Category Archives: Keislaman

Kecerdasan Literasi di Era Informasi: Cara Cerdas Menyikapi Fenomena Sosial Media

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Menyusul terjadinya ricuh demonstrasi di Bawaslu dalam Aksi 22 Mei (22 Mei 2019), pemerintah dalam hal ini Menteri Komunikasi dan Informatika berdasarkan arahan dari Menteri Kordinator Bidang Politik dan Keamanan akhirnya mendown layanan sosial media WhatsApp, Instagram dan Facebook. Dengan alasan untuk mencegah tersebarnya berita hoax dari kegiatan aksi yang berujung ricuh tersebut.

Saya sendiri kurang setuju sebenarnya dengan penutupan layanan sosmed ini, karena ini terkesan pemerintah ingin membatasi informasi. Sementara dengan oligarki politik dan ekonomi saat ini, dimana media mainstream hampir semuanya “dikuasai” pemerintah, sosial media merupakan saluran warga untuk mendapatkan media pembanding. Meskipun demikian saya memahami dampak yang mengancam dari sosial media bagi kita semua.

Sosial media memang menjadi kekuatan yang luar biasa saat ini. Dengan pengguna lebih dari separo penduduk Indonesia (data lembaga riset we are sosial sebesar 56%), tentu menjadi kekuatan yang luar biasa. Sudah terbukti di beberapa negara seperti Mesir, Sudan dll, sosial media berpengaruh pada gerakan sosial yang besar yang bahkan bisa menumbangkan sebuah pemerintahan. Wajar saja kalau pemerintah membatasi, meski juga ada hal lainnya yang juga menjadi perhatian.

Indonesia Digital 2019

Adalah “Algoritma Sosial Media” atau ada yang menyebut dengan “Filter Buble” dari sosial media yang membuat pengguna sosmed perlu hati-hati dalam menggunakan aplikasi ini. Dalam sejarahnya Algoritma atau Algorism (diambil dari nama penemunya, ilmuwan matematika Islam Abu Ja’far Muhammad Ibnu Musa Al-Khwarizmi (780-850 masehi) pada dasarnya hanyalah cara/langkah-langkah menyelesaikan untuk menyelesaikan masalah.

Adapun algoritma sosial media sendiri secara ringkas dipahami sebagai mekanisme dari sosial media untuk menampilkan atau menyuguhkan informasi, updates, dan apa saja yang tampil di akun medias sosial seseorang sesuai dengan karakteristik, profil, kesukaan dan hal lainnya dari pengguna tersebut. Oleh karena itu, sebagai contoh bisa jadi sesuatu yang sedang trending yang tampil pada akun sosial media seseorang sangat jauh berbeda dengan orang lain pada saat yang sama.

Hal ini artinya, seorang pendukung satu aliran cenderung akan menerima informasi sesuai dengan alirannya. Seorang yang menyukai hal tertentu cenderung akan mendapatkan informasi tentang hal tersebut. Tentu hal ini akan menciptakan satu dunia sendiri yang bisa jadi berbeda dengan dunia orang lain

Hal lainnya adalah munculnya berita hoax. Berita hoax pada dasarnya bukan hal yang baru, namun dengan sosial media bisa semakin berbahaya. Kenapa?, di sosial media kita mendapatkan berita dari orang yang kita kenal (berteman dll), oleh karena itu ketika mereka menyebar berita cenderung kita mempercayainya karena yang bawa berita orang yang kita kenal. Bahkan terkadang berita yang sampai tidak kita kroscek, atua sekedar dibaca kontennya. Hanya judulnya saja namun sudah mengambil kesimpulan.

Tulisan saya ini pada dasarnya materi khutbah saya yang pernah saya sampaikan di Masjid Al Amin, Godekan Tamantirto Kasihan Bantul Yogyakarta. Saya sedikit beri tambahan pengantar sesuai kondisi saat ini.

Selamat membaca

Perkembangan teknologi informasi memang telah memudahkan manusia dalam berkomunikasi. Namun, seperti pisau bermata dua selalu ada positif dan negatifnya. Diantara dampak negatifnya adalah banyaknya informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya yang pada akhirnya bisa menimbulkan dampak yang tidak saja menjadi sampah informasi tetapi pada tahap tertentu bahkan bisa membahayakan hubungan antar manusia seperti informasi yang bersifat fitnah atau yang dikenal di dunia informasi sebagai HOAX. Menurut kamus Oxford, hoax didefinisikan sebagai sesuatu yang tidak benar dan menipu.4

Fenomena berita hoax pada dasarnya bukan hal baru. Bahkan pada zaman Nabi Muhammad SAW pun kasus berita hoax ini pernah terjadi. Sebagaimana diriwayatkan dalam Tafsir Ibnu Katsir, bahwa suatu ketika Rasulullah SAW pernah mengutus Al Walid bin Uqbah bin Abi Mu’it untuk mengambil zakat orang-orang Banil Musthaliq. Kaum Bani Musthaliq sebelumnya belum masuk Islam, dan setelah mereka masuk Islam pimpinan mereka Al Haris Ibnu Abi Dirar berjanji mengumpulkan zakat kaumnya untuk diserahkan.

Hingga saat yang dijanjikan, pimpinan Bani Musthaliq sudah mengumpulkan zakat dan bahkan mengadakan penyambutan terhadap utusan Rasul yang dikabarkan akan mengambil zakatnya. Di lain pihak, utusan Rasul yaitu Al Walid bin Uqbah juga telah siap melaksanakan tugasnya mengambil zakat Bani Musthaliq. Ketika sampai di dekat daerah Bani Musthaliq, Al Walid merasa gentar dan mengira bahwa kaum Bani Musthaliq bermaksud menyerangnya (padahal dia belum sampai dan justeru mereka bermaksud menyambutnya). Selanjutnya dia (Al Walid) kembali ke Madinah dan melaporkan ke Rasulullah SAW dan menyampaikan kepadanya bahwa Bani Musthaliq tidak mau membayar zakat bahkan akan menyerangnya. Mendengar laporan tersebut Rasulullah SAW merasa marah dan mengirim pasukan untuk menyerang Bani Musthaliq. Di pihak lain kaum Bani Musthaliq yang merasa sudah menyiapkan zakat tapi tak kunjung diambil berencana menyerahkan langsung ke Madinah. Hingga akhirnya kedua kelompok bertemu dan hampir saja terjadi pertempuran sebelum akhirnya ada klarifikasi oleh pimpinan Bani Musthaliq kepada Rasulullah SAW.

Peristiwa Bani Musthaliq tersebut menurut beberapa ahli tafsir merupakan asbabun nuzul turunnya ayat ke 6 surat Al Hujurat. Secara lengkap ayat 6 surat Al Hujurat berbunyi (terjemahannya):

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al Hujurat, 6)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al Qur’an Al‘Azhim mengatakan bahwa, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta atau keliru.”

Pada ayat di atas kita jumpai kalimat fatabayyanuu” diterjemahkan dengan “periksalah dengan teliti”. Maksudnya telitilah berita itu dengan cermat, tidak tergesa-gesa menghukumi perkara dan tidak meremehkan urusan, sehingga benar-benar menghasilkan keputusan yang benar.

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim berkata, “Allah Ta’ala memerintahkan untuk melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita dusta atau keliru.”

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di saat menerangkan ayat di atas, beliau berkata, “Termasuk adab bagi orang yang cerdas yaitu setiap berita yang datang dari orang kafir hendaknya dicek terlebih dahulu, tidak diterima mentah-mentah. Sikap asal-asalan menerima amatlah berbahaya dan dapat menjerumuskan dalam dosa. Jika diterima mentah-mentah, itu sama saja menyamakan dengan berita dari orang yang jujur dan adil. Ini dapat membuat rusaknya jiwa dan harta tanpa jalan yang benar. Gara-gara berita yang asal-asalan diterima akhirnya menjadi penyesalan.

Berita yang perlu dikonfirmasi adalah berita penting, ditunjukkan dengan digunakannya kata naba’untuk menyebut berita, bukan kata khobar. Prof. Dr. Quraish Shihab dalam bukunya Secercah Cahaya Ilahi halaman 262 membedakan makna dua kata itu. Kata naba’ menunjukkan berita penting, sedangkan khobar menunjukkan berita secara umum.

