children must show proofs of family relationship and a letter of certification from the educational institution in Thailand. Civil partnership certificate is not accepted.

– Not applicable for students who take informal courses e.g. Thai language or cultural training courses.

– Dependents are prohibited to work in Thailand.

Demikian sekilas tentang visa studi dan kunjungan ke Thailand. Untuk jenis visa lainnya, saya belum punya pengalaman. Silakan bisa dipelajari di website Kedutaan/Perwakilan Thailand di Indonesia.

Salam hangat, semoga bermanfaat.

 

References:

Royal Thai Embassy, Jakarta. 2018. Important information on visa application. Accessed from: http://www.thaiembassy.org/jakarta/en/services/64465-Visa.html

– ThaiEmbassy.com. 2018. Types of Thai Visa. Accessed from: http://www.thaiembassy.com/thailand/thailand-visa-types.php

– Wikipedia. 2018. Travel Visa. Accessed from: https://en.wikipedia.org/wiki/Travel_visa

 

Menilik Kehidupan Mahasiswa Indonesia di Thailand

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.*

Thailand sebagai negara tetangga dan sesama anggota ASEAN bukan merupakan negara yang asing bagi orang Indonesia. Meski bukan merupakan tujuan utama mahasiswa Indonesia untuk menempuh studi di sana, namun akhir-akhir ini semakin banyak mahasiswa Indonesia yang melanjutkan pendidikan tingginya di negeri gajah putih ini.

Sampai terakhir saya pulang dari Thailand tahun 2015, setidaknya ada 500an mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Thailand di berbagai kampus baik di bagian selatan, tengah maupun utara. Mulai dari Prince of Songkla University di selatan Thailand, di kawasan tengah seperti di Chulalongkorn Univ, Mahidol, Thammassat, Kasetsart, dan AIT di Bangkok, hingga di ujung utara Mae Fah Luang dan Chiang Mai Univ, dan bahkan di daerah timur utara kawasan Isaan di Khon Kaen University.

Bersama Pengurus PERMITHA/PPI Thailand saat Kunjungan Ke Mae Fah Luang University di Chiang Rai

Berbicara mengenai kehidupa mahasiswa Thailand merupakan topik yang menarik untuk ditulis. Banyak aspek yang bisa dibahas disini, mulai dari dimana mereka tinggal, bagaimana ke kampus, kegiatan di kampus, kegiatan di PPI Thailand/PERMITHA, kegiatan bersama KBRI Bangkok, kegiatan bersama orang Thailand dan lainnya berbagai macam aktivitas selama kuliah dan hidup di Thailand.

Tempat Tinggal Mahasiswa

Athen Apartment, Tempat Tinggal Legendaris Mahasiswa dan Masyarakat Indonesia di Bangkok

Umumnya mahasiswa tinggal di apartemen sewa, sebagian tinggal di asrama mahasiwa yang disediakan oleh kampus. Anda jangan membayangkan bahwa apartemen yang disewa seperti bayangan kita tentang apartemen di Indonesia yang serba mewah dan ditengah kota. Ya memang apartemen di Thailand biasanya terdiri dari beberapa lantai, namun untuk kelas mahasiswa tentu tidak semewah di Indonesia tentang apartemen. Bahkan kadang lebih mirip “kos-kosan” kalau kita di Indonesia.

Demikian halnya asrama mahasiswa, tidak selamanya kumuh seperti asrama mahasiswa di Indonesia. Untuk kampus seperti Chulalongkorn University, mempunyai asrama mahasiswa yang relatif baru dan lumayan mewah (bagi saya…hehe). Dan tentu biaya sewa lebih mahal. Namun dengan fasilitas yang lengkap dan terbaru.

To be continued…insyaAllah

 

 

*Penulis adalah alumni Chulalongkorn University, tinggal di Thailand antara tahun 2013-2015.

 

6 Tips Merencanakan Kuliah di Thailand

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Tulisan mengenai “6 Tips Merencanakan Kuliah di Thailand” ini hadir sebagai jawaban dari banyaknya pertanyaan (baik lewat email, WA maupun komen di blog) ke saya dari para pembaca mengenai langkah-langkah yang harus disiapkan kalau mempunyai rencana kuliah di Thailand. Setelah membaca artikel saya sebelumnya mengenai “5 Alasan Kuliah di Thailand”, banyak yang menanyakan ke saya tentang hal ini. Mereka (penanya) umumnya masih duduk dibangku sekolah (SMA) atau baru lulus sekolah. Di satu sisi saya senang dengan fenomena ini, anak-anak muda yang sudah mendunia mimpinya.

