5 Alasan Kuliah di Thailand

Oleh: Heri Akhmadi, S.P., M.A.*

Saya sering ditanya oleh beberapa teman, ”kenapa sih ambil S2 di Thailand?”. Bahkan teman saya yang asli Thailand pun menanyakan hal serupa. Hal ini wajar saja karena memang Thailand bukan tujuan “konvensional” umumnya pelajar Indonesia untuk studi S2 atau S3. Bahkan warga Thailand sendiri juga heran koq bisa pelajar Indonesia memilih negaranya untuk studi lanjut di sana.

Pertanyaan lain yang sering ditanyakan juga adalah, apa sih istimewanya Thailand sehingga seseorang – yang bukan warga negara Thailand – memutuskan menempuh pendidikannya di sana?, apa keunggulan pendidikan di Thailand yang membuat pelajar Indonesia memilihnya dibanding ke negara lainnya?. Pertanyaan-pertanyaan itu dan pertanyaan serupa akan saya coba jawab – berdasarkan pengalaman saya studi di sana – dalam tulisan saya kali ini tentang “5 Alasan Kuliah di Thailand” semoga bisa memberikan jawaban. Selamat membaca….

Alasan Pertama, Kualitas Pendidikan Thailand lebih bagus dari Indonesia

Ini barangkali alasan “Ideologis”. Ya, tentu wajar kalau kita melanjutkan jenjang pendidikan ke institusi yang kualitasnya lebih baik dari sebelumnya. Dan tahukah anda bahwa meski memang Thailand tidak sekaya Amerika, tidak seterkenal Eropa, tidak secanggih Jepang bahkan tidak sebersih Singapura namun dalam bidang pendidikan (tinggi) masih lebih baik dari Indonesia. Tentu tidak semua kampus di Thailand lebih unggul dari Indonesia, tetapi kita bandingkan saja kampus-besarnya dengan kampus unggulan kita di Indonesia semisal UI, UGM, ITB atau IPB dengan kampus-kampus besar Thailand seperti Chulalongkorn University, Mahidol, Kasetsart atau Thamassat University. Mudah saja, kita lihat peringkat universitasnya di lembaga pemeringkat semisal QS World, Webrometic atau TimesHigher. Data terbaru tahun 2015 bisa dilihat dalam tabel berikut:

Tabel Peringkat Universitas Tahun 2015

No

Universitas

Negara

Peringkat QS World

Peringkat Webometrics

1

Chulalongkorn Thailand 253 422

2

Mahidol Thailand 295 299

3

Chiang Mai Thailand 551-600 481

4

Thammasat Thailand 601-650 793

5

Kasetsart Thailand 651-700 372
 

1

UI Indonesia 358 909

2

ITB Indonesia 431-440 781

3

UGM Indonesia 551-600 819

4

UNAIR Indonesia 701+ 1440

5

IPB Indonesia 701+ 1554

Data terbaru tahun 2018 mengenai peringkat universitas di Thailand dan Indonesia tersaji pada tabel di bawah ini. Terlihat beberapa kampus baik di Indonesia maupun Thailand mengalami peningkatan, namun ada juga yang turun drastis peringkatnya.

No Universitas Negara Peringkat QS World Peringkat Webometrics
1 Chulalongkorn Thailand 245 548
2 Mahidol Thailand 334 568
3 Chiang Mai Thailand 551-600 746
4 Thammasat Thailand 601-650 1156
5 Kasetsart Thailand 751-800 751
 
1 UI Indonesia 277 888
2 ITB Indonesia 331 1235
3 UGM Indonesia 401-450 924
4 UNAIR Indonesia 701-750 2902
5 IPB Indonesia 751-800 1462

Sumber: QS World University Ranking dan Webometrics.

Tabel di atas menunjukkan bagaimana posisi beberapa perguruan tinggi Indonesia dibandingkan dengan Thailand. Terlihat bahwa meski tidak terpaut terlalu jauh, tapi secara peringkat harus kita akui bahwa pendidikan tinggi di Thailand masih lebih baik daripada negara kita Indonesia. Bahkan menurut data Times Higher Education World University Rankings 2015, dari 800 kampus top dunia di daftar mereka, Thailand mengirimkan 7 wakilnya (Chula, Mahidol, Chiang Mai, Khon Kaen, KMUTT, PSU dan Suranaree University) sementara Indonesia hanya bisa mengirimkan satu perwakilan yaitu UI, itu pun di kisaran rangking 601-800. Sebuah gambaran akan seperti apa perbandingan antara kampus Indonesia dan Thailand.

