Category Archives: Bahasa Inggris

Tips Menulis Paper/Artikel Ilmiah Dalam Bahasa Inggris Part 3: Reporting Verb Untuk Mengutip Pendapat dan Memaparkan Hasil Penelitian

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Tulisan ini merupakan bagian ketiga/Part 3 (terakhir) dari seri artikel saya mengenai “Tips Menulis Paper/Artikel Ilmiah Dalam Bahasa Inggris”. Setelah di Part 1 (bagian pertama) saya berbicara lebih pada pengantar dan pemilihan frase yang digunakan pada tiap bagian tulisan, selanjutnya pada Part 2 lebih fokus pada pemilihan tenses atau bentuk susunan kalimat. Pada bagian akhir ini Part 3 lebih fokus pada bagaimana memilih dan menggunakan “reporting verb” dalam tulisan ilmiah.

Reporting verb banyak digunakan pada academic writing (dan juga academic speaking) saat kita mengutip pendapat/mensitasi suatu tulisan/referensi. Problemnya adalah, pekerjaan ini (mensitasi atau mengutip referensi) merupakan hal yang pasti dan banyak dilakukan dalam suatu tulisan, sehingga kadang penulis sering mengulang menggunakan istilah yang sama atau bingung menggunakan reporting verb yang mana karena saking banyaknya jumlahnya.

Hal lain yang juga kadang tidak dipahami dalam menggunakan reporting verb pada tulisan ilmiah berbahasa Inggris/academic writing adalah derajat penekanan yang membedakan satu reporting verb dangan lainnya. Misal ketika penulis ingin menyampaiakn kutipan author yang bersifat menjelaskan dengan yang bersifat meyakinkan, atau antara hasil yang sudah fix dengan yang masih dugaan. Disinilah perlunya memahami penggunaan reporting verb yang tepat (insyaAllah dibahas pada bagian akhir artikel ini).

Berikut penjelasan mengenai penggunaan reporting verbs yang merupakan modifikasi dari artikel VERBS TO INTRODUCE QUOTATIONS AND PARAPHRASES (sebagian saya copy paste, edit, tambahkan catatan dan modifikasi semampunya). Selamat membaca…

LIST REPORTING VERBS

Sebagaimana saya sampaikan sebelumnya, pengutipan pendapat atau hasil penelitian orang lain dalam tulisan ilmiah merupakan hal yang tidak dapat dihindarkan atau bahkan suatu keharusan untuk menguatkan argumen atau mendukung hasil atau pendapat kita sebagai penulis. Oleh karena itu terkadang penulis kesulitan memilih atau kadang kurang pengetahuan sehingga cenderung mengulang menggunakan satu jenis reporting verb yang sama untuk beberapa kutipan.

Untuk mencega repetisi atau pengulangan, berikut saya cantumkan list/daftar reporting verbs yang umumnya digunakan. Susunan ini ditulis secara alphabetical order untuk memudahkan. Silakan cek kamus untuk detai arti/maknanya.

acknowledge deal with find maintain see
add define form negate separate
admit demonstrate focus on note show
advise deny give example object to stand for
advocate describe go on to say observe state
agree develop identify offer oppose stress
analyze disagree imply point out suggest
argue discuss include provide support
assert dispute incorporate put forward talk about
believe distinguish indicate question think
claim emphasize insist quote tend to
comment endeavour interpret refer to treat
compare examine introduce refute try to
conclude expand on judge reject use
confirm explain justify report underline
concentrate explore link represent underscore
continue express list respond view
criticize feel locate reveal write

Adapun mengenai penggunaan pada kalimat, berikut daftar reporting verb sesuai dengan derajat penekanan pada kalimatnya:

Verbs untuk menunjukkan posisi NEUTRAL:

according to comment describe note state
acknowledge define discuss point out

Verbs untuk menunjukkan the AUTHOR’S POSITION pada suatu bahasan:

argue claim emphasize recommend suggest
assert defend maintain reject support
challenge doubt put forward refute

Verbs untuk menunjukkan what the AUTHOR’S THINKING:

assume consider recognize
believe hypothesize think

Verbs untuk menunjukkan author is PROVING SOMETHING:

confirm prove validate
establish substantiate verify

Verbs untuk menunjukkan what the author DID:

analyze estimate examine investigate study
apply evaluate find observe

Verbs untuk menunjukkan slight uncertainty saat membuat suatu kesimpulan:

Pada tulisan ilmiah, penulis atau peneliti perlu SANGAT HATI-HATI saat melaporkan hasil penelitian atau membuat suatu kesimpulan dari pekerjaan yang dilakukan. Termasuk bentuk KEHATI-HATIAN adalah dalam pemilihan kata-kata atau bahasa yang digunakan untuk menunjukan realita dan pesan yang benar dan valid pada kalangan akademik.

Oleh karena itu, perlu dijelaksan derajat kepastiannya, they often need to be very clear about the level of certainty they can adopt about the conclusions and observations. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan beberapa bentuk verb atau frasa seperti berikut ini:

Modals: may, might, can, could, would, should
Verbs: seem to, appear to, believe, assume, suggest, estimate, tend to, think, indicate
Adjectives and adverbs: possible, probable, likely, unlikely, perhaps, possibly, probably

Demikian, semoga bermanfaat.
……………………………………………….

Bogowonto Train, Selasa 13 Agustus 2019. Ditulis dalam perjalanan dari Purwokerto ke Jogja diatas Kereta Api Bogowonto.

References:

  1. Siti Nurjannah. 2019. Materi Ceramah Academic Writing (catatan yang disampaikan). Fakultas Pendidikan dan Bahasa UMY
  2. Mubarak Ahmed. Verbs To Introduce Quotations And Paraphrases. METU School of Foreign Languages Academic Writing Center
  3. Fei Yu Chuang, 2017. Reporting Verbs. Warwick Univeristy accessed from https://warwick.ac.uk/fac/soc/al/globalpad/openhouse/academicenglishskills/grammar/reportingverbs/
  4. Feature image credit to http://www.mrvoip.com
Advertisements

Tips Menulis Paper/Artikel Ilmiah Dalam Bahasa Inggris Part 2: Memilih TENSES dalam Academic Writing

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Ini merupakan bagian kedua dari artikel saya mengenai “Tips Menulis Paper/Artikel Ilmiah Dalam Bahasa Inggris”. Pada tulisan sebelumnya di Part 1 (bagian pertama) lebih pada pengantar dan pemilihan frase yang digunakan pada tiap bagian tulisan, pada Part 2 ini akan lebih fokus pada pemilihan tenses atau bentuk susunan kalimat.