Jujur saya sendiri saat SMA belum kepikiran kuliah di luar negeri, namun mereka (para penanya) sudah selangkah lebih maju dibanding saya saat seusia mereka dulu. Untuk itu biar jawaban saya lebih tertata dan juga supaya tidak mengulang jawaban jika ada lagi yang menanyakan topik tentang perencanaan kuliah ini, maka sudah saatnya dibuatkan tulisan khusus mengenai hal ini. (Jadi kalau ada yang nanya lagi tinggal sy share link artikelnya…hehe).

Pertama, Berani Mimpi Kuliah di Luar Negeri

Orang bijak mengatakan, everything begin from dream, semua berawal dari mimpi. Saya termasuk yang percaya bahwa bermimpi bukan sekedar berangan-angan. Tapi mimpi yang benar, tulus dan diusahakan merupakan langkah pertaman dan utama juga untuk kesuksesan rencana kuliah di luar negeri dalam hal ini kuliah di Thailand.

Kata orang kuliah di luar negeri identik dengan jalan-jalan

Saya sendiri jujur dulu tidak mempunyai mimpi yang terencana hingga akhirnya saya kuliah di Thailand. Namun setelah saya urut ke belakang, saya jadi ingat bahwa suatu ketika saat saya kuliah S1 saya pernah berpendapat bahwa kalau ingin kuliah pertanian sebaiknya di Thailand, pertama karena secara teknis hasil pertanian dan kampus pertanian di Thailand lebih unggul di banding Indonesia. Kedua, sebagai sesama negara di Asia Tenggara, pengalaman pertanian Thailand lebih aplikatif jika diterapkan di Indonesia dibanding dengan praktek pertanian di negara maju lainnya yang mempunyai kondisi geografis, kultur dan karakter petani yang relatif berbeda.

Jadi, meski saya tidak memimpikan secara detail untuk kuliah di Thailand. Saya yakin bahwa ketika akhirnya saya kuliah di Thailand mungkin karena ungkapan sepintas saya tentang kuliah di Thailand itu diaminkan malaikat…hehe. Oleh karena itu, bisa dibayangkan kalau mimpi kuliah di luar negeri itu dituliskan dan diungkapkan secara detail saya kira potensi terkabulnya impian lebih besar.

Kedua, Tentukan BIDANG STUDI Yang Dituju

Setelah anda menentukan/mempunyai keinginan/impian untuk kuliah di Thailand, langkah selanjutnya adalah menentukan bidang studi yang dituju. Bidang studi ini kadang tidak ada kaitannya dengan latar belakang jurusan anda pada tingkat pendidikan sebelumnya. Tapi lebih pada ingin jadi apa nantinya anda setelah lulus kuliah.

Jadi, bisa saja anda sekarang kuliah di fakultas pertanian tapi anda ingin mendalami ilmu ekonomi ke depannya karena anda tertarik. Atau anda seorand lulusan ilmu politik tetapi tertarik mempelajari ilmu hukum. Jurusan apa yang akan anda tuju sah-sah saja, tidak ada batasan orang untuk menuntut ilmu. Yang membatasi hanya tempat yang anda tuju mau menerima atau ga. Program studi yang anda tuju memungkinkan menerima saudara tidak.

Bersama Prof. Tom dan teman-teman kuliah di Chula

Contohnya saya sendiri, sewaktu S1 saya ambil jurusan agribisnis namun saat S2 di Chula saya ambil jurusan bisnis manajemen. Saya beralih dari alumni fakultas pertanian menjadi mahasiswa fakultas ekonomi. Alhamdulillaah jurusan yang saya tuju menerima latar belakang pendidikan saya.

Bagaimana dengan pertimbangan memilih jurusan kaitannya dengan masa depan setelah lulus? Contoh misalnya setelah lulus anda bermaksud menjadi dosen, maka anda harus mempertimbangkan linieritas jurusan yang anda ambil. Linieritas bisa berarti jurusan yang anda ambil linier dari S1, S2 hingga S2. Jadi kalau anda alumni S1 akuntansi maka anda ambil jurusan S2 Akuntansi, dan S3 pun akuntansi. Pemahaman terbaru mengenai linieritas dosen dilihat dari pendidikan terakhir dan bidang risetnya. Jadi kalau anda ingin jadi dosen ilmu politik, maka jurusan terakhir anda yang harus diambil adalah ilmu politik meski S1 anda ilmu hukum.