Auditorium Chulalongkorn University

Kalau anda masih belum yakin akan data-data ini, bisa dibandingkan juga mengenai publikasi ilmiah di jurnal internasional (yang terindex) antara kampus Indonesia dan Thailand. Mengutip data yang disampaikan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Bangkok, Dr. Yunardi Yusuf, dalam kata sambutannya sebagaimana dituilskan dalam Buku “Merah Putih di Negeri Gajah Putih” (2015), bahwa berdasarkan data dari SCOPUS (salah satu indeks jurnal terpercaya di dunia) yang diakses pada Bulan Agustus 2013, publikasi ilmiah internasional satu universitas di Thailand misal Mahidol University sejumlah 20.392 dan Chulalongkorn University sekitar 16.874, jauh mengalahkan publikasi ilmiah universitas-universitas unggulan di Indonesia misalnya ITB dengan 2.992 karya atau UI yang hanya sekitar 2.645 pada tahun yang sama. Hal ini cukup menjadi gambaran bagaimana kualitas pendidikan di negeri gajah putih ini dibandingkan dengan perguruan tinggi Indonesia. Meski tentu kualitas pendidikan tidak hanya dilihat dari itu saja.

Saya tentu sedang tidak bermaksud membuat kita rendah diri mengenai kualitas pendidikan tinggi kita, tapi saya hanya ingin mengajak kita semua untuk sadar akan realita bahwa negara tetangga sudah cukup jauh melangkah ke depan. Dan kalau kita tidak segera berbenah maka akan semakin jauh tertinggal.

[Baca: Kuliah di Thailand, Sekilas Tentang Sistem, Bahasa Pengantar dan Suasana Pembelajaran]

Alasan kedua, Beasiswa

Ya beasiswa, siapa yang tidak mau beasiswa. Terlebih untuk studi di luar negeri yang jelas tidak pakai mata uang sendiri. Kalau boleh menamai, ini mungkin alasan “pragmatis” atau bisa juga alasan “ekonomis” hehe… Bayangkan saja untuk S2 di dalam negeri saja lumayan besar biayanya dan tidak semua orang bisa mengaksesnya. Terlebih menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Hanya mereka yang berkantong tebal atau punya orang tua super kaya yang bisa membiayai sendiri. Selebihnya orang-orang seperti saya harus berburu beasiswa untuk bisa mewujudkannya. Meski Thailand tidak semahal Jepang atau Singapura, tapi biaya kuliah plus biaya hidup tentu tidaklah murah.

Alhamdulillah sekarang tersedia banyak pilihan beasiswa untuk kuliah di Thailand. Bahkan beberapa kampus di Thailand seolah “sengaja” membuat program beasiswa khususnya untuk warga ASEAN. Dengan persyaratan dan birokrasi yang relatif mudah bahkan dibanding

Chula ASEAN Scholarship Awardee

kan dengan mengakses beasiswa di dalam negeri. Pengalaman saya sendiri mendapat ASEAN Scholarship di Chulalongkorn University cukup dengan mengirimkan berkas-berkas persyaratan dan tinggal “duduk manis” menunggu pengumuman. Berdoa tentu wajib dan harus dilakukan sebagai bagian dari usaha. Bandingkan dengan beasiswa di dalam negeri yang harus melalui beberapa tahapan seleksi yang perlu waktu, biaya dan juga tenaga.

Mengenai “Beasiswa Kuliah di Thailand”, mengingat banyaknya pembaca yang menanyakan ke saya tentang prosedur dan jenisnya, Alhamdulillah sudah saya buatkan tulisan khusus mengenai beberapa beasiswa kuliah di Thailand dan persyaratannya yang ditawarkan oleh pemerintah dan universitas-universitas di Thailand. Lebih detail bisa dibaca pada tulisan saya tentang “7 Beasiswa Kuliah di Thailand”.

[Baca: 7 Beasiswa Kuliah di Thailand]

Alasan Ketiga, Kesamaan Sosial Ekonomi

Alasan lainnya yang kadang diungkapkan oleh mereka (saya) yang memilih kuliah di Thailand adalah karena kesamaan sosial ekonomi. Bisa dikatakan mungkin ini alasan “sosiologis”. Ya sebagai sama-sama negara berkembang, tentu ilmu dan pengalaman belajar di Thailand diharapkan bisa lebih mudah diaplikasikan setelah selesai studi dan pulang ke kampung halaman.