Ya, tenses bagi yang belajar bahasa Inggris kadang jadi “momok yang menakutkan”. Gampang-gampang susah istilahnya (sy gunakan ungkapan ini biar yang banyak gampangnya…hehe). Untuk itu saya coba menyampaikan apa yang saya dapatkan mengenai tenses ini, tentu bagian dari pembelajaran saya juga.

Penggunaan Tenses

Berbicara mengenai tenses dalam bahasa Inggris, ada setidaknya 16 bentuk tenses (mungkin ini yang kadang bikin momok…hehe). Namun demikian, menurut The Writing Center University of Carolina dalam academic writing Present simple, past simple, and present perfect verb tenses merupakan tenses yang paling sering digunakan dalam academic writing (sekitar 80%). Untuk itu, tulisan ini fokus pada pemilihan/penggunaan tenses itu.

Adapun mengenai pada bagian apa digunakan di tubuh tulisan, pada umumnya paper menggunakan:

  1. Simple present tense (paling banyak)
  2. Simple past tense (methodology)
  3. Present prefect tense
  4. Future tense (sedikit, biasanya di akhir)

Berikut penjelasan dari masing-masing tenses yang merupakan modifikasi dari artikel “The Three Common Tenses Used in Academic Writing” dari The University Writing Center George Mason University (sebagian saya copy paste, tambahkan catatan dan modifikasi dari references no.3 (anonym) .

PRESENT SIMPLE TENSE

The present simple tense is the basic tense of most academic writing. Specifically, the present simple is used:

  • To “frame” your paper. In your introduction, the present simple tense describes what we already know about the topic; in the conclusion, it says what we now know about the topic and what further research is still needed.
  • To make general statements, conclusions, or interpretations about previous research or data, focusing on what is known now (The data suggest… The research shows…).
  • To cite a previous study or finding without mentioning the researcher in the sentence:

“The dinoflagellate’s TFVCs require an unidentified substance in fresh fish excreta” (Penrose and Katz, 330).

  • To introduce evidence or support:

“There is evidence that…”

PAST SIMPLE TENSE

Past simple tense is used for two main functions in most academic fields:

  1. To introduce other people’s research into your text when you are describing a specific study, usually carried out by named researcher. The research often provides an example that supports a general statement or a finding in your research.
  • …customers obviously want to be treated at least as well on fishing vessels as they are by other recreation businesses. [General claim]
  • De Young (1987) found the quality of service to be more important than catching fish in attracting repeat customers. [Specific supporting evidence]  
  1. To describe the methods and data of your completed experiment/research.
  • We conducted a secondary data analysis…
  • Statistical tests and t-student test were used for statistical analysis.
  • The control group of students took the course previously…
  • The researcher distributed questionnaires to 100 respondents, and ……..
  • Interview was conducted to collect data.
    The data were analyzed using T-test.
  • The 15,562 students who identified themselves as smokers were included in this study.

PRESENT PERFECT TENSE

The present perfect is mostly used for referring to previous research in the field or to your own previous findings. Since the present perfect is a present tense, it implies that the result is still true and relevant today.

The subject of active present perfect verbs is often general: “Researchers have found,” “Studies have suggested.”

Look at the following examples:

Some studies have shown that girls have significantly higher fears than boys after trauma (Pfefferbaum et al., 1999; Pine &; Cohen, 2002; Shaw, 2003). Other studies have found no gender differences (Rahav and Ronen, 1994). (Psychology)

A new topic can be introduced with this structure:

There have been several investigations into…

The present perfect forms a connection between the past (previous research) and the present (your study). So, you say what has been found and then how you will contribute to the field. This is also useful when you want to point out a gap in the existing research.

Penggunaan present perfect juga sebagai jembatan dari past tense ke present. Menggunakan present perfect maka subjek yang disampaikan “must to be true”, sudah terbukti benar.

  • Penggunaan passive past tense, jadi lebih fokus pada konten dari pada pada peneliti.
  • Akan terhindar dari penyebutan “the researcher…”

More recently, advances have been made using computational hydrodynamics to study the evolution of SNRs in multidimensions…

However, a similar problem exists in the study of SNR dynamics. [gap] (Astrophysics)

The passive voice is common in the present perfect tense to describe previous findings without referring directly to the original paper: “…has been studied; it has been observed that…” You should usually provide citations in parentheses or a footnote.

You can also use the present perfect tense to tell the history of your idea (what “has created” it?), describe the results of your research (“we have developed a new…”), or to draw conclusions (“this has led us to conclude that…”).

Demikian, semoga bermanfaat.

……………………………………………….

Bogowonto Train, Selasa 13 Agustus 2019. Ditulis dalam perjalanan dari Purwokerto ke Jogja diatas Kereta Api Bogowonto.

References:

  1. The Writing Center of University of Carolina. VERB TENSES. Accessed from: https://writingcenter.unc.edu/tips-and-tools/verb-tenses/
  2. “The Three Common Tenses Used in Academic Writing” dari The University Writing Center George Mason University
  3. Anonym. TENSES FOR ACADEMIC WRITING. Modified from: https://writingcenter.unc.edu/verb-tenses/
  4. Siti Nurjannah. 2019. Materi Ceramah Academic Writing (catatan yang disampaikan). Fakultas Pendidikan dan Bahasa UMY
  5. Feature image credit to iamdeewallace.com

Tips Menulis Paper/Artikel Ilmiah Dalam Bahasa Inggris, PART 1: Useful Phrases for Academic Writing From Introduction to Conclusion

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya tentang Menulis Proposal Riset Yang Menarik – How to Write a GOOD and APPEALING Research Proposal kali ini saya lengkapi dengan bahasan tentang bagaimana menulis paper dalam bahasa Inggris.Tentu bisa juga digunakan untuk penulisan proposal riset, karena intinya adalah bagaimana menulis ilmiah menggunakan bahasa Inggris, dan proposal merupakan atau bahkan sangat perlu untuk memperhatikan istilah, kaidah yang benar dalam penulisan ilmiah, khususnya bahasa Inggris

Menulis artikel/paper berbahasa Inggris merupakan suatu keniscayaan – kalau tidak mau dianggap – sebagai suatu kewajiban bagi mahasiswa, dosen dan peneliti saat ini. Terlebih untuk yang kuliah di luar negeri. Bukan sekedar karena mengejar paper masuk SCOPUS atau Web of Science (salah satu indexing jurnal terkenal), namun sebagai upaya agar hasil penelitian yang dilakukan bisa dibaca dan dimanfaatkan oleh semua orang, di seluruh dunia. Sehingga kemanfaatan dari suatu penelitian akan lebih banyak yang merasakan.