Al-Qur’an memberi petunjuk bahwa berita yang perlu diperhatikan dan diselidiki adalah berita yang sifatnya penting. Adapun isu-isu ringan, omong kosong, dan berita yang tidak bermanfaat tidak perlu diselidiki, bahkan tidak perlu didengarkan karena hanya akan menyita waktu dan energi.

Para ahli hadis memberti teladan dalam mentabayyun berita yang berasal dari orang yang berkarakter meragukan. Mereka telah mentradisikan tabayyun di dalam meriwayatkan hadis. Mereka menolak setiap hadis yang berasal dari pribadi yang tidak dikenal identitasnya atau pribadi yang diragukan integritasnya.

Sebaliknya, mereka mengharuskan penerimaan berita itu jika berasal dari seorang yang berkepribadian kuat (tsiqah). Untuk itulah kadang-kadang mereka harus melakukan perjalanan berhari-hari untuk mengecek apakah sebuah hadis yang diterimanya itu benar-benar berasal dari sumber yang valid atau tidak.

Tetapi sayang, tradisi ini kurang diperhatikan oleh kaum muslimin saat ini. Pada umumnya orang begitu mudah percaya kepada berita di koran, majalah atau media massa. Mudah pula percaya kepada berita yang bersumber dari orang kafir, padahal kekufuran itu adalah puncak kefasikan. Sehingga dalam pandangan ahlul hadis, orang kafir sama sekali tidak bisa dipercaya periwayatannya.

Dalam era informasi saat ini, mudah sekali orang percaya dan menyebar-nyebarkan kabar berita yang tidak jelas asal dan sumbernya dari mana. Lebih parah lagi dengan adanya aplikasi gadget seperti BBM dsb-nya, sebagian orang acap kali mem-broadcast kabar berita yang isinya sampah, hoax dan menyesatkan. Terkadang isinya tidak saja kabar yang belum tentu kebenaranya, tapi juga hadist-hadist lemah (dha’if) dan bahkan palsu (maudhu’) banyak disebar dan malah edit, dibuat-buat untuk menakut-nakuti.

3 Langkah “Saring sebelum Sharing”

  1. Cek benar atau tidak
  2. Cek bermanfaat atau tidak
  3. Cek tepat atau tidak waktunya saat disampaikan

Wallahu A’lam

Sumber Bacaan:

  1. We Are Social. Digital 2019:Indonesia. Accessed from: https://datareportal.com/reports/digital-2019-indonesia
  2. Tekno Sains.com. Algoritma dan Pemrograman. Accessed from: http://teknosains.com/sains-teknologi/algoritma-dan-pemrograman-itu-apa-sih
  3. Aulia Adam. 2017. Filter Bubble: Sisi Gelap Algoritma Media Sosial. Accessed from: https://tirto.id/filter-bubble-sisi-gelap-algoritma-media-sosial-cwSU
  4. Images are grom google.

The Power of Istighfar, Hikmah Istighfar Dari Seorang Penjual Roti dalam Kisah Imam Ahmad bin Hambal

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Terdapat suatu kisah yang inspiratif yang dinukil dari Kitab Manaqib Imam Ahmad bin Hambal, salah satu Imam Madzhab yang mempunyai nama asli Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Abu ‘Abd Allah al-Shaybani. Beliau juga merupakan murid dari Imam Syafi’i, Imam fikih terkenal dari kalangan madzhab Syafi’iyah.

Dikisahkan oleh Imam Ahmad:

Suatu ketika saya mempunyai keinginan kuat untuk safar (bepergian) ke suatu kota (Basrah, Irak) untuk suatu hal yang saya tidak ada keinginan atau rencana. Hanya ada perasaan harus ke sana.

Sebagaimana diketahui, Imam Ahmad tinggal di Baghdad, Irak. Jarak antara Baghdad ke Basrah sekitar 532 km. Tentu perlu suatu alasan khusus untuk menempuh perjalanan yang cukup jauh, yang pada waktu itu mungkin harus ditempuh dalam beberapa hari. Namun demikian karena keinginan itu begitu kuat, akhirnya Imam Ahmad pun menempuh perjalanan tersebut.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, sampailah Imam Ahmad di Kota Basrah. Dan seperti umumnya orang bepergian, setelah sampai disana dicarilah masjid. Selain sebagai tempat sholat juga tempat istirahat. Kebetulah juga tiba di sana waktu isya.

Begitu selesai shalat dan jamaah pulang, Imam Ahmad bermaksud untuk tidur di masjid, tiba-tiba marbot masjid datang menemui Imam Ahmad sambil bertanya, “Anda mau ngapain disini ya Syaikh.” Istilah atau panggilan “syaikh” di Arab biasa dipakai untuk 3 panggilan, yaitu panggilan untuk orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu. Panggilan Syaikh dikisah ini panggilan sebagai orang tua, karena marbot taunya sebagai orang tua, dan dia belum tahu kalau beliau Imam Ahmad. Dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan siapa dirinya.

Di Irak, semua orang kenal siapa imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat shalih dan zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tau wajahnya, hanya saja namanya sudah terkenal.

Lalu Imam Ahmad menjawab “saya ingin istirahat, saya musafir.” Namun marbot tidak mengizinkan dengan mengatakan, “tidak boleh, aturan disini tidak boleh tidur di masjid !“. (seperti biasanya masjid di Indonesia, dilarang tidur di masjid).

Imam Ahmad melanjutkan ceritanya dan mengatakan “saya didorong-dorong oleh marbot masjid itu itu disuruh keluar dari masjid, Setelah keluar masjid, dikunci pintu masjid. Lalu saya pun hendak tidur di teras masjid“. Namun ketika sudah berbaring di teras masjid, Marbotnya datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad. “Mau ngapain lagi syaikh?” Kata marbot. “Mau tidur, saya musafir” kata imam Ahmad. Lalu marbot berkata, “di dalam masjid gak boleh, di teras masjid juga gak boleh.” Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita, “saya didorong-dorong sampai jalanan”.

Diketahui bahwa di samping masjid ada rumah penjual roti (rumah ukuran kecil untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, dan rupanya memperhatikan peristiwa Imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi. Ketika imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti itu memanggil dari jauh, “Kemari ya syaikh, anda boleh nginap ditempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil”. Lalu Imam Ahmad pun masuk ke rumahnya, duduk dibelakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

Penjual roti ini punya perilaku khas, kalau imam Ahmad ngajak bicara dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar, “Astaghfirullah“. Saat memberi garam, astaghfirullah, menecah telur astaghfirullah, mencampur gandum astaghfirullah. Dia senantiasa mendawamkan istighfar. Sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.

Melihat kebiasaan yang jarang ini, Imam Ahmad bertanya “sudah berapa lama kamu lakukan ini?” Orang itu menjawab, “sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan“. Wow…sudah lama rupanya dia istiqomah melakukan amal ini. Lalu Imam Ahmad bertanya “apa hasil dari perbuatanmu ini?”. Orang itu menjawab “(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah. Semua yang saya minta pada Allah…langsung diwujudkan.” Lalu orang itu melanjutkan “semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah beri.”

Imam Ahmad penasaran lantas bertanya “apa itu?” Kata orang itu “saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad”. Seketika itu juga imam Ahmad bertakbir “Allahu Akbar..! Allah telah mendatangkan saya jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan, ternyata karena istighfarmu.. ”

Penjual roti itu terperanjat, memuji Allah, ternyata yang didepannya adalah Imam Ahmad…Ia pun langsung memeluk dan mencium tangan Imam Ahmad….Subhanallaah

Kisah dari Imam Ahmad bin Hambal tadi menggambarkan tentang kedahsyatan istighfar sehingga membuat Allah SWT enggan untuk menolak doa yang dipanjatkan kepada-Nya. Seorang Imam besar pun akhirnya berkelana ke pelosok negeri, Allah tuntun langkahnya agar sampai di negeri si tukang roti. Kemudian, Allah membuat suatu keadaan hingga keduanya dipertemukan. Tak ada yang mustahil bagi Allah jika Dia berkehendak.