Ketiga, Tentukan KAMPUS Yang Dituju

Di Salah Satu Sudut Kampus Chula

Setelah anda menentukan jurusan yang akan dituju, selanjutnya anda memilih kampus alternatif yang akan anda pilih. Mengapa saya katakan sebagai kampus alternatif?…hal ini karena kita belum bisa memastikan pasti akan diterima di kampus impian. Untuk itu sebaiknya melist daftar alternatif kampus tujuan, mulai dari alternatif pertama, kedua hingga seterusnya. Beberapa ada yang menyarankan setidaknya ada 10 alternatif, atau kalau menurut saya minimal 5 alternatif kampus.

Bagaimana anda memilih kampus-kampus di Thailand yang jumlahnya banyak sekali? silakan anda bisa baca artikel saya tentang “Mengenal Kampus Unggulan di Thailand”.

[BACA: “Mengenal Kampus Unggulan di Thailand”]

Keempat, Persiapkan Persyaratan

Untuk bisa diterima kuliah di kampus manapun di dunia, tentu kita harus bisa memenuhi segala persyaratan masuknya. Secara umumu persyaratan pendaftaran mahasiswa baru relatif sama:

  • Ijazah strata sebelumnya
  • Transkrip Nilai (IPK)
  • Surat rekomendasi, biasanya ada 2 buah: dari pembimbing terdahulu dan atau dari atasan (bagi yang sudah bekerja)
  • Rancangan Proposal Riset (cukup 3-4 halaman)
  • Motivation letter (jika diminta)
  • Persyaratan lain yang diminta, misal copy paspor/ID card, akta kelahiran dll, tergantung kampus masing-masing.

Semua persyaratan itu harus yang dalam bahasa Inggris. Bagaimana jika belum berbahasa Inggris?, anda bisa minta ke kampus/sekolah anda sebelumnya untuk diberikan edisi bahasa Inggrisnya. Kalau tidak ada berarti harus diterjemahkan ke penerjemah tersumpah yang ada di kota anda.

Adapun mengenai recommendation letter, motivation letter secara singkat bisa dijelaskan sebagai berikut:

a. Motivation Letter

Merupakan “surat” atau pernyataan mengenai alasan kuliah, termasuk latar belakang yang menjadikan motivasi untuk melanjutkan kuliah.
b. Recommendation Letter

Merupakan surat/pernyataan rekomendasi dari profesor/pembimbing/atasan/tokoh tentang kita bahwa kita orang yang layak untuk menjadi mahasiswa/mendapatkan beasiswa.

[Baca: Menulis Proposal Riset Yang Menarik]

Kelima, Pembiayaan Kuliah (Beasiswa)

Bagian kelima ini bagian yang cukup berat, karena berhubungan dengan uang…hehe. Bagi mereka dengan latar belakang ekonomi yang mapan, atau dari keluarga yang super kaya tentu ini tidak perlu dipersoalkan. Tinggal mengajukan proposal ke “ADB”, alias ayah dan bunda semua beres tentunya…hehe

Namun bagi orang-orang seperti saya dan mereka yang belum berkecukupan tentu menjadi problem sendiri. Bayangkan untuk biaya masuk TK saja sekarang jutaan, dan semakin tinggi pendidikan biasanya semakin tinggi pula biayanya. Terlebih dengan kuliah di luar negeri. Meski Thailand tidak semahal Singapura namun tentu  demikian tidak usah khawatir, selama kita ikhtiar insyaAllah ada jalan. Saat ini tersedia banyak pilihan beasiswa baik di dalam negeri (LPDP, BPLN DIKTI dll) maupun dari luar negeri (DAAD, Erasmus, ADS dll)

Khusus untuk kuliah di Thailand, pemerintah dan kampus di Thailand juga menawarkan beberapa beasiswa yang bisa diakses oleh orang asing. Khusus mengenai hal ini, silakan baca artikel saya “7 Beasiswa Kuliah di Thailand”

[BACA: “7 Beasiswa Kuliah di Thailand”]

Keenam, DOA

The last but not least, adalah jelas DOA. Agama mengajarkan bahwa “doa adalah senjatanya orang yang beriman”. Oleh karena itu, lengkapi usaha anda dengan doa yang khusuk, penuh harap kepada Tuhan. Kewajiban kita berusaha tapi Tuhan yang menentukan. Dan tentu doa itu harus diiringi dengan amal sholeh agar doa itu tembus ke langit.