Tulisan ini merupakan “oleh-oleh” dari kegiatan “Faculty Science Camp” yang dilaksanakan LP3M UMY di Fakultas Pertanian pada hari Kamis, 11 Juli 2019. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kemampuan penulisan ilmiah tertama dalam bahasa Inggris bagi dosen/peneliti UMY, khususnya dosen Fakultas Pertanian tempat saya mengabdi.

Fokus pada tulisan ini adalah pada penggunaan bahasa Inggrisnya, jadi bagaimana menulis hasil penelitian menggunakan bahasa Inggris ilmiah. Mengenai tips penulisan konten paper, itu hal lainnya. Jadi disini penekanannya adalah bagaimana menggunakan bahasa Inggris ilmiah yang tepat untuk menulis paper ilmiah. Maklum, karena bahasa Inggris bukan bahasa ibu dan bukan bahasa resmi sehari-hari orang Indonesia, terkadang pengaruh tata bahasa Indonesia masih sangat berasa di tulisan-tulisan orang Indonesia (Indonesian English atau Javanese English and even Ngapak English…hehehe).

Ada 3 bagian tulisan mengenai topik ini (Part 1, Part 2 dan Part 3), mulai dari pendahuluan (yaitu di postingan ini/Part 1) yang berisi mengenai dasar-dasar bagian suatu artikel ilmiah beserta frasa/ungkapan bahasa Inggris yang umumnya dipakai di artikel ilmiah. Misalnya bagaimana menuliskan kalimat pembuka untuk bagian “Introduction“, atau kalimat yang digunakan untuk mengungkapkan bagian “methodology” secara detail disertai contohnya. Part 2 lebih pada bagaimana memilih tenses yang digunakan pada tulisan ilmiah. Ya, tenses kadang menjadi momok bagi yang sedang belajar Bahas Inggris, maklum ada setidaknya 16 tenses. Namun apa semua harus dikuasai untuk menulis paper?…silakan baca detailnya di Part 2. Sedangkan Part 3 atau terakhir khusus berbicara tentang “reporting verb”, ini juga salah satu yang perlu sekali dipahami saat menulis dalam bahasa Inggris. Misal literature review atau pembahasan dimana perlu mengutip tulisan orang lain yang kadang jumlah artikelnya sangat banyak sehingga terjadi pengulangan kata seperti:

“X states that….”, “Y says that….”, or “It is said that….”

Disclaimer: tulisan ini merupakan hasil catatan saya dan sebagian copy materi dari pembicara (info pembicara lihat references). Saya tuliskan di sini bukan berarti saya sudah mahir menulis paper berbahasa Inggris, saya juga masih dalam tahap belajar (Tolong jangan baca paper saya ya, jadi malu kalau ada yg baca paper berbahasa Inggris saya…langsung sitasi sj…hehehe).

Oke, kita lanjut ke inti dari artikel ini saja. Sebelumnya saya akan membahas tulisan ini bertahap sesuai tahapan dalam penulisan paper. Mulai dari abstract, introduction, method, result and discussion and conclusion (umumnya sistematika paper).

ABSTRACT

Abstract merupakan pengantar dan sekaligus “inti” dari suatu tulisan ilmiah. Dari abstrak kita bisa tahu apa sebenarnya keseluruah paper itu berbicara. Setidaknya ada 4 poin penting dalam abstrak:

  1. Goals/aims/purposes (reasearch questions)
  2. Methodology
  3. Results
  4. Conclusion

Keywords
Di akhir abstrak umumnya dituliskan keywords/kata kunci dari paper/abstrak tersebut. Keyword ini adalah “inti dari inti” (pinjam isitilah Pak Dul…hehe) dari suatu paper. Jadi kalau abstrak itu inti dari paper, kalau inti itu “diperas lagi” menjadi keywords. Ada juga yang berpendapat bahwa keywords berfungsi untuk membantu pada pencarian di mesin pencari/search engine. Sehingga kalau orang mau mencari paper kita di internet, kata kunci apa yang digunakan. Setidaknya ada 3 hal penting yang menentukan suatu kata masul list keywords paper, yaitu :

  • Merupakan variable significant in researchs
  • Terdiri antara 3-6 keywords
  • Untuk frasa (rangkaian istilah lebih dari satu kata) tidak masalah, selagi itu adalah istilah.

Present or Past tense?

Salah satu hal yang kadang ditanyakan pada penulisan abstrak adalah penggunaan bentuk Present atau Past tense. Mengenai hal ini, BOTH ACCEPTED, alias keduanya bisa digunakan pada penulisan abstrak.

Contoh penggunaan tenses dalam abstrac (Nurjannah, 2018)

Contoh Abstract:

Adolescent Smokers’ Perceived Risk of Cigarette Use

Little is known about risk perceptions of adolescents already engaged in risk behaviors. This study aims to  quantify adolescent smokers’ perceived risk of smoking and to explore the association of demographic and  social characteristics with this perceived risk. Data were obtained from the 2007 Minnesota Student Survey,  administered to a total of 136,549 students in grades 6, 9, and 12. The 15,562 students who identified  themselves as smokers were included in this study. The association between perceived risk of smoking and  demographic and social characteristics was explored through bivariate and multivariate analyses. Among all  smokers, 10.0% perceived no risk, 14.8% perceived slight risk, 29.3% perceived moderate risk, and 45.9%  perceived high risk of smoking. Perceptions of smoking risk varied significantly across demographic and  social groups in bivariate and multivariate analyses. Holding lower perceptions of smoking risk was associated with being younger, male, African American, receiving free or reduced-price lunch, having a lower GPA, more frequent cigarette use, friends’ approval of smoking, and lack of information about drugs and alcohol. Sources of drug information associated with higher perceived risk of smoking were friends/peers, school, and media. Adolescent smokers’ perceived risk of smoking varied from no to high risk. Variations in smoking risk perception across demographic and social groups point to potential targets for smoking education as well as strategies likely to increase the effectiveness of smoking education.