Selain itu, kultur sosial yang relati tidak jauh berbeda dengan Indonesia, juga mempermudah mahasiswa untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Hal ini tentu mengurangi cultural shock yang biasanya dialami mahasiswa yang studi di luar negeri. Sehingga akan mendukung mahasiswa dalam proses belajarnya. Seperti Thailand misalnya, kultur masyarakatnya yang ramah akan mengingatkan seperti keramahan warga Jogjakarta. Bahkan kalau anda jalan-jalan di pasar-pasar tradisional di Bangkok misalnya, anda akan dengan mudah menemukan “jajanan” pasar yang mirip sekali seperti biasa kita temukan di Indonesia. Misalnya lemper, ketan, serabi, bakwan dan lain-lainnya. Buah-buahan dan makanan sehari-harinya pun tidak jauh berbeda. Bagi anda yang muslim juga tidak perlu khawatir mengenai makanan halal karena meski disini mayoritas Budha, tapi makanan halal tidak terlalu sulit di cari di Thailand.

[Baca: Mengenal Kultur dan Karakter Orang Thailand]

Alasan Keempat, Kedekatan lokasi

Thailand memang terletak ribuan kilometer dari Indonesia. Tapi dengan alat transportasi saat ini cukup ditempuh 3 jam saja dengan pesawat dari Jakarta (ke Bangkok). Bayangkan saja, saya yang tinggal di Purwokerto perlu setidaknya 5 jam untuk sampai ke Jakarta, padahal masih sama-sama di Indonesia. Ya, karena tidak ada pesawat (dan biar hemat) tentunya jadi pake kereta…hehe. Terlebih yang di Medan, menurut roommate saya di Thailand yang asli dari Medan, jauh lebih “dekat“ ke Bangkok bahkan daripada ke Palembang misalnya. Meski sama-sama naik pesawatnya. Tidak percaya?, saya juga awalnya tidak percaya. Alasannya sederhana, karena tidak ada direct flight dari Medan ke Palembang. Jadi pesawat yang mau ke Palembang harus transit ke Jakarta dahulu baru terbang lagi ke Palembang.

Barangkali anda akan bilang, meski dekat tapi naik pesawat kan mahal?. Ya tentu itu tidak salah, tapi kalo anda mau rajin melototin pergerakan harga saham….eh salah, maksudnya harga tiket pesawat berbiaya murah (low cost carrier) maka bukan tidak mungkin anda akan mendapatkan harga yang cukup terjangkau. Sekali lagi pengalaman teman saya yang asli medan bahkan pernah mendapatkan tiket promo Medan-Bangkok cuma 500an ribu perak!!…hampir sama dengan harga tiket kereta eksekutif Purwokerto-Jakarta yang sekitar 350 ribu.

Kelima, Biaya hidup relatif “murah”

Alasan terakhir ini masuk kategori alasan ekonomis. Dan Saya katakan relatif karena murah dan mahal itu bukan urusan duit, tapi lebih pada urusan dompet…hehe. Ya bagi yang berkantong tebal, makan satu porsi di foodcourt salah satu mall di Bangkok seharga 250 baht (sekitar Rp. 100.000, kurs 1 baht = Rp.400) mungkin biasa saja. Tapi bagi mahasiswa pas-pasan seperti saya tentu cukup makan di kantin kampus dengan harga yang cukup bersahabat sekitar 35 baht (Rp.12.000). Bahkan menurut cerita teman-teman yang kuliah di daerah “pinggiran” Bangkok seperti di Thammasat University kampus Rangsit (sekitar 45 menit dari Bangkok) atau di Asian Institute of Technology (AIT) di Pathumtani, mereka masih bisa menemukan warung makan dengan harga 20-25 baht (sekitar Rp.8.000-Rp.10.000) per porsi, dan halal lagi.

Amazing kan, padahal rata-rata biaya makan di Indonesia saja sekarang sudah naik cukup signifikan. Jaman saya kuliah S1 dulu, awal tahun 2000an (jadi kebuka kalo sudah senior ya…hehe) di Purwokerto masih bisa makan satu porsi Rp. 1.500 – 2.500. Sekarang rata-rata 10.000an ke atas. Bagaimana dengan Jakarta atau kota besar lainnya, saya kira anda sudah bisa membayangkan berapa kisaran harganya.