Saran saya mengenai doa ini bukan sekedar klise, tp memang sesuatu yang sangat penting. Jujur pengalaman saya dulu bisa diterima beasiswa dan kuliah di Thailand salah satunya barangkali karena doa. Mungkin karena ibarat melangkah, posisi saya waktu itu (saat mendaftar kuliah dan beasiswa ke Thailand) ibarat maju perang sudah tidak ada jalan untuk mundur ke belakang. Karena mau tidak mau saya harus ke Thailand, dan tentu sangat besar harapan saya untuk diterima. Oleh karena itu, saya ingat betul hampir setiap kesempatan saya berdoa memohon kepada Allah untuk dikabulkan rencana saya. Dan tanpa kehendakNya jelas saya tidak bisa. Alhamdulilaah akhirnya terkabul doa saya.

Demikian tips ringkas dari saya bagi yang berencana kuliah di Thailand. Semoga berhasil.

Wassalam

Sa Wat Dee Krub.

Kuliah di Thailand, Sekilas Tentang Sistem, Bahasa Pengantar dan Suasana Pembelajaran

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Beberapa pembaca ada yang menanyakan tentang seperti apa si sistem dan suasana kuliah di Thailand. Mulai dari pertanyaan ringan seperti, suasana kelasnya, seragamnya, sistem pembelajarannya, hingga pertanyaan seputar mahasiswa/i muslim disana saat kuliah. Ini tentu pertanyaan wajar bagi orang asing, terlebih bagi yang belum pernah ke Thailand sana. Pertanyaan terakhir misalnya, tentu menjadi hal yang penting bagi seorang muslim yang akan tinggal dalam waktu lama di negara dengan mayoritas Budha seperti Thailand. Bagaimana menjaga dan mempertahankan iman tentu bukan perkara yang mudah, lha wong di Indonesia yang mayoritas muslimi saja belum tentu bisa…hehe

Untuk itu tulisan saya tentang “Kuliah di Thailand, Sekilas Tentang Sistem dan Suasana Pembelajaran” ini semoga bisa memberikan sekilas gambaran seperti apa atmosfir perkuliahan di Thailand. Sekaligus menyakinkan atau paling tidak mengurangi rasa kekhawatiran bagi seorang muslim yang berniat untuk menuntut di negara Budha ini.

Sistem Perkuliahan

Salah satu suasana kuliah saya di Chula

Pada dasarnya metode atau sistem perkuliahan di Thailand tidak terlalu berbeda dengan Indonesia. Menggunakan sistem Satuan Kredit Semester atau SKS dimana 1 SKS setara dengan 1 jam kuliah tatap muka dengan minimal 16 kali dalam satu semester. Misal suatu mata kuliah dengan kode 306 berarti mata kuliah itu ditempuh dalam waktu 3 jam per pekan, 0 jam (tidak ada) tutorial/praktikum dan 6 jam belajar mandiri.

Selain pembelajaran di kelas, dilakukan juga pembelajaran di luar kelas seperti praktikum, field trip, group project dan lain-lain. Hal ini tidak banyak berbeda dengan perkuliahan di Indonesia.

Kuliah Tanpa Skripsi/Thesis

Salah satu yang menjadi catatan saya tentang kuliah di Thailand adalah tidak ada kewajiban skripsi untuk mahasiswa strata satu (S1) di sini. Ini tentu menjadi hal yang sangat berbeda dengan sistem kuliah di Indonesia. Untuk dapat lulus S1, mahasiswa “cukup” hanya membuat final report, semacam tugas akhir mata kuliah namun bukan hasil penelitian seperti halnya mahasiswa S1 di Indonesia.

Bahkan untuk mahasiwa S2 sekalipun ada pilihan “Non Thesis Option”, artinya bisa lulus S2 tanpa menulis thesis. Biasanya mereka yang mengambil opsi ini harus melakukan “comprehensive exam” atau ujian kompre semua mata kuliah yang perhan diajarkan dan juga melakukan “individual study”, yaitu semacam laporan tugas akhir, namun sekali lagi bukan dari hasil penelitian tapi biasanya dari hasil kunjungan atau field trip.

Sistem Trimester, S2 Selesai 1 Tahun

Sistem Trimester merupakan sistem kuliah dimana dalam satu tahun terdapat 3 semester. Tiap semester terdiri dari 4 bulan perkuliahan. Oleh karena itu dalam satu tahun terdapat 3 semester, dan tentu tanpa libur.