INTRODUCTION

Introduction sesuai namanya adalah bagian pendahuluan atau awal suatu tulisan. Setelah menulis abstrak, maka bagian inilah yang mengawali suatu paper. Umumnya berisi hal-hal berikut:

  1. General introduction
  2. Problem definition
  3. Gaps in the literature
  4. Research questions
  5. Aims & objectives
  6. Significance and advantages of paper

Useful Phrases for GENERAL INTRODUCTION

Berikut ini beberapa frase atau kalimat dalam bahasa Inggris yang bisa digunakan untuk mengawali atau menulis dalam introduction:

  • Research on __ has a long tradition
  • For decades, one of the most popular ideas in __ literature is the idea that____
  • Recent theoretical developments have revealed that __
  • A common strategy used to study __ is to __
  • This research constitutes a relatively new area which has emerged  from __
  • These approaches have been influential in the field because of __
  • In the past several decades, __ have played an important  role in __
  • There are growing appeals for __
  • This is the field of study that deals with __
  • Most of the theories of __ are however focused on explaining __

Useful Phrases for PROBLEM DEFINITION

  • A challenging problem which arises in this domain is __
  • These problems are difficult to handle __
  • This is typically a complex problem __
  • A well-known problem with __  is that it does not take into account the __
  • One of the problems is that it considers only the __
  • The key problem with this technique is __
  • This appears as a more straightforward problem compared to the __
  • This turns out to be even more problematic because __
  • The problem with such an implementation is that __
  • This poses some problems when carrying out the __
  • This problem  has attracted more attention in the field of __

Useful Phrases for LITERATURE GAPS

  • There is no previous research using __ approach.
  • As far as we know, no previous research has investigated __
  • There has been less previous evidence for __
  • Other studies have failed to __
  • To our knowledge, no study has yielded __
  • No study to date has examined __
  • Only a few studies have shown __
  • However, __ has rarely been studied directly.
  • Moreover, few studies have focused on __
  • In particular no study, to our knowledge, has considered __

Useful Phrases for PROBLEM SOLUTION

  • There are many alternative methods available for solving these problems.
  • In order to rectify the problem of __
  • A solution to this problem is proposed in __
  • One approach to solve this problem involves the use of __
  • A number of works have shown that this problem can be overcome by using __
  • A large number of alternative approaches have been developed over the last few decades to
  • To overcome this problem, in the next section we demonstrate __
  • One way to overcome this problem is to __
  • To overcome this problem, some approaches have been made __
  • One way of recovering from this problem could be to __
  • This has been proposed to surmount the problems caused by __
  • A different approach to the traditional problem is given in __
  • A whole range of different approaches to the problem are available.
  • These techniques have potential to solve contemporary problems in __

AIMS or OBJECTIVES

Berikut ini frase yang sering digunakan untuk mengungkapkan tujuan dari penelitian

  • The aim of the experiment is to compare __
  • Our research aims at finding a solution for this challenging problem of  __
  • There is no overall goal, apart from __
  • We examine some previous work and propose a new method for __
  • There are too many simultaneous goals making it difficult to __
  • One of the major aims of this work was to create __
  • The main objective is to investigate methods for improving __
  • The objectives can be restated in the light of __
  • The objective is to devise and implement a system for __
  • The objectives were partially met by developing a method to __
  • The objective is to demonstrate the feasibility of __
  • One of the objectives is to improve the __

METHODOLOGY

Methodologi umumnya merupakan suatu bagian dari tulisan/paper/artikel yang:

  1. Explain the study design (survey, interview, focus groups, etc.)
  2. Explain procedures for data collection (primary or secondary) and include how and why you chose the data source
  3. Identify the study population (ex: age, gender, and other characteristics) & give rationale
  4. Explain the analytical methods used.
  5. Explain why the analyses you carried out were appropriate for your study design.

Useful Phrases for Describing what was done and how it was done:

  • We started by investigating …..
  • We designed a new technique for ……
  • We used a new approach.
  • These experiments were carried out to find out …..
  • In order to verify the validity of the ….. method, we carried out several experiments.
  • All the tests/measurements were carried out at room temperature.
  • The (signals) were measured before and after …..
  • To illustrate ….., a simulation was performed.
  • The ….. analysis was performed in order to ….. We checked for the presence of …..
  • The increase in ….. was not caused by/was not due to a decrease in ……
  • The (optimized condition) was obtained from ….

Useful Phrases for Data Collection:

  • There were __ participants in this sample.
  • Participants first provided informed consent about __
  • We performed additional data collection with __
  • For this study, we analyzed the data collected from __
  • Data were collected and maintained by __
  • For this purpose, the researcher employed survey data collected from __
  • The analyzed data included: __
  • The procedures of handling the data followed the suggestions of __
  • Subsequently, __ were then used to elicit further data.
  • Survey data were collected from __
  • The sample was heterogeneous with respect to __
  • The sample size in this study was not considered large enough for__
  • The sample of respondents included __

RESULT

Result of the research commonly:

  1. Presents the clear, concise, and comprehensive answer to your research question
  2. Presents any other findings that are meaningful and very aligned to your research  question
  3. Uses text, tables, and graphs
  4. Tries not to repeat information in your text that is shown in your tables and figures; instead summarizes the findings from each table and figure.
  5. Does not include tables listing each participant and their data points – that is your  database, not your results!