[Baca: Memilih Tempat Tinggal dan Menghitung Biaya Hidup di Thailand]

Dan satu lagi mengenai biaya hidup di Thailand yang perlu anda ketahui (maklum anak ekonomi kalo itungan duit memang…hehehe), tingkat inflasi di Thailand relatif rendah. berkisar antara 1-3 persen per tahun. Artinya, biaya hidup relatif “stabil”. Saya kasih contoh sederhana, waktu pertama kali saya datang ke Thailand, satu gelas Chayen (minuman teh tarik khas Thailand) bisa dibeli cukup dengan 2o baht (sekitar Rp. 8.000). Sampai saya lulus kuliah (sekitar 2 tahun), harganya tetap 20 baht. Beberapa makanan juga relatif tetap harganya. Padahal ketika saya pulang kampung ke Indonesia, kaget bukan main tahu harga-harga barang naiknya luar biasa. Contoh gampang baru keluar bandara naik DAMRI ke Stasiun Gambir, dulu (waktu mo berangkat ke Thailand) masih Rp. 25.000, saat pulang kampung sudah Rp. 40.000. Naik hampir 100%!, hanya dalam waktu 2 tahun saja…Masya Allah…hebatnya Indonesia…:-(

Mengenai biaya hidup dan memilih tempat tinggal saat kuliah di Thailand, mengingat banyaknya pembaca yang menanyakan ke saya tentang tersebut, silakan bisa dibaca pada tulisan saya tentang  Memilih Tempat Tinggal dan Menghitung Biaya Hidup Kuliah di Thailand”.  Pada tulisan tersebut saya bahas mengenai gambaran biaya hidup di Thailand (Bangkok khususnya) dan bagaimana memilih dan memilah tempat tinggal di sana.

Itulah sekilas tulisan saya mengenai 5 Alasan Kuliah di Thailand. Semoga bisa menjawab rasa penasaran anda yang tertarik melanjutkan studi di Thailand. Bagi yang sudah pernah atau sedang studi disana, tentu masukan dan sarannya bisa ditambahkan untuk memperkaya tulisan ini. Semoga bermanfaat…

Ditulis dalam perjalanan antara Yogyakarta-Purwokerto, Selasa 2 February 2016. (Update 03 April 2018)

*Dosen Prodi Agribisnis UMY, Peraih Beasiswa ASEAN Scholarship di MABE Program Faculty of Economics, Chulalongkorn University, Bangkok Thailand.

 

References:

Advertisements

98 thoughts on “5 Alasan Kuliah di Thailand

  1. Alasan yg lain, belajar sambil travelling…gratis pula
    Trus alasan lain lagi, ketemu sesama pelajar indonesia tu serasa udah kenal dr lahir :D..nambah saudara..alhamdulillah

    Liked by 1 person

  2. Salam mas Heri,
    Wah, saya jadi kepengen study di Thailand. Beasiswa apa saja sih yang tersedia untuk study postgraduate? Saya kebetulan lagi studi master di Malaysia (by research – bidang science/Engineer)
    Apakah ada beasiswa PhD by research juga ya di Thailand?

    Terimakasih

    Like

  3. niat saya semakin bulat mengikuti dosen saya yg tahun ini berangkat ke thailand. memang kliatannya masih sangat terlalu awal untuk memikirkan kuliah S2 fisioterapi di thailand, namun ini mimpi saya yg besar dan menggebu-gebu saat ini semoga daat menyusul jejak kakak2 yg sudah terdahulu dan dapat membuat indonesia bangga. trimakasih atas infonya yg dpt mengispirasi banyak org

    Like

    • makasih sudah mampir mas ilham bayu, biaya kuliah atau tuition fee di chula itu bervariasi tiap fakultas.

      sebagai contoh di jurusan say, MABE Faculty of Economy itu sekitar 23,000 baht (sekitar 9 jutaan rupiah) per semester.

      tapi ada teman saya di Faculty of Science yang biaya tuition fee nya sekitar 160,000 baht (sekitar 60 juta rupiah) per semester.

      Like

  4. kalo biaya sendiri di thailand mahal banget ya kak? aku pengen lanjut s2 sih rencananya. kira2 untuk awal2 harus siap berapa sih? terus test masuknya sesulit apa?