Umumnya sistem Trimester ini berlaku untuk strata 2 atau S2. Dan dengan sistem ini seorang bisa menempuh studi S2 dengan cukup satu tahun saja. Namun tentu dengan jadwal yang padat merayap…hehe. Melalui sistem Trimester ini biasanya mata kuliah diajarkan dalam sistem paket 1 bulan satu mata kuliah. Kuliah pun dilaksanakan hampir tiap hari, dari pagi hingga sore atau (kadang) malam hari.

Kuliah S1 Pakai Seragam

Satu hal yang membuat kaget ketika pertama kali datang ke kampus di Thailand adalah seragam kuliah bagi mahasiswa. Hal ini tentu berbeda dengan di Indonesia dimana mahasiswa bebas memakai baju saat ke kampus atau kuliah, tentu asal tidak melanggar aturan kampus. Misal tidak boleh pakai sandal, kaos oblong atau harus menutup aurat misalnya. Selebihnya terserah. Memang ada mahasiswa yang memakai seragam, tetapi hanya jurusan tertentu seperti kebidanan dan keperawatan.

Mahasiswa Program Internasional EBA Fakultas Ekonomi Chula (Pict. credit eba.econ.chula.ac.th)

Namun berbeda dengan mahasiswa S1 di Thailand, mereka wajib pakai saragam selama mereka kuliah dari semester satu hingga lulus. Seragamnya pun cuma satu, bawahan hitam atasan putih. Laki-laki maupun perempuan sama, bedanya yang perempuan memakai rok (ada cerita joke tersendiri mengenai ini di kalangan mahasiswa Chula, tp off the record…hehe). Bahkan tidak cuma baju yang seragam, sepatu pun seragam. Laki-laki sepatu pantofel warna hitam, perempuan sepatu pantofel warna putih (meski warna hitam pun boleh). Dan tidak cuma sepatu, sabuk pun seragam. Sabuk hitam dengan logo kampus di kepalanya.

Peraturan seragam ini berlaku untuk semua mahasiswa tanpa kecuali. Bahkan bule-bule yang studi S1 di Thailand pun pakai seragam. Kadang pengen ketawa juga lihat bule-bule ini di kampus pakai seragam anak S1. Dan termasuk dari kewajiban seragam ini adalah mahasiwa program exchange 6 bulan.

Namun demikian, selain seragam hitam-putih tadi, untuk beberapa jurusan seperti teknik, keperawatan mempunyai seragam khusus juga selain itu. Bagaimana dengan mahasiswa muslim? Bolehkan memakai hijab? Tentu boleh saja, tidak ada larangan memakai busana muslim untuk perkuliahan di Thailand. Free, silakan saja bebas selama memenuhi aturan.

Bahasa Pengantar Kuliah

Khusus mengenai bahasa pengantar kuliah, saya pernah ditanya oleh pembaca blog saya tentang ini. Jadi, pada dasarnya semua program reguler menggunakan bahasa pengantar bahasa Thailand. Baik itu untuk perkuliahan, tugas dan lain sebagainya.

Sedangkan program Internasional menggunakan bahasa Internasional, umumnya bahasa Inggris kecuali program tertentu seperti Sastra Prancis, Korean Studies umumnya mereka juga menggunakan bahasa sesuai bidangnya. Meski bahasa utama adalah bahasa Inggris.

Class activity saat kuliah di Chula

Pertanyaan yang juga sering ditanyakan adalah, apakah boleh mahasiwa Internasional mendaftar pada program reguler?. Ya tentu saja boleh asal lulus seleksi dan siap dengan konsekwensinya. Yaitu harus bisa dan sanggup mengikuti perkuliahan dengan bahasa pengantar (lisan dan tulisan) dalam Bahasa Thailand….hehe. Artinya kudu bisa bahasa Thai baik lisan maupun tulisan. Siap dengan tantangan ini…hehe

Tapi jangan salah, saya punya teman orang Indonesia yang kuliah di Thailand dan ambil program reguler dengan bahasa pengantar bahasa Thai. Bahkan saat ini setelah lulus S3 beliau menjadi dosen di salah satu kampus top di Thailand. Jadi bukan hal mustahil atau impossible kan…hehe

Khusus mengenai Bahasa Thailand, insyaAllah saya akan tulisakan tersendiri topik ini. Meski saya tidak pandai berbahasa Thai, tapi ada pengalaman saya dalam belajar maupun ngomong bahasa Thai, setidaknya saya bisa bertahan hidup disana sampai lulus…hehehe

Food Court dan Student Lounge

Student Lounge – tempat mahasiswa kumpul atau mengerjakan tugas bersama

Salah satu yang menjadi khas dari kampus di Thailand (setidaknya dari semua kampus yang pernah saya kunjungi) hampir di tiap gedung, biasanya di lantai dasar, selalu ada student lounge. Ruang terbuka berisi bangku dan meja tempat mahasiswa kumpul baik sekedar bercengkrama setelah kuliah atau untuk mengerjakan tugas kuliah bersama.