Useful Phrases for Writing Result:

  • From the short review above, key findings emerge: __
  • This is an important finding in the understanding of the __
  • A further novel finding is that __
  • Together, the present findings confirm __
  • The results demonstrate two things.  First, __. Second,  __
  • The results of the experiment found clear support for the __
  • This analysis found evidence for __
  • Planned comparisons revealed that __
  • Our results casts a new light on __
  • This section summarizes the findings and contributions made.
  • This gives clearly better results than __
  • From the results, it is clear that __

Useful Phrases for Describing Charts, Figures, and Graphs:

  • Fig. 2 shows/presents/depicts/outlines/illustrates/represents …..
  • Fig. 3 gives an example of …..
  • Such cases are depicted in the following figures.
  • This is illustrated in Fig. 5.
  •  ….. is/are shown/given in Figs. 3 and 4.
  •  ….. can be found in Fig. 8.
  • As can be seen from Figs. 5 and 3, …..
  •  As shown in Fig. 1, …..
  • As follows from the figures shown above, …..
  • From this figure it can be seen that …..
  • For the resulting plot, see Fig. 2.
  • Table II summarizes …..
  • The graph/diagram suggests/indicates that …..

DISCUSSION

Sedikit berbeda dengan resul, pada discussion umumnya berisi:

  1. Describes how your results fit or do not fit with previous research studies
  2. Emphasizes the new and important aspects of your project, and the conclusions
  3. Describes the meaning and implications of your results. Provide sufficient detail to support your interpretation.
  4. Discusses the strengths and limitations of the study (ex: sample size)
  5. Explains how your conclusions could lead to follow-up research
  6. Outlines any unanswered questions related to the project and explain how those could be addressed in a subsequent study
  7. Discusses ways in which you might improve upon or modify the study to move the results forward

Useful Phrases for Writing Comparison with Prior Studies:

  • These results go beyond previous reports, showing that __
  • In line with previous studies __
  • This result ties well with previous studies wherein __
  • Contrary to the findings of __ we did not find __
  • They have demonstrated that __
  • Others have shown that __ improves __
  • By comparing the results from __, we hope to determine __
  • However, in line with the ideas of __, it can be concluded that __
  • When comparing our results to those of older studies, it must be pointed out that __
  • We have verified that using __ produces similar results
  • Overall these findings are in accordance with findings reported by __

Useful Phrases for Writing Limitation of the work:

  • Because of the lack of __ we decided to not investigate __
  • One concern about the findings of __ was that __
  • Because of this potential limitation, we treat __
  • The limitations of the present studies naturally include __
  • Regarding the limitations of __, it could be argued that __
  • Another limitation of this __
  • This limitation is apparent in many __
  • Another limitation in __ involves the issue of __
  • The main limitation is the lack of __
  • One limitation is found in this case.
  • One limitation of these methods however is that they __
  • It presents some limitations such as __

Demikian, semoga bermanfaat.

Senja Utama Train, Jumat 09 Agustus 2019. Ditulis di dalam Kereta “Senja Utama Yogya” pada perjalanan dari Yogyakarta ke Purwokerto.

References:

  1. Siti Nurjannah. 2019. AN INTRODUCTION TO RESEARCH ARTICLE WRITING. Fakultas Pendidikan dan Bahasa UMY
  2. Wordvice. 2019. Which Tense Should Be Used in Abstracts: Past or Present?
  3. Morley, John. 2014. Academic Phrasebank retrieved from http://www.kfs.edu.eg/com/pdf/2082015294739.pdf
  4. Ref n Write. 2017. Academic Phrases for Writing Results & Discussion Sections of a Research Paper
  5. Feature image credit to scienceforstudent.org

Menulis Proposal Riset Yang Menarik – How to Write a GOOD and APPEALING Research Proposal

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Tulisan saya kali ini merupakan materi yang saya dapatkan dalam acara workshop tentang persiapan kuliah ke luar negeri dimana salah satu pembicaranya adalah Profesor John Pariwono dari KEMENRISTEKDIKTI (beliau juga reviewer dan tim seleksi beasiswa DIKTI). Saya tulis disini selain sebagai catatan saya juga semoga bisa berbagi dengan semua yang berencana kuliah ke luar negeri. Jadi tulisan ini merupakan catatan saya, bukan karena saya sudah bisa membuat proposal riset yang baik, tetapi merupakan bagian catatan belajar saya dalam membuat proposal riset yang menarik. Dan karena ini saya tulis sambil mendengarkan penyampaian materi, maka ada beberapa catatan yang mungkin tidak lengkap (antara nulis dan dengerin ceramah…hehe). InsyaAllah di lain kesempatan akan saya lengkapi.

Sebagai pembuka, perlu digaris bahawi bahwa riset proposal harus dipersiapkan jauh-jauh hari agar “GOOD” and “APPEALING“, bagus dan menarik. Itulah dua hal penting dari pembahasan ini.

What is research proposal?

Riset proposal adalah kerangka dari ide penelitian kita, the skeleton of idea. What is idea? Ide salah satunya bisa didefinisikan sebagai sesuatu yang belum dipikirkan oleh orang lain. Lantas ide apa yang bisa diajukan untuk proposal?, kalau proposal riset itu untuk studi S3 tentu ide yang hanya bisa dilakukan oleh mahasiswa S3, kalau ide itu bisa dilakukan oleh mahasiswa S1 maka ide itu tidak “APPEAL” untuk menjadi riset proposal S3.

Sekedar gambaran, untuk membedakan tingkatan riset S1, S2 dan S3 bisa dlihat dari:

  • S1: MENDESKRIPSIKAN secara sistematis tentang suatu keilmuan/peristiwa terjadi yang ada
  • S2: Mendiskripsikan dan juga bisa MENGATAKAN KENAPA ITU TERJADI
  • S3: Mendiskripsikan dan menyampaikan alasan kenapa terjadi dan menyampaikan SESUATU YANG BARU yang belum ada sebelumnya.

Ide itu harus betul-betul dikaji, karena kalau salah merancang ide maka akan salah juga hasilnya. Contoh gambar kerangka anjing salah kepala orang.

A GOOD Phd Research Proposal

A good research proposal start with:

  1. a GOOD Research questions or
  2. a GOOD analytical question

A good research proposal CONTAIN:

  1. A CLEAR research questions
  2. Highlight it ORIGINALITY and/or significance
  3. Explanation how it adds to/develop existing literature in the field
  4. Persuasion to potential supervisors of the importance

Intinya riset proposal yang GOOD adalah adanya KONTRIBUSI keilmuan yang baru, meski hanya sedikit.