    Like

    • tergantung kampus, jurusan dan tinggalnya dimana mba Vahlevi. Kalau di kampus saya dulu, Chula, untuk beberapa jurusan sains, seperti teknik, kedokteran bisa berkali lipat tuition feenya dibanding yang sosial. Demikian juga jika tinggal di Bangkok tentu lebih mahal dibanding yang di daerah pinggiran,.

      Untuk biaya hidup perbulan di bangkok, yg lajang sekitar 4 jutaan (termasuk kost) insyaAllah sudah cukup. Kalau spp tergantung ya.

      Test masuk untuk mahasiswa internasional sebenarnya lebih mudah dari pada mahasiswa thailand sendiri. sy dulu cuma kirim berkas ijazah, transkrip nilai dan toefl, plus proposal singkat thesis.

      Like

      • Assalamu’alaikum mas, Maaf mengganggu waktunya, Saya Arif Nugroho asal kebumen, kuliah S1 di salah satu PTN di jogja, saya mau tanya untuk pengiriman berkasnya lewat pos atau langsung datang ke prodinya? Trz untuk info diterima atau enggaknya lewat apa ya mas? apakah ada tes masuknya? apakah TOEFL ITP masih diterima? Terima kasih

        Like

      • Mas Arif, terima kasih sudah mampir, maaf slow respons. Sy sedang jarang mampir di blog ini, ngurus blog kampus…hehe. Kayaknya sudah pernah sy jawab lewat LINE/WA ya..

        Like

    • mahal atau murah si sebenarnya urusan dompet…hehe, tp kalau bagi sy pribadi lumayan mahal…kalau terkait biaya tergantung dimana kuliahnya dan di mana tinggalnya mba.
      Untuk test masuk, kalau calon mahasiswa dari Thailand hampir sama seperti di Indonesia, ada semacam tes masuk. Kalau dari luar Thailand biasanya cuma seleksi berkas yg diminta saja (ijazah, toefl/ielts, rekomendasi dll).

      Like

  5. Permisi mau tanya nih.saya ada program study abroad ke bangkok selama 1 semester.januari – mei 2017.mau tanya untuk tempat tinggal atau kos di bangkok itu bs on the spot gt gak sih? Atau harus booking jauh jauh hari? Trus klo di bangkok sekitar brp ya per bulan? Katanya harus ada deposit jg sebesar 3 bulan uang kos.tp nanti di kembalikan pas udah selesai.mohon info lebih lanjut ya.terimakasih

    Like

    • Bangkoknya dimana mas? umumnya harus booking terlebih dahulu, apalagi di beberapa wilayah seperti kawasan Soi 7 dekat KBRI biasanya cukup banyak yang minat sehingga harus jauh hari.
      Untuk biaya sewa di Bangkok tergantung daerah juga, karena Bangkok kan luas. Misal daerah Soi 7 tadi di dekat KBRI rata2 sekitar 5-7 ribu untuk yang biasa (apartment studio).
      Deposit umumnya memang harus dibayarkan dan akan dikembalikan setelah selesai kontrak. Silakan kalau perlu info detail disampaikan semoga saya bisa bantu.

      Like

      • Saya di daerah ding daeng, deket university of the thai chamber of commerce. Ada pertukaran mahasiswa ke uni tersebut. Mau cari kos deket situ aja.cm masih bingung.apalagi januari harus udah disana.udah mepet.pusing jadinya…!

        Like

      • kalau di din daeng sebenarnya tidak terlalu jauh dari daerah KBRI, tinggal ke timur arah pasar pratunam lalu ke utara. bisa pakai bus.
        Tapi kalau mau di dekat situ ya lebih dekat dengan kampus. Coba cari di google apartement didaerah situ mas. Saya tidak ada teman yang kos di dekat situ. Atau bisa hubungi teman2 PPI Thailand (Permitha, bisa di grup Permitha di FB) barangkali sekarang ada yang di daerah situ atau kuliah di kampus yang sama.

        Like

  6. assalamualaikum mas, terima kasih postingannya sangat membantu, kalo program beasiswa S2 untuk kebidanan ada gak yah?