Bagaimana dengan kantin atau food court. Seperti halnya student lounge, hampir di tiap gedung selalu ada food court. Biasanya juga di lantai dasar. Minimal dari deretan 3 gedung, ada 1 lantai yang berisi food court berjajar mulai dari jualan juice, minuman sampai makanan beragam jenis, nasi, pad thai, som tam dan lainnya.

Hubungan Dosen-Mahasiswa

Seperti saya tulis di salah satu tulisan saya tentang “Mengenal Kultur dan Karakter Orang Thailand”, dosen mempunyai posisi yang tinggi dalam penghormatan bagi masyarakat Thailand. Dosen dan guru, mempunyai strata dibawah biksu dalam hal penghormatan. Oleh karena itu, mahasiswa di Thailand sangat menghormati sekali dosennya. Mereka akan memberikan “wai” atau salam penghormatan yang tidak sama ketika mereka bertemu orang lainnya.

Mahasiswa Muslim di Thailand

Bagian terakhir dari artikel ini adalah tentang kehidupan mahasiswa muslim di Thailand. Ini sekaligus menjawab pertanyaan beberapa orang mengenai bagaimana seorang muslim saat kuliah di Thailand yang mayoritas beragama Budha?. Bagaiamana untuk sholat dan bagaimana pula mencari makanan halal di kampus-kampus Thailand.

Bagi anda mahasiswa muslim, tidak usah khawatir mengenai kedua hal tersebut. Hampir semua kampus mempunyai mushola atau prayer room. Bahkan di beberapa kampus ada di tiap fakultas. Seperti di kampus saya Chulalongkorn University, dari kampus menyediakan ruangan untuk mahasiswa muslim. Misal di fakultas teknik, fakultas ekonomi, fakultas ilmu politik dan lainnya. Mulai dari hanya sekedar ruangan kecil bahkan sampai yang permanen sengaja disediakan untuk prayer room seperti di Perpustakaan Pusat Chula dan Fakultas Teknik Chula.

Salah satu kedai halal di Kantin Fakultas Ekonomi Chula

Bagaimana dengan kantin halal?. Meski tidak banyak (maklum muslim minoritas), tapi hampir ada di tiap kampus yang menyediakan makanan halal. Paling tidak dari deretan food court yang ada selalu ada yang menyediakan makanan halal. Untuk dikampus saya di Chula misalnya, food court halal ada di kantin fakultas ekonomi, fakultas science, fakultas pendidikan dan food court asrama mahasiswa.

Demikianlah sekilas tentang sistem pendidikan tinggi atau gambaran kuliah di Thailand. Semoga bisa menjadi gambaran  bagi anda yang akan melanjutkan studi di sana atau berencana ingin kuliah di Thailand. Sudah siap mencoba…sampai jumpa dengan mereka

Mahasiswa S1 Chulalongkorn University dengan Seragamnya (Pict. by http://www.csus.edu)

 

Petchburi Soi Jet, Kampung Muslim dan Surga Makanan Halal di Bangkok

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Tulisan tentang “Petchburi Soi Jet, Kampung Muslim dan Surga Makanan Halal di Bangkok” boleh jadi merupakan salah satu tulisan saya yang tertunda bertahun-tahun lamanya. Ya, ini tulisan yang sudah saya rencanakan bahkan sejak awal saya menulis di blog sekitar tahun 2013 lalu. Meski pada waktu itu saya sendiri belum tinggal di kawasan ini, namun karena hampir tiap hari (terutama saat jadwal sholat di Masjid Darul Aman) saya ke sini, jadi sudah seperti daerah sendiri.

Hingga akhirnya pada pertengahan tahun 2014 saya “hijrah” ke sini, setelah “digusur” dari Athen Apartment di Soi 11 (Soi Sip Et) yang direnovasi untuk dijadikan hotel. Sejak saat itulah saya sekeluarga “resmi” menjadi “warga” Soi Jet, hingga saya lulus kuliah dan pulang kampung ke Indonesia pada awal tahun 2015.

Asal Nama Petchburi Soi Jet baca selanjutnya