STRUCTURE

Secara umum, proposal riset terdiri setidaknya beberapa aspek:

  1. Name of Author (nama di depan setelah judul)
  2. Title
  3. Abstract
  4. Background
  5. Objectives
  6. Research Question/Hyphothesis
  7. Methodology
  8. Expected Result
  9. Time Frame
  10. References

TITLE

The most important part of a research/paper
Jangan ada singkatan, karena belum tentu pembacanya ada dibidang yang sama
Maksimal 16 kata (biasanya di jurnal -jurnal terindeks)

Title does matter : contoh kesalahan judul buku di Hong Kong

A good research title:

Predict
Differentiate the paper with other

ABSTRACT

Abstract is not summary of the research but a RESUME of basic issue of the proposal.

INTRODUCTION

  • Explanation of why choosing to research problem A or issue B
  • Demonstrate the author
  • Menggambarkan kemampuan penulis pada bidang yang diteliti
  • Kalau bisa mensitasi paper sendiri (jurnal), untuk menunjukkan penulis berpengalaman pada bidang yang ditulis.

A good introduction

  • The first paragraph must be catchy, interesting and interesting and motivating the reader
  • Should also higl
  • Topik bisa bertahan dalam 3 tahun ke depan, karena kalau dalam 3 tahun ada yang sudah menjawab research question maka sudah tamat topiknya.

AIMS and OBJECTIVES

Objectives is the breakdown of the aims (Aim lebih umum lalu dipecah menjadi beberapa komponen objectives). Menurut Kevin Lyons

  1. Briefly and concisely
  2. Logical sequence
  3. Realistic, can be achieved whithin expected time frame (ex: berapa suhu api neraka)
  4. Static, not a moving target

Intinya objective harus mengerucut, tiap poin satu target.

LITERATURE REVIEW

Intinya adalah sejauh mana peneliti memahami perkembangan topik yang sedang diteliti. Untuk penelitian S3 literature yang disitasi adalah yang terbaru, kalau ada benar-benar terbaru. Misal sekarang 2019 maka setidaknya ada minimal satu yang berasal dari 2019, dan tahun berikutnya.

METHODOLOGY

Work plan menjadi penting bahwa riset ini bisa dilaksanakan dalam waktu tertentu.

How to make research proposal APPEALING

  • Identify the reader
  • Write the proposal as simple as possible
  • Keep it shor a

To be continued…insyaAllah.

References

  • Pariwono, John. 2019. How to write a good and appealing research proposal. Materi ceramah pada workshop persiapan studi dalam akselerasi karir dosen.
  • Feature image credit to sciencenordic.com

Jogja, Sabtu 20 Juli 2019.

Tips Sukses Melewati READING Section IELTS a’la IEDUC Bandung – PART 1

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Alhamdulilaah akhirnya saya bisa memulai tulisan lanjutan dari tulisan saya sebelumnya tentang “5 Tips Sukses Test IELTS a’la IEDUC Bandung”. Project tulisan yang sudah tertunda 2 tahun lamanya…hehe. Bahan tulisan sudah ada, namun setumpuk kerjaan dan sederet kesibukan masih mengalahkan. InsyaAllah beberapa tulisan ke depan akan saya khususkan untuk tema persiapan mengikuti tes IELTS berdasarkan yang saya peroleh dari IEDUC Bandung. Yah, karena di luar sana ada ribuan atau mungkin jutaan artikel tentang bagaimana sukses reading IELTS test, tp artikel ini khusus “Sukses Reading Section a’la IEDUC” yang dari IEDUC sendiri tidak pernah mempublikasikannya…hehe

Pengantar Sekilas IELTS

Sebelum bicara panjang mengenai bagaimana sukses melewati reading section, terlebih dulu saya berikan gambaran singkat tentang IELTS. Sebagaimanana disebutkan oleh websitenya, IELTS merupakan salah satu alat ukur untuk menilai kemampuan/kecakapan bahasa Inggris seseorang yang akan belajar atau bekerja dimana bahasa komunikasi yang digunakan adalah bahasa Inggris. Ada dua tipe tes IELTS, yaitu:

  1. IELTS Academic
  2. IELTS General Training

Kedua tipe tes IELTS tersebut mempunya 4 komponen tes yaitu: Listening, Reading, Speaking dan Writing test. Untuk test Listening and Speaking pada dua tipe tes SAMA, tapi konten pada Reading dan Writing BERDEDA.

Komponen test dalam IELTS. (Picture credit to excelacademy.com)

Memahami Reading Section

Berikutu ini beberapa hal yang perlu dipahami dari reading section:

  • 40 jumlah pertanyaan
  • WAKTU: 60 menit
  • Setiap jawaban ditulis di answer sheet. No extra time is allowed for transfer. Care should be taken when writing answers on the answer sheet as poor spelling and grammar are penalised.
  • Tiap pertanyaan mempunyai nilai 1

Tipe pertanyaan dalam reading section meliputi:

  • Completing notes, tables, diagrams, sentences, summaries
  • Identifying information,
  • Identifying the writer’s views/claims,
  • List of heading — do by SKIMMING
  • Matching information, matching features, matching sentence endings, sentence completion, summary completion, note completion, table completion, flow-chart completion, diagram label completion and short-answer questions
  • Multiple choice
  • T/F/NG; (True, False, Not Given), Y/N/NG (Yes, Not, Not Given — 100% word given in the passage)

IELTS READING Band Score (credit to youtube.com)

Sebagaimana pernah saya sebutkan sebelumnya, reading is the key of listening, the better you read, the better you listen. Membaca material berbahasa Inggris (apapun jenis bacaannya) adalah kunci dalam meningkatkan kemampuan mendengar materi atau audio dalam bahasa Inggris. Kalau anda bisa membaca dengan baik, maka kemampuan mendengar anda akan menjadi baik.