    Like

    • Wa’alaikumsalam warahmatullah…
      Terima kasih sudah mampir mba Isma. Untuk kebidanan saya belum pernah dengar di Thailand. Karena setahu saya dan berdasarkan pengalaman dulu istri saya melahirkan di Thailand, disana tidak ada profesi Bidan. Saya juga belum tahu pasti, tp yang saya tahu dari proses sebelum kelahiran, kelahiran dan sampai anak saya sekitar 1,5 tahun tidak pernah ketemu atau direkomendasikan ke bidan. Adanya keperawatan dan kedokteran sama farmasi.
      Di kampus saya (Chulalongkorn University) dan kampus istri saya (Mahidol University) juga tidak ada jurusan/fakultas kebidanan. Padahal untuk sekelas Mahidol Univ itu adalah kampus paling top di Thailand untuk studi tentang kesehatan. Teman-teman PPI Thailand setahu saya juga belum ada yang dari jurusan kebidangan. Kalau dari kedokteran (umum/gigi), keperawata, kesmas, farmasi banyak. Coba mungkin ditanyakan ke teman/dosen di bidang kebidangan. Wallahu a’lam

      Like

    • S1 tenaga laboratorium?, secara detail jurusan seperti itu saya belum pernah dengar Mba Desty. Baik di kampus saya (Chula) maupun di kampus lain semisal Mahidol, Thamassat, Kasetsart atau KMUTT misalnya. Paling masuk di bidang laboratoriumnya. Misal biokimia dll.

      Like

  7. bang ada kontak ? karena saya berniat untuk alih jalur di S1 atau melanjutkan S2 dengan studi yang sama di thailand

    khop khun na khrap phii

    Like

    • Mas Rizal, terima kasih sudah mampir, maaf slow respons. Sy sedang jarang mampir di blog ini, ngurus blog kampus…hehe. Silakan hubungi sy di 085869742133. LINE. WA ada.

      Like

  8. Assalamua’alikum mas, selamat malam, tahun ini in shaa Alloh saya ingin melanjutkan study S2 saya, ketika saya baca blog mas heri ini kuliah S2 di thailand saya jadi “kepikiran”..hehehe..apalagi di tambah biaya semesterannya 9 juta di univ.chula fac.economy dan kebetulan sekali saya ingin mengambil faculty economy dgn konsentrasi management apprasial ada tidak yh mas?bolehkah saya minta id_line or email mas heri untuk konsultasi seputar kuliah di negri gajah putih?trims..Wassalam.

    Like

  9. Assalamua’alaikum, selamat pagi mas, ketika saya baca blog mas heri saya jadi berubah haluan kayanya, saya tahun ini insha Allah kalau tidak ada halangan ingin melanjutkan study S2 di Malaysia tepatnya di Unrazak, tapi ketika pikiran ini ke thailand saya jadi “kepincut”..hehehe, dikarenakan saya sudah sering ke bangkok tp untuk sekedar plesiran, bayangan untuk kuliah disana terbesit dalam benak sana, saya mau infonya dong mas heri, kebetulan besok pagi saya ke jogja bersama teman2, selama 4 hari bisakah kita bertemu di jogja, saya mau bertanya sekedar info ttg beasiswa di bangkok, kehidupan disana, culture atau masalah budaya dan kebiasaan orang2 disana, meskipun saya pernah ke bangkok tp saya ingin punya gambaran ttg benar2 kuliah disana?adakah email atau line_id yang bisa saya hubungi..makasih mas heri. semoga berkah..aamiin..Wassalamualaikum Wr, Wb..

    Like

  10. Permisi saya mau tanya pak, saya berencana kuliah S1 di Balac Chulalongkorn University tahun ini, saya tidak melalui jalur beasiswa maupun pertukaran pelajar, apakah test penerimaan murid non-thai disana sulit? dan persyaratan apa saja biasanya yang harus di siapkan?

    Terima Kasih

    Like

    • Mas Aldaarnz, terima kasih sudah mampir, maaf slow respons. Sy sedang jarang mampir di blog ini, ngurus blog kampus…hehe.

      Kalau seleksi masuk, pengalaman saya “relatif mudah”. Sy cukup kirim berkas sj via email dan hardcopy via pos. Persyaratannya hampir saya dg disini (copy ijazah&transkrip nilai yg sudah ditranslete english, TOEFL, health certificate, dll disesuikan dg permintaan jurusan).

      Kurang lebih itu mas, jika ada yg belum jelas silakan hubungi sy di 085869742133. LINE. WA ada.