Istighfar Rasulullaah

Kisah Imam Ahmad tadi juga sejalan dengan sabda Rasulullah S.A.W:

Hadist Fadhilah Istighfar pict by @tadabburdaily

“Barangsiapa memperbanyak istighfar (mohon ampun kepada Allah), niscaya Allah menjadikan baginya pada setiap kesedihannya jalan keluar dan pada setiap kesempitan ada kelapangan dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

 

Hadist di atas menunjukkan setidaknya 3 faidah dari memperbanyak istighfar, yaitu:

  1. Jalan keluar dari kesedihan
  2. Kelapangan dari kesempitan
  3. Rezeki yang tidak disangka-sangka

Jadi, istighfar merupakan solusi dari setiap masalah dan kunci untuk mendapatkan rezeki. Mengenai rezeki yang tidak disangka-sangka, bebarapa ulama juga menyampaikan bahwa yang dimaksud tidak cuma rejeki dadakan tetapi rejeki yang barokah.

Kebiasaan untuk memperbanyak istighfar juga dilakukan oleh Rasulullaah, sebagaimana disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat pada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari no. 6307).

Di hadist lainnya sebagaimana diriwayatkan oleh Al Aghorr Al Muzanni, yang merupakan sahabat Nabi, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِى وَإِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِى الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Ketika hatiku malas, aku beristighfar pada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702).

Istighfar Nabi Nuh

Pelajaran lain tentang hikmah dari istighfar juga bisa kita lihat dari kisah kaum Nabi Nuh AS. Bahwa ketika kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam tidak mau menaati ajakan beliau untuk beriman kepada Allah mereka diberi azab oleh Allah berupa kekeringan dan mandulnya kaum perempuan selama empat puluh tahun. Hal itu menjadikan hancurnya ternak dan tanaman mereka. Setelah keadaan ini berlangsung lama mereka mendatangi Nabi Nuh untuk meminta pertolongan.

Oleh Nabi Nuh mereka diminta untuk beristighfar, meminta ampun dari dosa kekufuran dan kemusyrikan, kepada Allah. Bila mereka mau beristighfar, Nabi Nuh menjanjikan bahwa Allah akan menurunkan hujan yang deras dari langit, memberi limpahan harta dan keturunan, serta menjadikan kebun-kebun dan sungai-sungai yang dpat menghidupi mereka.

Hal itulah yang dijelaskan oleh para ahli ketika mereka menafsirkan ayat 10–12 dari Surat Nuh.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku (Nabi Nuh) katakan, ‘minta ampunlah kalian kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Ia maha pengampun. Maka Dia akan menurunkan hujan yang deras dari langit kepada kalian. Dan Ia akan menganugerahkan kepada kalian harta dan anak-anak, serta menjadikan bagi kalian kebun-kebun dan sungai-sungai.”

Atas dasar ayat ini para ulama menyimpulkan bahwa istighfar merupakan sebab terbesar diturunkannya hujan dan diperolehnya berbagai macam rezeki serta bertambah dan berkembangnya keberkahan.

Kisah lainnya tentang istighfar berasal dari kalangan tabiin. Dikisahkan juga bahwa suatu ketika ada orang yang mengadu kepada Imam Hasan al-Bashri perihal kegersangan yang melanda daerahnya. Orang yang lain mengadu perihal sedikitnya hasil bumi yang ia peroleh. Yang lain lagi mengadu perihal sulitnya mendapat keturunan. Dan yang lainnya mengadu perihal kefakirannya. Kepada semua orang ini Imam Hasan menganjurkan untuk memperbanyak beristighfar kepada Allah. Ia ditanya, “Orang-orang datang kepadamu dengan berbagai hajat, mengapa engkau perintahkan mereka semua untuk beristighfar?” Imam Hasan al-Bashri menjawabnya dengan membaca ayat di atas.

Demikianlah beberapa ibroh atau fadhilah dari mengucapkan atau mengistiqomahkan untuk senantiasa beristigfar pada Allah.

Yogyakarta, 08 Maret 2019. InsyaAllah akan disampaikan pada khutbah jumat, di Masjid Al Amin Godekan, Tamantirto Kasihan Bantul.

Referensi:

  1. Agar Doa Didengar Allah SWT. Dialog Jumat Republika, 30 Januari 2019.
  2. Mahbub Junaidi. 2016. Manaqib Imam Ahmad: Kisah Tukang Roti Pendawam Istighfar.
  3. Tafsir Al-Munir, Wahbah Az-Zuhaili dan kitab tafsir lainnya. Belajar dari Kisah Nabi Nuh: Manfaat Istighfar.
  4. Muhammad Abduh Tuasikal. 2013. Perintah Memperbanyak Istighfar.
  5. Aminudin. 2015. Tribunnews.com. 7 Kedahsyatan dan Manfaat Membaca Istighfar
  6. Images: Banjarmasin Post, hidayatullah.com

Biodata Rasuulullaah S.A.W.

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Bertepatan dengan bulan maulid, bulan kelahiran manusia mulia yang pernah hadir ke dunia, Rasulullaah Muhammad SAW, saya posting artikel seputar sejarah Rasulullaah SAW. Artikel ini pada awalnya bukan merupakan tulisan saya. Saya memperolehnya dari grup sosial media WhatsApp, tanpa ada keterangan siapa penulisnya. Untuk sementara saya biarkan utuh sesuai aslinya, insyaAllah akan saya tambahkan dan edit sesuai dengan referensi dan pengetahuan yang saya punya. Selamat membaca…

BIODATA RASULULLAH S.A.W

🖌 Nama : Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalibs bin Hashim.

🖌 Tarikh lahir : Subuh hari Isnin, 12 Rabiulawal bersamaan 20 April 571
Masehi (dikenali sebagai Tahun Gajah; karena peristiwa tentara bergajah
Abrahah yang menyerang kota Ka’bah)

🖌 Tempat lahir : Di rumah Abu Thalib, Makkah Al-Mukarramah.
🖌 Nama bapak : Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hashim.
🖌 Nama ibu : Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf.
🖌 Pengasuh pertama : Barakah Al-Habsyiyyah (digelar Ummu Aiman. Hamba perempuan bapak Rasulullah SAW).
🖌 Ibu susu pertama : Thuwaibah (hamba perempuan Abu Lahab).
🖌 Ibu susu kedua : Halimah binti Abu Zuaib As-Sa’diah (lebih dikenali Halimah As-Sa’diah, suaminya bernama Abu Kabsyah).

USIA 5 TAHUN

💓 Peristiwa pembelahan dada Rasulullah SAW yang dilakukan oleh dua malaikat untuk mengeluarkan bahagian syaitan yang wujud di dalam hatinya.

USIA 6 TAHUN

💓 Ibunya Aminah binti Wahab ditimpa sakit dan meninggal dunia di Al-Abwa ‘
(sebuah kampung yang terletak di antara Makkah dan Madinah, baginda dipelihara oleh Ummu Aiman (hamba perempuan bapak Rasulullah SAW)
dan dibiayai oleh datuknya Abdul Muththalib.

USIA 8 TAHUN

💓 Datuknya, Abdul Muththalib pula meninggal dunia.
Baginda dipelihara pula oleh bapak saudaranya, Abu Thalib.

USIA 9 TAHUN (Setengah riwayat mengatakan pada usia 12 tahun).

💓Bersama bapak saudaranya, Abu Thalib bermusafir ke Syam atas urusan
perniagaan.

💓Di kota Busra, negeri Syam, seorang pendeta Nasrani bernama Bahira
(Buhaira) telah bertemu ketua-ketua rombongan untuk menceritakan tentang
pengutusan seorang nabi di kalangan bangsa Arab yang akan lahir pada masa
itu.

USIA 20 TAHUN

💓Terlibat dalam peperangan Fijar. Ibnu Hisyam di dalam kitab ‘Sirah’, jilid1, halaman 184-187 menyatakan pada ketika itu usia Muhammad SAW ialah
14 atau 15 tahun. Baginda menyertai peperangan itu beberapa hari dan
berperanan mengumpulkan anak-anak panah sahaja.

💓Menyaksikan ‘ perjanjian Al-Fudhul ‘ ; perjanjian damai untuk memberi
pertolongan kepada orang yang didzalimi di Makkah.

USIA 25 TAHUN

💓Bermusafir kali kedua ke Syam atas urusan perniagaan barangan Khadijah
binti Khuwailid Al-Asadiyah.