 

Setidaknya ada 3 aturan dalam reading:

  1. Read WORD Properly
  2. Read NUMBER Properly
  3. SPELLING Properly

Techniques/skill MEMBACA yang perlu dikembangkan:

  1. SKIMMING: read quickly, finding main idea
  2. SCANNING: looking for detail

STRATEGI dalam reading:

  • Underline/circle the instruction ( in IELTS, UNDERSTANDING THE INSTRUCTION IS THE PART OF QUESTION!)
  • Underline the keywords from the question
  • Find the keywords (=synonym) from the questions in the passage.
  • All keywords should be found in the same sentence or at least in the same paragraph
  • Don’t determine the answer yet before all keywords are found
  • Write the answer down directly to the answer sheet (ingat NO EXTRA TIME)
  • Circle and number the sentence/paragraph containing answer
  • Don’t work on one difficult question too long
  • Be careful when writing down the answer with hand writing, spelling and punctuation

TIPS Tambahan:

  • Bacalah MINIMAL 2 (DUA) halaman setiap hari materi atau bacaan berbahasa Inggris (baca apapun, majalah, buku, artikel berita dll) di luar materi kursus.
  • Baca dengan penuh pemahaman (reading comprehension: meaning, pronoun) dan baca dengan baik (reading properly)
  • Tidak perlu tergesa-gesa dalam membaca, pastikan betul cara bacanya.

Demikian bagian pertama dari strategi sukses di reading section. Berikutnya mengenai reading insyaAllah akan saya bahas lebih detail seperti bagaimana strategi menghadapi pertanyaan LIST OF HEADING dll.

Purwokerto, 19 November 2018.

References:

5 Tips Sukses Test IELTS a’la IEDUC Bandung

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Setelah dua postingan sebelumnya saya bercerita mengenai Thailand, yang terinspirasi oleh kisah “mission impossible” penyelamatan 12 anak tim sepakbola Thailand dan satu orang pelatihnya. Kali ini meski berbeda topik, namun sebenarnya ide tulisan ini merupakan ide lama yang belum saya elaborasi lebih jauh. Yaitu tentang bahasa, dalam hal ini mengenai IELTS atau International English Language Testing System. Yah, selain TOEFL, IELTS merupakan salah satu perangkat utama bagi yang ingin melanjutkan studi di luar negeri (bahkan juga dalam negeri).

Tulisan saya kali ini lebih spesifik pada pengalaman saya mengambil kelas “Super Intensive (SUPIN) IELTS Preparation” di IEDUC (International Education Centre) Bandung. Pengalaman selama kurang lebih 2 bulan, pagi-siang-malam bergelut dengan IELTS dalam kondisi “bloody-bloody hard” (meminjam islilah Bu Dwi, Direktur IEDUC) yang sangat berkesan rasanya terlalu disayangkan kalau tidak dibagikan. Pengalaman dari tidak kenal sama sekali dengan IELTS, Alhamdulillaah menjadi “PD” dan bisa lolos minimum IELTS score untuk studi PhD di luar negeri meski baru pertama kali ikut tes IELTS. baca selanjutnya

Mahasiswa S2 Serasa Anak TK

20150503_094823 copy

Di Depan Mahachulalongkorn Hall, Kompleks Auditorium Chulalongkorn University

Alhamdulillah, setelah sekian lama akhirnya bisa kembali menengok blog ini. Banyak sebenarnya tulisan dan gagasan ataupun ide yang ingin saya sampaikan di blog ini, tapi berbagai alasan rupanya membuat itu belum kesampaian. Kalo pun akhirnya, tertulis hanya mengendap di laptop saja. Tulisan saya dengan judul “Mahasiswa S2 Serasa Anak TK” ini sebenarnya juga bukan tulisan baru, tulisan ini saya buat sekitar bulan Maret 2015 lalu untuk PPI Thailand/PERMITHA (Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Thailand) sebagai salah satu tulisan yang Alhamdulillah sudah dimuat/dicetak dalam sebuah buku berjudul “Merah Putih di Negeri Gajah Putih” (sudah saya tuliskan resensi bukunya di blog ini ).

Baiklah pembaca, inilah tulisan lengkapnya sesuai dengan judul di atas “Mahasiswa S2 Serasa Anak TK”. Selamat membaca…

Tahun 2013 adalah tahun yang istimewa bagi saya sekeluarga, selain karena saya Alhamdulillah diterima untuk kuliah S2 (master) dengan beasiswa di Chula (Chulalongkorn University, Bangkok Thailand), juga karena di tahun inilah Allah telah melengkapi kehidupan keluarga saya. Yaitu dengan hadirnya seorang buah hati. Yah, satu hal yang paling diharapkan seorang yang sudah berkeluarga adalah seorang putra. Terasa “lengkap” sudah mahligai rumah tangga.

Tepatnya pada bulan Juni tahun 2013, lahirlah anak saya yang pertama. Karena saya dan istri sama-sama kuliah di Thailand (Bangkok), kami memutuskan untuk melahirkan anak kami yang pertama di sini (tentu istri yang melahirkan, bukan saya…hehe). Dan karena istri saya kuliah di Mahidol University, maka kami memutuskan proses kelahiran anak kami yang pertama ini di Ramathibodi Hospital, atau tepatnya Faculty of Medecine Ramathibodi Hospital Mahidol University, rumah sakit pendidikan dari Fakultas Kedokteran Mahidol.

Alasannya simple saja, selain karena alasan teknis yaitu dekat dengan tempat tinggal kami di District Ratchatewi, juga karena istri saya seorang mahasiswi Mahidol sehingga tentu (harapan kami) bisa mendapat “harga mahasiswa”, bukan foreigner patient, pasien orang asing yang tariff pelayanannya bisa berkali lipat tariff normal. Yah alasan ekonomis (maklum mahasiswa…hehe).

Tentu disini saya tidak akan cerita tentang proses kelahiran anak saya yang pertama, bukan disini tentunya. Tapi hal lain yang menyertainya yang saya rasa perlu saya share kepada teman-teman pembaca lainnya. Oke saya lanjutkan ya ceritanya. Proses interaksi kami dengan Ramathibodi Hospital_lah tepatnya inti ceritanya. Ramathibodi Hospital adalah rumah sakit pendidikan milik pemerintah Thailand, dalam hal ini Fakultas Kedokteran Mahidol University. Merupakan salah satu rumah sakit rujukan nasional di Thailand.