      Semoga sukses untuk rencana kuliahnya.

      Like

  11. Assalamualaikum wr wb. Mas… boleh dapet contactnya mas heri. Sy insyaAllah dapet beasiswa di chula. Mau tanya2 banyak… kalo boleh japri via email ya mas

    Like

  12. Assalamu’alaikum..
    Mas mau tanya, saya tertarik ambil finance S2 di chula, kemarin mas ambil jurusan apa ya? Lalu mas dapat daftar lalu diterima dahulu baru mengajukan beasiswa atau bersamaan dengan mendaftar mendapatkan beasiswanya? Apakah setiap tahun ada beasiswa dan apakah harus satu jurusan atau sebidang? Mengingat S1 saya di bidang teknik. Terimakasig maaf merepotkan.

    Like

    • Wa’alaikumsalam warahmatullah…
      Mas Febri Taufik, terima kasih sudah mampir. Sy dulu ambil master di Faculty of Economic, tepatnya Master of Arts in Business and Management Economics (MABE).

      Sy ikut program beasiswa “ASEAN Scholarship” dr Chula. Untuk pendaftaran sy langsung ke jurusan, dan ketika diterima di jurusan otomatis diterima beasiswanya (full scholarship).

      Kalau di Chula dan beberapa kampus di Thailand setahu saya setiap tahun ada beasiswa. Bahkan ga cuma ASEAN scholarship, banyak beasiswa lainnya (sy sebenarnya punya tulisan tentang ini tp belum rampung…hehe).

      Di thailand tidak ada larangan untuk s2 dan s1 harus sebidang untuk beberapa jurusan. Seperti di jurusan sy di ekonomi. Tp untuk jurusan lain seperti kedokteran kayaknya harus. Tp dicek sj di persyaratan masuk tiap jurusan. Biasanya ada kebijakan tersendiri.

      Itu barangkali penjelasan sy mas, semoga membantu. Kalau ada yg masih perlu didiskusikan, silakan bisa hubungi sy di 085869742133. LINE. WA ada. atau email:
      heriakhmadi@gmail.com, atau
      heriakhmadi@umy.ac.id

      Semoga sukses untuk rencana S2nya.

      Like

  13. Mba Niken, makasih sudah mampir, maaf slow respons. Sy sedang jarang mampir di blog ini, ngurus blog kampus…hehe.

    Kalau jurusan dan kampus mana yg banyak orang Indonesianya menurut pengalaman saya dan para senior tiap periode/tahun berbeda. Saat saya kuliah di sana, kebanyakan di Chulalongkorn Univ., dan yg terbanyak di Faculty of Science. Karena kebetulan pada saat itu ada salah satu kampus di Indonesia sedang ada kerjasama dan mngirimkan dosen/mahasiswanya untuk studi lanjut di sana dg jumlah yg lumayan banyak (hampir 50an kalau ga salah). Sementara kampus lain hanya itungan jari atau paling banyak belasan.

    Untuk komunitas Indonesia di sana relatif menyebar. Tp dulu ada “Athen Appartment” yang sempat dijuluki “Kampung Indo” karena banyaknya orang Indonesia (baik mahasiswa maupun pegawai KBRI dan karyawan swasta asal Indonesia) yg tinggal di sana. Sy sempat tinggal sekitar 1 tahun lebih di sana sebelum “digusur” karena direnovasi menjadi hotel. Letaknya sangat stragis di deket KBRI Bangkok.

    Setelah Athen “tamat” pada menyebar, tapi kebanyakan di Petchburi road Soi 7 (soi jet) daerah kampung muslim di Bangkok. Masih dekat KBRI juga, tp agak ke barat.

    Demikian penjelasan singkat. Jika masih ada yang perlu ditanyakan atau mau ngobrol silakan hubungi sy di 085869742133. LINE. WA ada.
    atau email di:
    heriakhmadi@gmail.com, atau
    heriakhmadi@umy.ac.id

    Like

  14. Ass.. wr. wb.
    Mau tanya nih mas Heri, ada tidak besiswa S1 prodi Biologi di Chula ? Daftar beasiswanya itu barengan sma daftar di universitas, atau daftar dlu di universitas kemudian baru daftar beasiswa ? Thanks atas infonya, smoga bisa nyusul kuliah disana.