💓Perjalanan ke Syam ditemani oleh Maisarah; lelaki suruhan Khadijah.

💓Baginda SAW bersama-sama Abu Thalib dan beberapa orang bapak saudaranya yang lain pergi berjumpa Amru bin Asad (bapak saudara Khadijah) untuk meminang Khadijah yang berusia 40 tahun ketika itu.

💓Mas kawin baginda kepada Khadijah adalah sebanyak 500 dirham.

USIA 35 TAHUN

💓Banjir besar melanda Makkah dan meruntuhkan dinding Ka’bah.

💓Pembinaan semula Ka’bah dilakukan oleh pembesar-pembesar dan penduduk
Makkah.

💓Rasulullah SAW diberi kemuliaan untuk meletakkan ‘Hajarul-Aswad’ ke
tempat asal dan sekaligus meredakan pertelingkahan berhubung perletakan
batu tersebut.

USIA 40 TAHUN

💓Menerima wahyu di gua Hira’ sebagai pelantikan menjadi Nabi dan Rasul akhir zaman.

USIA 53 TAHUN

💓Berhijrah ke Madinah Al-Munawwarah dengan ditemani oleh Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq.

💓Sampai ke Madinah pada tanggal 12 Rabiulawal / 24 September 622M.

USIA 63 TAHUN

💓Kewafatan Rasulullah SAW di Madinah Al-Munawwarah pada hari Isnin, 12 Rabiulawal tahun 11Hijrah / 8 Juni 632 Masehi.

ISTERI-ISTERI RASULULLAH SAW

Picture credit to wikipedia.com

💚 Khadijah Binti Khuwailid.
💚 Saudah Binti Zam’ah.
💚 Aisyah Binti Abu Bakar (anak Sayyidina Abu Bakar).
💚 Hafsah binti ‘Umar (anak Sayyidina ‘Umar bin Al-Khattab).
💚 Ummi Habibah Binti Abu Sufyan.
💚 Hindun Binti Umaiyah (digelar Ummi Salamah).
💚 Zainab Binti Jahsy.
💚 Maimunah Binti Harith.
💚 Safiyah Binti Huyai bin Akhtab.
💚 Zainab Binti Khuzaimah (digelar ‘Ummu Al-Masakin’, Ibu Orang Miskin).

ANAK-ANAK RASULULLAH SAW

1.💜 Qasim
2.💜 Abdullah
3.💜 Ibrahim
4.💜 Zainab
5.💜 Ruqaiyah
6.💜 Ummi Kalthum
7.💜 Fatimah Al-Zahra’

ANAK TIRI RASULULLAH SAW

💙 Halah bin Hind bin Habbasy bin Zurarah at-Tamimi (anak kepada Sayyidatina Khadijah bersama Hind bin Habbasy. Ketika berkahwin dengan Rasulullah, Khadijah adalah seorang janda).

SAUDARA SESUSU RASULULLAH SAW

IBU SUSUAN/SAUDARA SUSUAN
1. Thuwaibah → Hamzah
2. Abu Salamah → Abdullah bin Abdul Asad

SAUDARA SUSUAN
1. Halimah Al-Saidiyyah → Abu Sufyan bin Harith bin Abdul Muthallib
2. Abdullah bin Harith bin Abdul ‘ Uzza
3. Syaima ‘ binti Harith bin Abdul ‘ Uzza
4. ‘Aisyah binti Harith bin abdul ‘ Uzza

BAPAK DAN IBU SAUDARA RASULULLAH SAW
( ANAK-ANAK KEPADA ABDUL MUTHTHALIB)

1. Al-Harith
2. Muqawwam
3. Zubair
4. Hamzah *
5. Al-Abbas *
6. Abu Talib
7. Abu Lahab (nama asalnya Abdul Uzza)
8. Abdul Ka’bah
9. Hijl
10. Dhirar
11. Umaimah
12. Al-Bidha (Ummu Hakim)
13. Atiqah ##
14. Arwa ##
15. Umaimah
16. Barrah
17. Safiyah (ibu kepada Zubair Al-Awwam) *

* masuk Islam.
## Ulama berselisih pendapat tentang Islamnya.

Sabda Rasulullah SAW:
“Sesiapa yang menghidupkan sunnahku, maka sesungguhnya dia telah mencintai aku
Dan sesiapa yang mencintai aku niscaya dia bersama-samaku di dalam syurga”
(Riwayat Al-Sajary daripada Anas )

اللهم صلى وسلم على سيدنا محمد وعلى آله واصحابه وسلم

Nabi Muhammad SAW – Manusia agung

KENALI NABI MUHAMMAD S.A.W. SECARA LAHIRIAH

💓Begitu indahnya sifat fizikal
Baginda, sehinggakan seorang ulama Yahudi yang pada pertama kalinya bertemu muka dengan Baginda lantas melafazkan keislaman dan mengaku akan kebenaran apa yang disampaikan oleh Baginda.

Di antara kata-kata apresiasi para sahabat ialah:

💞 Aku belum pernah melihat lelaki yang segagah Rasulullah saw..

💞 Aku melihat cahaya dari lidahnya.

💞 Seandainya kamu melihat Baginda, seolah-olah kamu melihat matahari
terbit.

💞 Rasulullah jauh lebih cantik dari sinaran bulan.

💞 Rasulullah umpama matahari yang bersinar.

💞 Aku belum pernah melihat lelaki setampan Rasulullah.

💞 Apabila Rasulullah berasa gembira, wajahnya bercahaya spt bulan purnama.

💞 Kali pertama memandangnya sudah pasti akan terpesona.

💞 Wajahnya tidak bulat tetapi lebih cenderung kepada bulat.

💞 Wajahnya seperti bulan purnama.

💞 Dahi baginda luas, raut kening tebal, terpisah di tengahnya.

💞 Urat darah kelihatan di antara dua kening dan nampak semakin jelas semasa marah.

💞 Mata baginda hitam dengan bulu mata yang panjang.

💞 Garis-garis merah di bahagian putih mata, luas kelopaknya, kebiruan asli di bahagian sudut.

💞 Hidungnya agak mancung, bercahaya penuh misteri, kelihatan luas sekali pertama kali melihatnya.

💞 Mulut baginda sederhana luas dan cantik.

💞 Giginya kecil dan bercahaya, indah tersusun, renggang di bahagian depan.

💞 Apabila berkata-kata, cahaya kelihatan memancar dari giginya.

💞Janggutnya penuh dan tebal menawan.

💞 Lehernya kecil dan panjang, terbentuk dengan cantik seperti arca.

💞 Warna lehernya putih seperti perak, sangat indah.

💞 Kepalanya besar tapi terlalu elok bentuknya.

💞 Rambutnya sedikit ikal.

💞 Rambutnya tebal kdg-kdg menyentuh pangkal telinga dan kdg-kdg mencecah
bahu tapi disisir rapi.

💞 Rambutnya terbelah di tengah.

💞 Di tubuhnya tidak banyak rambut kecuali satu garisan rambut menganjur
dari dada ke pusat.

💞 Dadanya bidang dan selaras dgn perut. Luas bidang antara kedua bahunya lebih drpd biasa.

💞 Seimbang antara kedua bahunya.

💞 Pergelangan tangannya lebar, lebar tapak tangannya, jarinya juga besar
dan tersusun dgn cantik.

💞 Tapak tangannya bagaikan sutera yang lembut.

💞 Perut betisnya tidak lembut tetapi cantik.

💞 Kakinya berisi, tapak kakinya terlalu licin sehingga tidak melekat air.

💞 Terlalu sedikit daging di bahagian tumit kakinya.

💞 Warna kulitnya tidak putih spt kapur atau coklat tapi campuran coklat dan
putih.

💞 Warna putihnya lebih banyak.

💞 Warna kulit baginda putih kemerah-merahan.

💞 Warna kulitnya putih tapi sehat.

💞 Kulitnya putih lagi bercahaya.

💞 Binaan badannya sempurna, tulang-temulangnya besar dan kokoh.

💞 Badannya tidak gemuk.

💞 Badannya tidak tinggi dan tidak pula rendah, kecil tapi berukuran sederhana lagi gagah.

💞 Perutnya tidak buncit.