Ramathibodi

Gambar Tampak Depan Ramathibodi Hospital (Gedung Lama)

Pertama kali kami berinteraksi dengan rumah sakit pemerintah ini adalah saat pemeriksaan kehamilan istri. Seperti layaknya pasien pertama, tentu kami melakukan pendaftaran. Dari sinilah cerita ini bermula. Pertama kali kami masuk rumah sakit ini tentu mencari loket pendaftaran pasien. Karena belum pernah kesini sebelumnya maka kami menanyakan ke petugas sekuriti yang berjaga, sayangnya “kebetulan” orang yang kami tanya itu tidak bisa bicara dengan bahasa Inggris, dan repotnya kami juga tidak bisa bahasa Thai, “klop” dah bagaikan dua orang asing yang bertemu tapi tidak bisa berkomunikasi sama sekali.

Akhirnya dengan “bahasa tarzan” sederhana kami mencoba berkomunikasi, dia meminta kami untuk menuju ke suatu lokasi agak di bagian dalam rumah sakit. Sambil menunjukkan arah kanan lalu ke kiri dan selanjutnya (Alhamdulillah kalo belok kanan, belok kiri sudah tahu lah bahasa Thai_nya, bahasa standar survival di Thailand…hehe).

Hingga akhirnya kami menuju ke tempat yang ditunjukkan, dengan kira-kira tentunya. Masuk dari pintu timur di depan Jalan Rama VI, lalu belok kiri sekitar 15 meter. Dan Alhamdulillah, ini kayaknya ruangannya karena kami melihat banyak ruangan yang ada loketnya dan didepannya berderet tempat duduk untuk menunggu. Namun subhanallah, dari sederet ruangan itu ternyata tidak ada yang tertulis bahasa Inggrisnya. Lagi dech kami bagaikan masuk ke “rimba belantara” di tengah kota. Yang mana loket yang kami cari kami tidak tahu, karena semua tertulis dalam bahasa Thai.

Kami mencoba menanyakan ke salah satu loket, sayangnya petugas yang ditanya juga kurang bisa berbahasa Inggris. Sehingga saat kami menjelaskan kedatangan kami untuk pertama kali, dan apa prosedur yang harus dilakukan oleh kami sebagai pasien pertama di rumah sakit ini kayaknya dia tidak memahami maksudnya. Dia pun meminta kami menunggu sebentar untuk dicarikan petugas yang bisa berbahasa Inggris dengan baik sehingga bisa berkomunikasi dengan kami.

OPG Pediatric Rama.jpg

OPD Pediatrics, Poli Anak di Ramathibodi Hospital (Gedung Lama)

Alhamdulillah akhirnya kami dipertemukan dengan petugas yang cukup “nyambung” bahasa Inggrisnya sehingga bisa memahami maksud kedatangan kami untuk mendaftar sebagai pasien di sini. Dengan aksen “Thai English” yang khas dia menjelaskan kepada kami tentang segala prosedur dan hal-ikhwal urusan administrasinya. Hingga akhirnya kami (istri saya maksudnya) bisa mendaftar menjadi pasien resmi rumah sakit pendidikan ini.

Urusan pendaftaran selesai, namun ternyata “ujian” itu belum berakhir sampai disini. Selanjutnya kami menuju ke ruang pemeriksaan. Kembali lagi semua disini kecuali toilet yang ada gambar penunnjuknya, ditulis dalam huruf thai. Alhamdulillah ada beberapa petugas yang bisa berbahasa Inggris sehingga cukup membantu. Dan disini juga ada ceritanya karena saat kami menunggu giliran pemeriksaan, ternyata panggilan nomor antrian dalam bahasa thai juga…weleh-weleh…Alhamdulillah kalo tentang hitungan (1, 2, 3, dst) kami lumayan mengetahui bahasa Thai_nya, jadi dihapal saja nomor antriannya.

Pemeriksaan selesai, tiba saatnya kami menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Kami diminta ke satu komplek bangunan di rumah sakit ini dimana disitu terdapat beberapa loket pembayaran. Dan subhanallah, “de javu” rupanya. Kami kemballi bertemu sederet ruangan yang semuanya bertuliskan huruf Thai “keriting” seperti aksara jawa ini. Mana loket yang harus kami tuju kami pun tidak tahu, belum lagi billing kertas yang kami bawa juga tertulis dalam huruf Thai semua, klop dah. Kami iseng aja menanyakan ke petugasnya dengan menyodorkan billing tersebut, dan ternyata kami salah masuk…hehe. Namun Alhamdulillah petugas itu menunjukkan loket yang seharusnya kami tuju. Hingga akhirnya kami bayar dan selesai semuanya.

Dalam perjalanan pulang kami merenung, ternyata kami yang “sekelas” mahasiswa S2 luar negeri saja merasa bagitu “bodohnya” hari itu. Betapa pentingnya arti bahasa dan tulisan, dan betapa menderitanya orang yang buta huruf dan “bisu bahasa”. Kami hari itu benar-benar merasa lebih bodoh bahkan mungkin dari seorang anak TK karena ketiadaan kemampuan berkomunikasi (dalam bahasa Thai tentunya). Jadi ketika kami melihat sederet huruf Thai yang keriting-keriting itu, atau mendengar percakapan orang Thai dengan bahasa mereka, kami benar-benar merasa lebih bodoh dari pada anak TK. Karena benar-benar buta jadinya. Ibarat kita berjalan di kegelapan malam tanpa cahaya.

Inilah pelajaran penting bagi kami tentunya, tentang arti penting bahasa. Kita belum bicara untuk hal besar seperti misalnya mengenai persiapan memasuki Asean Economic Community (AEC). Atau bagaimana produk Indonesia memasuki pasar Thailand. Namun untuk urusan yang sederhana ini saja, jika bahasa sebagai alat komunikasi ini tidak kita kuasai, maka akan banyak kendala tentunya.

Memang bahasa Inggris adalah standar komunikasi dunia, tapi pengenalan dan penguasaan bahasa lokal adakalanya sangat penting mengingat tidak semua orang sudah lancar bahasa Inggrisnya, atau semua hal ditulis dalam bahasa Internasional. Seperti halnya di Thailand menurut pengalaman saya. itulah mengapa dalam soal bahasa, seorang Mahasiswa S2 Serasa Anak TK. Ini pengalaman sederhana saya yang benar-benar membuka mata saya akan pentingnya bahasa dalam komunikasi baik sekala personal maupun global.

Semoga bermanfaat.

Baan Leena Apartment, 31 March 2015.
Petchburi Soi 7, Bangkok.