    Like

    • wa’alaikumsalam wr wb…
      Mas Frengki, kalau spesifik beasiswa di Dept. Biology sy belum pernah dengar. Tapi secara umum untuk S1 ada beasiswa dg beberapa format. Coba langsung ke departemennya sj.

      Like

    • Terima kasih mas Ari sudah mampir ke blog sy, wah ternyata di sana begitu jg ya…sy baru ke Phuket dan Krabi sj di selatan…belum kesampain ke Pattani atau lainnya…semoga ada kesempatan bisa silaturahim ke selatan…

      Like

  15. ka. maaf ganggu.
    ka. bisa tidak ya diploma (associate degree) melanjutkan s1 di thailand? saya membaca dari beberapa website universitas di thailand dan hanya dicantumkan high school admission.
    terima kasih

    Like

    • Wah…saya belum pernah mendengar ada program semacam “alih jenjang” kalau di Indonesia ada di sana. Sepanjang yang saya tahu di beberapa universitas besar/ternama di sana memang tidak ada skema seperti itu…

      Like

  16. Hi saya pelajar dari malaysia yang berkeinginan untuk mengadakan lawatan ke chulalongkorn. tapi saya ada beberapa masalah dari sudut ingin berhubung dengan pelajar di universiti itu. Jadi bisa kamu bantu saya?

    Like

    • Di Chula beberapa mahasiswa muslim tergabung dalam Muslim Club Chulalongkorn University. Sewaktu sy kuliah ada sekitar 250an mahasiswa muslim, kebanyakan dari Thailand selatan (Pattanai dan sekitarnya), selebihnya dari international student seperti Indonesia, Sudan, Nigeria dan lainnya. Secara umum mahasiswa muslim diberikan kebebasan dan fasilitas (meski belum ideal) untuk beribadan dan beraktifitas.

      Like

  17. saya sangat tertarik kuliah di thailand tapi masih bingung bagaimana cara memulai untuk bisa mendapat scholarship dsana. saya prnah ikut program exchange di thailand dan saya lgsg tertarik utk study master dsna saat ini saya masih mahasiswa s1 di salah satu stikes di yogyakarta. mohon pencerahan nya atau mungkin ada saran² tertentu yg bisa saya lakukan. terimakasih

    Like

  18. hi.. kak mau tanya untuk pengajuan beasiswa kuliah di thailand itu memang kita harus diterima di universitasnya dulu ya kak? soalnya saya baca di beberapa artikel, terutama beasiswa dari mahidol university salah satu persyaratannya telah diterima di mahidol university.. kalau semisal belum diterima nggak bisa ya kak? atau hanya mahidol saja, universitas yang lain tidak?
    terimakasiiihh kak 🙂

    Like

    • Dear Laras, setahu saya memang seperti itu. Umumnya satu paket, begitu diterima oleh jurusan/prodi maka otomatis diterima beasiswanya. Jadi pendaftaran beasiswa itu melalui jurusan. Pengalaman sy dulu juga seperti itu.

      Like

  19. Hi ka. saya mau nanya, kalo untuk program pascasarjana psikologi di thailan ada gak ? Kalo ada boleh minta refrensi di universitas nya gak ?
    Makasih sebelumnya 🙂

    Like

    • Mey, sorry late response. Program pasca sarjana psikologi di Thailand ada banyak. Sy rekom di Mahidol atau Chula. Mahidol terkenal untuk kajian ilmu-ilmu kesehatan. Kalau Chula di ilmu2 sosial. Tinggal konsentrasinya di psikologi tentang apa.

      Like

  20. I see you don’t monetize your blog, don’t waste your traffic,
    you can earn additional bucks every month because you’ve got high quality content.
    If you want to know how to make extra $$$, search for:
    Ercannou’s essential adsense alternative

    Like

  21. Pak, bapak kuliah di thailand tahun berapaan terus waktu kuliah di sana bapak ikut kursus bahasa thailand dulu atau gimana? Orang di sana ramah2 ga pak?

    Like

    • Pagi mba Desy, sy di Thailand dr 2013-2015. Pernah ikut kursus bahasa Thai di KBRI yg dilakukan oleh PPI Thailand/PERMITHA dg instruktur orang Thai. Tp memang hanya sekedar bahasa Thai survival.

      Kalau orang Thai seperti orang Jogja, ramah2 umumnya. Mereka punya keyakinan KARMA jadi siapa baik akan dapat kebaikan demikian sebaliknya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s