💞 Badannya cenderung kepada tinggi, semasa berada di kalangan org ramai
baginda kelihatan lebih tinggi drpd mereka.

KESIMPULANNYA :
Nabi Muhammad sa.w adalah manusia agung yang ideal dan sebaik-baik contoh
sepanjang zaman.

Baginda adalah semulia-mulia insan di dunia.

Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan RasulNya mencintai

wallahu’alam
Semoga bermanfaat

References:

  1. Anonym. Biodata Rasulullaah SAW. Artikel awal tulisan ini saya peroleh dari share di sosial media WhatsApp (WA), grup alumni Unsoed Purwokerto pada tanggal 20 November 2018. Bertepatan dengan peringatan hari lahir Rasulullaah SAW
  2. Ibnu Katsir. 2013. Qoshosul Anbiya, Edisi Terjemah: Kisah Para Nabi. Penerbit Ummul Qura, Jakarta.
  3. Feature image credit to moroccoworldnews.com

Kisah Nabi Adam AS: Benarkah Adam Manusia Pertama Di Dunia?

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Tulisan mengenai “Kisah Nabi Adam AS: Benarkah Adam Manusia Pertama Di Dunia?” ini merupakan lanjutan dari artikel saya sebelumnya tentang “Silsilah Lengkap Para Nabi dan Rasul dari Adam AS. sampai Muhammad SAW”. Mengingat artikel tersebut sudah cukup panjang, maka tulisan tentang Nabi Adam AS. ini saya buatkan tersendiri.

Kisah tentang Nabi Adam AS menarik untuk dibahas tidak hanya karena beliau adalah Nabi pertama yang diutus, namun juga dikenal sebagai “bapak moyangnya” manusia. Dalam Al Quran pun Allah kadang menyebut manusia sebagai “Bani Adam” atau keturunan Adam. Namun demikian, benarkah Adam adalah manusia pertama di Bumi ini?. Bagaimana dengan teori yang menyatakan tentang manusia purba dengan segala tahapan perkem

Silsilah Manusia di Dunia (Pict. cretit to http://www.thequranblog.com)

bangannya?

Diskursus tentang hal tersebut pada dasarnya bukan barang baru, bahkan jauh sebelum Charles Darwin mengeluarkan teori evolusinya yang terkenal itu. Para ilmuwan Islam telah membahas tentang gineologi manusia. Bagaimana sebenarnya asal-usul manusia. Sebagaimana ditulis oleh Nasih Nasrullah (2015), beberapa Ilmuwan Islam seperti Abu Makhnaf Luth bin Yahya (157 H) dalam karyanya berjudul Bahr an-Nishab, lalu ada Amir bin Hafsh (170 H) dengan tulisannya an-Nasab al-Kabir dan Kitab al-Kamil fi an-Nasab besutan Ibnu Thabathaba (4

 

49 H), serta masih banyak lagi karya-karya Ilmuwan Islam terdahulu tentang gineologi manusia.

Dan ternyata memang belum ada kesepakatan diantara para ilmuwan itu mengenai siapa sebenarnya manusia pertama di dunia. Bahkan beberapa sejarawan menganggap bahwa Nabi Adam hanyalah menyandang sebutan “Bapak Manusia” atau Abul Insan, tapi bukanlah muara dari keturunan manusia di dunia (Nasih Nasrullah, 2015). Sejarawan Islam seperti Ibn al-Atsir, at-Thabari, al-Muqrizi, bahkan berpendapat bahwa jutaan tahun sebelum Adam, telah ada eksistensi manusia di muka bumi ini.

Hal ini juga senada dengan yang diungkapkan oleh pakar tafsir Quran Profesor Quraish Shihab. Dalam wawancara pada acara “Shihab dan Shihab” yang dipandu anaknya sendiri Najwa Shihab, beliau mengatakan bahwa di dalam Al Quran memang disebutkan tentang proses penciptaan manusia. Mulai dari dibentuk dengan tanah hingga ditiupkan ruh sehingga akhirnya jadilah Adam.

Ayat Quran Tentang Proses Penciptaan Manusia (Pic. by Ensiklopedia Mu’jizat Al Quran)

Hanya saja beliau menjelaskan bahwa, proses antara diciptakan dari tanah lalu ditiup ruh itu mungkin ada proses lainnya yang tidak disebutkan dalam Al Quran. Quraish Shihab mengibaratkan bahwa proses penciptaan manusia itu seperti susunan huruf abjad dari A sampai Z. Proses pembentukan dari tanah ibarat A dan proses ditiup dengang ruh hingga selesai jadi manusia itu Z. Antara A sampai Z itu tentu ada bahkan banyak huruf lain, yang memungkinkan adanya tahapan lain yang tidak disebutkan oleh Al Quran.

Disitulah ilmu pengetahuan mempunyai kewajiban untuk menjawabnya. Karena Al Quran sudah membuat clue_nya, tinggal manusia membuktikan dengan ilmu. Kita boleh tidak sependapat dengan teori Darwin, tp jawablah dengan ilmu. Buktikan dengan ilmu pengetahuan.

Dari sini memunculkan peluang untuk para ilmuwan muslim untuk membuktikan tentang siapa sebenarnya “bapak manusia” itu sebenarnya. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai asal-usul manusia yang didasarkan pada Al Quran dan didukung dengan ilmu pengetahuan. Wallahu a’lam

Yogyakarta, 14 November 2018.

References:

  1. Ibnu Katsir. 2013. Qoshosul Anbiya, Edisi Terjemah: Kisah Para Nabi. Penerbit Ummul Qura, Jakarta.
  2. Quraish Shihab. 2018. Sains dan Teknologi dalam Islam: Lebih Dulu Nabi Adam atau Manusia Purba?. Youtube Shihab & Shihab, accessed from: https://www.youtube.com/watch?v=l0S9r2X0g1g&t=10s. Shihab & Shihab – Sains dan Teknologi dalam Islam: Lebih Dulu Nabi Adam atau Manusia Purba? (Part 1)
  3. Nasih Nasrullah. 2015. Adam Bukan Manusia Pertama?. Republika Online, 27 Maret 2015. Accessed from: https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/15/03/27/nltw5g-adam-bukan-manusia-pertama
  4. Maqdis. Proses Penciptaan Nabi Adam. Accessed by: http://mukjizat-alquran-hadist.blogspot.com/2013/04/proses-penciptaan-adam-ensiklopedia-mukjizat-alquran-hadis.html
  5. Pict. credit to http://www.islamijankari.com, http://www.google.com

11 Hal Yang Tidak Bisa Dibeli Dengan Uang

Pict Credit by joshuahook.com

By: Heri Akhmadi, M.A.

Tulisan mengenai “11 Hal Yang Tidak Bisa Dibeli Dengan Uang” adalah materi yang saya sampaikan pada kegiatan silaturahim keluarga besar di Rembang pada Hari Senin, 18 Juni 2018. Semoga bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua selama Idul Fitri, selamat membaca…

————————

Idul fitri selama ini dikenal dengan bulan silaturahmi, dimana saudara saling kumpul menjalin ikatan yang setahun lamanya tidak bertemu. Namun demikian, selain sebagai bulan silaturahmi, idul fitri juga sebagai bulan peningkatan ekonomi, yaitu dimana terjadi peningkatan aktivitas ekonomi terutama dari kota ke desa. Hal ini salah satunya bisa dilihat dari meningkatnya perputaran uang selama lebaran. Bank Indonesia (BI) memprediksi, perputaraan uang selama periode libur Lebaran ini sedikitnya mencapai Rp 188,2 triliun.1 (Harian Kompas, 12 Juni 2018). Tentu suatu jumlah yang tidak sedikit untuk suatu aktivitas yang hanya berlangsung beberapa hari. -baca selengkapnya->

Fiqh Shalat 4 Madzhab

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Tulisan saya mengenai “Fiqh Sholat 4 Madzhab” ini saya buat bukan karena saya ahli fiqh atau ustadz, meski saya pernah 6 (enam) tahun “mondok” di Ponpes MWI Karangduwur Petanahan Kebumen. Tapi tulisan ini saya dedikasikan justeru yang pertama untuk diri saya sendiri. Karena saya ingat apa kata guru saya dulu waktu “mondok”, bahwa dalam hal ibadah kita tidak seharusnya selalu “taqlid” (mengikuti tanpa tahu dasarnya) pada seorang guru/ustadz atau kyai, karena taqlid itu hanya kepada Rasul. SAW. Tetapi seharusnya “ittiba”, yaitu mengikuti dengan memahami dalil/dasarnya.

Untuk itu, tulisan tentang “Fiqh Sholat 4 Madzhab” ini adalah bagian dari upaya kecil saya untuk keluar dari zona taqlid menuju zona ittiba‘. Semoga upaya kecil ini dapat menjadi awal dari saya untuk lebih memahami dasar saya dalam beribadah. Banyak yang masih kurang tentunya karena keterbatasan ilmu dan referansi saya. Masukan dari teman-teman pembaca dan para ustadz atau kyai tentu saya sangat harapkan dengan tangan terbuka. Demikian, selamat membaca semoga bermanfaat…

“Pengantar”

Dakwah yang hanya berpegang kepada satu pendapat ulama, tanpa memberi ruang bagi pendapat ulama lain, akan melahirkan jamaah bersikap fanatik dengan klaim kebenaran mutlak atas pendapatnya, dan langsung menganggap bid’ah serta sesat pemikiran ulama yang tidak sehaluan dengan pikirannya. Terkadang, dengan dalih berpegang kepada hadits sahih, mereka berani memvonis pendapat yang lain itu tidak mengikut sunnah Nabi. Padahal, penilaian tentang sahih atau lemahnya (dha’if) sebuah hadits itu tidak terlepas dari perbedaan metodologi penilaian yang digunakan para ulama. Hadits yang lemah menurut satu ulama, bisa saja sahih menurut penilaian ulama yang lain. Diantaranya dalam praktek sholat.

Shalat merupakan rukun kedua dari lima rukun Islam. Umat Islam sepakat bahwa menjalankan ibadah shalat 5 waktu (subuh, dhuhur, ashar, maghrib, dan isya’) adalah kewajiban. Tapi ternyata banyak perbedaan pada teknis pelaksanaan dari menjalankan ibadah shalat itu, meskipun hukumnya sama-sama wajib.

Semua orang Islam sepakat bahwa orang yang menentang kewajiban shalat wajib lima waktu atau meragukannya, ia bukan termasuk orang Islam, sekalipun ia mengucapkan syahadat, karena shalat termasuk salah satu rukun Islam. (Mughniyah; Fikih 4 Madzhab 2001). Namun para ulama mazhab berbeda pendapat tentang hukum orang yang meninggalkan shalat karena malas dan meremehkan, dan ia meyakini bahwa shalat itu wajib. (Mughniyah; 2001) Syafi’i, Maliki dan Hambali : Harus dibunuh, Hanafi : ia aharus ditahan selama-lamanya, atau sampai ia shalat. (Mughniyah; 2001)

Berikut ini pendapat 4 Imam Madzhab (Maliki, Hambali, Hanafi dan Syafi’i) terkait rukun-rukun dan fardhu-fardhu shalat :

1. NIAT

Semua ulama mazhab sepakat bahwa mengungkapkan niat dengan kata-kata tidaklah diminta. (Mughniyah; 2001). Ibnu Qayyim berpendapat dalam bukunya Zadul Ma’ad, sebagaimana yang dijelaskan dalam jilid pertama dari buku Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah, sebagai berikut : Nabi Muhammad saw bila menegakkan shalat, beliau langsung mengucapkan “Allahu akbar” dan beliau tidak mengucapkan apa-apa sebelumnya, dan tidak melafalkan niat sama sekali.

2. TAKBIRATUL IHRAM

Shalat tidak akan sempurna tanpa takbiratul ihram. Nama takbiratul ihram ini berdasarkan sabda Rasulullah saw :“Kunci shalat adalah bersuci, dan yang mengharamkannya (dari perbuatan sesuatu selain perbuatan-perbuatan shalat) adalah takbir, dan penghalalnya adalah salam.”

Maliki dan Hambali :
kalimat takbiratul ihram adalah “Allah Akbar” (Allah Maha Besar) tidak boleh menggunakan katakata lainnya.
Hanafi :
boleh dengan kata-kata lain yang sesuai atau sama artinya dengan kata-kata tersebut, seperti “Allah Al-A’dzam” dan “Allahu Al-Ajall” (Allah Yang Maha Agung dan Allah Yang Maha Mulia). (Mughniyah; 2001)
Syafi’i :
boleh mengganti “Allahu Akbar” dengan ”Allahu Al-Akbar”, ditambah dengan alif dan lam pada kata “Akbar”. (Mughniyah; 2001)

Mengenai bahasa pengucapan takbirotul ikrom

Syafi’i, Maliki dan Hambali sepakat bahwa mengucapkannya dalam bahasa Arab adalah wajib,walaupun orang yang shalat itu adalah orang ajam (bukan orang Arab).
Hanafi : Sah mengucapkannya dengan bahasa apa saja, walau yang bersangkutan bisa bahasa Arab.
Semua ulama mazhab sepakat : syarat takbiratul ihram adalah semua yang disyaratkan dalamshalat. Kalau bisa melkitakannya dengan berdiri; dan dalam mengucapkan kata “Allahu Akbar” ituharus didengar sendiri, baik terdengar secara keras oleh dirinya, atau dengan perkiraan jika ia tuli.(Mughniyah; 2001)

3. BERDIRI

semua ulama mazhab sepakat bahwa berdiri dalam shalat fardhu itu wajib sejak mulai dari takbiratul ihram sampai ruku’, harus tegap, bila tidak mampu ia boleh shalat dengan duduk. Bila tidak mampu duduk, ia boleh shalat dengan miring pada bagian kanan, seperti letak orang yang meninggal di liang lahat, menghadapi kiblat di hadapan badannya, menurut kesepakatan semua ulama mazhab selain Hanafi.

Hanafi berpendapat : siapa yang tidak bisa duduk, ia boleh shalat terlentang dan menghadap kiblat dengan dua kakinya sehingga isyaratnya dalam ruku’ dan sujud tetap menghadap kiblat. . Hanafi : bila sampai pada tingkat ini tetapi tidak mampu, maka gugurlah perintah shalat baginya, hanya ia harus melaksanakannya (meng-qadha’-nya) bila telah sembuh dan hilang sesuatu yang menghalanginya. (Mughniyah;2001)

Syafi’i dan Hambali :
Dan bila tidak mampu miring ke kanan, maka menurut Syafi’i dan Hambali ia boleh shalat terlentang dan kepalanya menghadap ke kiblat. Bila tidak mampu juga, ia harus mengisyaratkan dengan kepalanya atau dengan kelopak matanya.
Syafi’i dan Hambali :shalat itu tidaklah gugur dalam keadaan apa pun. Maka bila tidak mampu mengisyaratkan dengan kelopak matanya (kedipan mata), maka ia harus shalat dengan hatinya dan menggerakkan lisannya dengan dzikir dan membacanya. Bila juga tidak mampu untuk menggerakkan lisannya, maka ia harus menggambarkan tentang melkitakan shalat di dalam hatinya selama akalnya masih berfungsi.

Maliki :
bila sampai seperti ini, maka gugur perintah shalat terhadapnya dan tidak diwajibkan mengqadha’-nya. (Mughniyah; 2001)

4. Membaca AL-FATIHAH

Hanafi :
membaca Al-Fatihah dalam shalat fardhu tidak diharuskan, dan membaca bacaan apa saja dari AlQuran itu boleh, berdasarkan Al-Quran surat Muzammil ayat 20 : (Mughniyah; 2001). ”Bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Quran,” (Bidayatul Mujtahid, Jilid I, halaman 122, dan Mizanul Sya’rani, dalam bab shifatus shalah).

Boleh meninggalkan basmalah, karena ia tidak termasuk bagian dari surat. Dan tidak disunnahkan membacanya dengan keras atau pelan. Orang yang shalat sendiri ia boleh memilih apakah mau didengar sendiri (membaca dengan perlahan) atau mau didengar oleh orang lain (membaca dengan keras), dan bila suka membaca dengan sembunyi-sembunyi, bacalah dengannya. Dalam shalat itu tidak ada qunut kecuali pada shalat witir. Sedangkan menyilangkan dua tangan adalah sunnah bukan wajib. Bagi lelaki adalah lebih utama bila meletakkan telapak tangannya yang kanan di atas belakang telapak tangan yang kiri di bawah pusarnya, sedangkan bagi wanita yang lebih utama adalah meletakkan dua tangannya di atas dadanya. (Mughniyah; 2001)

Syafi’i :
membaca Al-Fatihah adalah wajib pada setiap rakaat tidak ada bedanya, baik pada dua rakaat pertama maupun pada dua rakaat terakhir, baik pada shalat fardhu maupun shalat sunnah. Basmalah itu merupakan bagian dari surat, yang tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apa pun. Dan harus dibaca dengan suara keras pada shalat subuh, dan dua rakaat pertama pada shalat maghrib dan isya’, selain rakaat tersebut harus dibaca dengan pelan. Pada sholat subuh disunnahkan membaca qunut setelah mengangkat kepalanya dari ruku’ pad rakaat kedua sebagaimana juga disunnahkan membaca surat Al-Quran setelah membaca Al-Fatihah pada dua rakaat yang pertama saja. Sedangkan menyilangkan dua tangan bukanlah wajib, hanya disunnahkan bagi lelaki dan wanita. Dan yang paling utama adalah meletakkan telapak tangannya yang kanan di belakang telapak tangannya yang kiri di bawah dadanya tapi di atas pusar dan agak miring ke kiri. (Mughniyah; 2001)

Maliki :
membaca Al-Fatihah itu harus pada setiap rakaat, tak ada bedanya, baik pada rakaat-rakaat pertama maupun pada rakaat-rakaat terakhir, baik pada shalat fardhu maupun shalat sunnah, sebagaimana pendapat Syafi’i, dan disunnahkan membaca surat Al-Quran setelah Al-Fatihah pada dua rakaat yang pertama.
Basmalah bukan termasuk bagian dari surat, bahkan disunnahkan untuk ditinggalkan. Disunnahkan menyaringkan bacaan pad shalat subuh dan dua rakaat pertama pada shalat maghrib dan isya’, serta qunut pada shalat subuh saja. Sedangkan menyilangkan kedua tangan adalah boleh, tetapi disunnahkan untuk mengulurkan dua tangan pada shalat fardhu. (Mughniyah; 2001)

Hambali :
wajib membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat, dan sesudahnya disunnahkan membaca surat AlQuran pada dua rakaat yang pertama. Dan pada shalat subuh, serta dua rakaat pertama pada shalat maghrib dan isya’ disunnahkan membacanya dengan nyaring.
Basmalah merupakan bagian dari surat, tetapi cara membacanya harus pelan-pelan dan tidak boleh dengan keras. Qunut hanya pada shalat witir bukan pada shalat-shalat lainnya. Sedangkan menyilangkan dua tangan disunahkan bagi lelaki dan wanita, hanya yang paling utama adalah meletakkan telapak tangannya yang kanan pada belakang telapak tangannya yang kiri, dan meletakkan di bawah pusar.

Empat mazhab menyatakan bahwa membaca amin adalah sunnah, berdasarkan hadits Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda : kalau ingin mengucapkan Ghairil maghdzubi ’alaihim waladzdzaallin, maka kalian harus mengucapkan amin.”

5. RUKU’

Semua ulama mazhab sepakat bahwa ruku’ adalah wajib di dalam shalat. Namun mereka berbeda pendapat tentang wajib atau tidaknya ber-thuma’ninah di dalam ruku’, yakni ketika ruku’ semua anggota badan harus diam, tidak bergerak.

Hanafi :
yang diwajibkan hanya semata-mata membungkukkan badan dengan lurus, dan tidak wajib thuma’ninah. Mazhab-mazhab yang lain : wajib membungkuk sampai dua telapak tangan orang yang shalat itu berada pada dua lututnya dan juga diwajibkan ber-thuma’ninah dan diam (tidak
bergerak) ketika ruku’.

Syafi’i, Hanafi, dan Maliki :
tidak wajib berdzikir ketika shalat, hanya disunnahkan saja mengucapkan :
Subhaana rabbiyal ’adziim (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung”)
Hambali :
membaca tasbih ketika ruku’ adalah wajib.  Kalimatnya menurut Hambali :
Subhaana rabbiyal ’adziim (”Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung”)

6. I’TIDAL

Hanafi : tidak wajib mengangkat kepala dari ruku’ yakni i’tidal (dalam keadaan berdiri).
Dibolehkan untuk langsung sujud, namun hal itu makruh. Mazhab-mazhab yang lain : wajib mengangkat kepalanya dan ber-i’tidal, serta disunnahkan membaca tasmi’, yaitu mengucapkan : Sami’allahuliman hamidah (Allah mendengar orang yang memuji-Nya”)

7. SUJUD

Semua ulama mazhab sepakat bahwa sujud itu wajib dilkitakan dua kali pada setipa rakaat. Mereka berbeda pendapat tentang batasnya. (Mughniyah; 2001)
Maliki, Syafi’i, dan Hanafi : yang wajib (menempel) hanya dahi, sedangkan yang lain-lainnya adalah sunnah.
Hambali :
yang diwajibkan itu semua anggota yang tujuh (dahi, dua telapak tangan, dua lutut, dan ibu jari dua kaki) secara sempurna. Bahkan Hambali menambahi hidung, sehingga menjadi delapan.

Perbedaan juga terjadi pada tasbih dan thuma’ninah di dalam sujud, sebagaimana dalam ruku’. Maka mazhab yang mewajibkannya di dalam ruku’ juga mewajibkannya di dalam sujud. Hanafi : tidak diwajibkan duduk di antara dua sujud itu. Mazhab-mazhab yang lain : wajib duduk di antara dua sujud. (Mughniyah; 2001)

8. TAHIYYAT

Tahiyyat di dalam shalat dibagi menjadi dua bagian :
pertama yaitu tahiyyat yang terjadi setelah dua rakaat pertama dari shalat maghrib, isya’, dzuhur, dan ashar dan tidak diakhiri dengan salam. Yang kedua adalah tahiyyat yang diakhiri dengan salam, baik pada shalat yang dua rakaat, tiga, atau empat rakaat. (Mughniyah; 2001)

Tahiyyat Awal
Hambali : tahiyyat pertama itu wajib. Mazhab-mazhab lain : hanya sunnah.

Tahiyyat Akhir

Hanafi : hanya sunnah, bukan wajib. Kalimat (lafadz) tahiyyat :
Attahiyatu lillahi washolawaatu waththoyyibaatu wassalaamu
Kehormatan itu kepunyaan Allah, shalawat dan kebaikan serta salam sejahtera
’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh
Kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta barakah-Nya
Assalaamu’alainaa wa ’alaa ’ibaadillahishshoolihiin
Semoga kesejahteraan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh
Asyhadu anlaa ilaaha illallah
Kita bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah
Waasyhadu anna muhammadan ’abduhu warosuuluh
Dan kita bersaksi bahwa muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya

Maliki ;
Hukumnya hanya sunnah, bukan wajib. Kalimat (lafadz) tahiyyat :
Attahiyyatu lillaahi azzaakiyaatu lillaahi aththoyyibaatu ashsholawaatu lillah
Kehormatan itu kepunyaan Allah, kesucian bagi Allah, kebaikan dan shalawat juga bagi Allah
Assalaamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh
Salam sejahtera kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta barakah-Nya
Assalaamu’alainaa wa ’alaa ’ibaadillahishshoolihiin
Semoga kesejahteraan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh
Asyhadu anlaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah
Kita bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa tidak ada sekutu bagi-Nya
Waasyhadu anna muhammadan ’abduhu warosuuluh
Dan kita bersaksi bahwa muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya

Syafi’i :
Hukumnya wajib. Kalimat (lafadz) tahiyyat :
Attahiyyatul mubaarokaatush sholawaatuth thoyyibaatu lillaah
Kehormatan, barakah-barakah, shalawat, dan kebaikan adalah kepunyaan Allah
Assalaamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh
Salam sejahtera kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta barakah-Nya
Assalaamu’alainaa wa ’alaa ’ibaadillahishshoolihiin
Semoga kesejahteraan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh
Asyhadu anlaa ilaaha illallah
Kita bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah
Waasyhadu anna muhammadan ’abduhu warosuuluh
Dan kita bersaksi bahwa muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya

Hambali :
Hukumnya wajib. Kalimat (lafadz) tahiyyat :
Attahiyyatu lillahi washsholawaatu waththoyyibaatu
Kehormatan itu kepunyaan Allah, juga shalawat dan kebaikan
Assalaamu’alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh
Salam sejahtera kepadamu, wahai Nabi, dan rahmat Allah serta barakah-Nya
Assalaamu’alainaa wa ’alaa ’ibaadillahishshoolihiin
Semoga kesejahteraan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh
Asyhadu anlaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah
Kita bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa tidak ada sekutu bagi-Nya
Waasyhadu anna muhammadan ’abduhu warosuuluh
Dan kita bersaksi bahwa muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya
Allahumma sholli ’alaa muhammad
Ya Allah, berikanlah shalawat kepada muhammad

9. Mengucapkan SALAM
Menurut empat mazhab, kalimatnya sama yaitu :
Assalaamu’alaikum warahmatullaah
Semoga kesejahteraan dan rahmat Allah tercurah kepada kalian
Syafi’i, Maliki, dan Hambali : mengucapkan salam adalah wajib. Hanafi : tidak wajib. (Bidayatul Mujtahid, Jilid I, halaman 126).
Hambali : wajib mengucapkan salam dua kali, sedangkan yang lain hanya mencukupkan satu kali saja yang wajib.

10. TERTIB
Diwajibkan tertib antara bagian-bagian shalat. Maka takbiratul Ihram wajib didahulukan dari bacaan Al-Quran (salam atau Al-Fatihah), sedangkan membaca Al-Fatihah wajib didahulukan dari ruku’, dan ruku’ didahulukan daru sujud, begitu seterusnya.

Berturut-turut
diwajibkan mengerjakan bagian-bagian shalat secara berurutan dan langsung, juga antara satu bagian dengan bagian yang lain. Artinya membaca Al-Fatihah langsung setelah bertakbir tanpa ada selingan. Dan mulai ruku’ setelah membaca Al-Fatihah atau ayat Al-Quran, tanpa selingan, begitu seterusnya. Juga tidak boleh ada selingan lain, antara ayat-ayat, kalimat-kalimat, dan huruf-huruf.

Jogja, 29 April 2016.

Daftar Pustaka
As’ad, Aliy. 1980. ”Fathul Mu’in”. Kudus: Menara Kudus.
Mughniyah, Muhammad Jawad. 2001. ”Fiqih Lima Mazhab”. Jakarta: Lentera.
Muttaqin, Zainal, dkk. 1987. ”Pendidikan Agama Islam Fiqh”. Semarang: PT Karya tiga Putra.
Rasjid, Sulaiman. 2010. ”Fiqh Islam”. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Ridlwan, Dahlan, dkk. 2005. ”Fiqh”. Jakarta : Media Ilmu.
Rifa’i, Mohammad. 1976. ”Risalah Tuntunan Shalat Lengkap”. Semarang : PT. Karya Toha Putra.
http://riau.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=13571
http://jejakjejakjejak.wordpress.com/2011/07/27/

Kisah Inspiratif: Pelajaran Dalam Mendidik Anak*

Dari kisah nyata seorang guru. Di suatu sekolah dasar, ada seorang guru yang selalu tulus mengajar dan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh membuat suasana kelas yang baik untuk murid-muridnya.

Ketika guru itu menjadi wali kelas 5, seorang anak–salah satu murid di kelasnya– selalu berpakaian kotor dan acak-acakan. Anak ini malas, sering terlambat dan selalu mengantuk di kelas. Ketika semua murid yang lain mengacungkan tangan untuk menjawab kuis atau mengeluarkan pendapat, anak ini tak pernah sekalipun mengacungkan tangannya.

Guru itu mencoba berusaha, tapi ternyata tak pernah bisa menyukai anak ini. Dan entah sejak kapan, guru itu pun menjadi benci dan antipati terhadap anak ini. Di raport tengah semester, guru itu pun menulis apa adanya mengenai keburukan anak ini.

Suatu hari, tanpa disengaja, guru itu melihat catatan raport anak ini pada saat kelas 1. Di sana tertulis “Ceria, menyukai teman-temannya, ramah, bisa mengikuti pelajaran dengan baik, masa depannya penuh harapan,”

“..Ini pasti salah, ini pasti catatan raport anak lain….,” pikir guru itu sambil melanjutkan melihat catatan berikutnya raport anak ini.

Di catatan raport kelas 2 tertulis, “Kadang-kadang terlambat karena harus merawat ibunya yang sakit-sakitan,”

Di kelas 3 semester awal, “Sakit ibunya nampaknya semakin parah, mungkin terlalu letih merawat, jadi sering mengantuk di kelas,”

Di kelas 3 semester akhir, “Ibunya meninggal, anak ini sangat sedih terpukul dan kehilangan harapan,”

Di catatan raport kelas 4 tertulis, “Ayahnya seperti kehilangan semangat hidup, kadang-kadang melakukan tindakan kekerasan kepada anak ini,”

Terhentak guru itu oleh rasa pilu yang tiba-tiba menyesakkan dada. Dan tanpa disadari diapun meneteskan air mata, dia mencap memberi label anak ini sebagai pemalas, padahal si anak tengah berjuang bertahan dari nestapa yang begitu dalam…
Terbukalah mata dan hati guru itu. Selesai jam sekolah, guru itu menyapa si anak: “Bu guru kerja sampai sore di sekolah, kamu juga bagaimana kalau belajar mengejar ketinggalan, kalau ada yang gak ngerti nanti Ibu ajarin,”

Untuk pertama kalinya si anak memberikan senyum di wajahnya.

Sejak saat itu, si anak belajar dengan sungguh-sungguh,

prepare dan review dia lakukan dibangkunya di kelasnya.

Guru itu merasakan kebahagian yang tak terkira ketika si anak untuk pertama kalinya mengacungkan tanganya di kelas. Kepercayaan diri si anak kini mulai tumbuh lagi.

Di Kelas 6, guru itu tidak menjadi wali kelas si anak.

Ketika kelulusan tiba, guru itu mendapat selembar kartu dari si anak, di sana tertulis. “Bu guru baik sekali seperti Bunda, Bu guru adalah guru terbaik yang pernah aku temui.”

Enam tahun kemudian, kembali guru itu mendapat sebuah kartu pos dari si anak. Di sana tertulis, “Besok hari kelulusan SMA, Saya sangat bahagia mendapat wali kelas seperti Bu Guru waktu kelas 5 SD. Karena Bu Guru lah, saya bisa kembali belajar dan bersyukur saya mendapat beasiswa sekarang untuk melanjutkan sekolah ke kedokteran.”

Sepuluh tahun berlalu, kembali guru itu mendapatkan sebuah kartu. Di sana tertulis, “Saya menjadi dokter yang mengerti rasa syukur dan mengerti rasa sakit. Saya mengerti rasa syukur karena bertemu dengan Ibu guru dan saya mengerti rasa sakit karena saya pernah dipukul ayah,”

Kartu pos itu diakhiri dengan kalimat, “Saya selalu ingat Ibu guru saya waktu kelas 5. Bu guru seperti dikirim Tuhan untuk menyelamatkan saya ketika saya sedang jatuh waktu itu. Saya sekarang sudah dewasa dan bersyukur bisa sampai menjadi seorang dokter. Tetapi guru terbaik saya adalah guru wali kelas ketika saya kelas 5 SD.”

Setahun kemudian, kartu pos yang datang adalah surat undangan, di sana tertulis satu baris,

“mohon duduk di kursi Bunda di pernikahan saya,”

Guru pun tak kuasa menahan tangis haru dan bahagia.

—————-

*Kisah ini saya dapatkan dari salah satu grup WhatsApp saya, karena cukup inspiratif bagi pendidik seperti saya, jadi saya share di sini. Keterangan mengenai penulisnya tidak diketahui siapa sebenarnya, khas seperti halnya tulisan share di media sosial. Jadi barangkali ada yang mengetahui, saya berterima kasih sekali jika ada yang menambahkan di sini. Saya hanya menambahkan judul karena di file yang saya terima memang tidak ada judulnya