Category Archives: Keislaman

Mengelola Kaderisasi LDK

Tarbiyah

Pembinaan Kader (Pict.by dakwatuna.com)

Tulisan saya tentang Mengelola Kaderisasi LDK ini adalah materi yang saya sampaikan pada acara pembekalan pra-reorganisasi Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Ikatan Mahasiswa AMIKOM Muslim (IMAM) Purwokerto. Saya mendapat undangan untuk menyampaikan materi ini pada hari ini, Sabtu 2 Januari 2015 di Kampus AMIKOM Purwokerto Jalan Brigjend (Pol) Sumarto, depan SPN Purwokerto…

Prolog

Bicara kaderisasi terutama kaderisasi Lembaga Dakwah Kampus (LDK) sesuatu yang menarik bagi saya. Saya punya dua pengalaman menjadi pengelola (pengurus) bidang kaderisasi. Pertama saat di Keluarga Mahasiswa Islam (GAMAIS) Faperta UNSOED dan kedua saat di KAMMI Komisariat Soedirman Purwokerto. Dua pengalaman ini setidaknya membuat saya punya pandangan dan pengalaman yang bisa dibagi terkait bagaimana mengelola kaderisasi.

Sudah jamak di organisasi mana pun, terutama organisasi mahasiswa keluhan mengenai problem kaderisasi. Terutama keluhan kekurangan kader, terlebih saat reorganisasi kepengurusan. Ya, kaderisasi memang vital bagi organisasi. Karena dari kaderisasi itulah keberlangsungan organisasi dipertaruhkan. Organisasi adalah kumpulan manusia, jika tidak ada manusia yang menghidupkan maka matilah organisasai itu. Betapa banyak organisasi besar yang kemudian surut bahkan menghilang karena ketidakmampuan dalam mengelola kaderisasi.

Problem Kaderisasi LDK

Lembaga Dakwah Kampus (LDK) mempunyai tugas pokok melakukan dakwah/syiar Islam di Kampus. Untuk mendukung tugas pokok tersebut, kegiatan utamanya tentu adalah melakukan dakwah/syiar dan menciptakan manusia yang akan berdakwah. Dua kegiatan inilah yang mewarnai kerja-kerja LDK. Kerja-kerja lainnya adalah untuk mendukung suksesnya dua tugas pokok itu.

Oleh karena itu biasanya ada dua bidang/departemen “inti” dalam sebuah lembaga dakwah kampus (LDK), pertama bidang syiar dan kedua bidang kaderisasi. Bidang syiar ini mempunyai tugas utama “nashrul fikroh” atau penyebaran nilai-nilai – dalam hal ini tentu – Islam. Objek utamanya adalah ummat atau masyarakat kampus. Bidang kedua adalah bidang kaderisasi yang tugas utamanya adalah menciptakan dan mengelola kader.

Hal yang kadang menjadi problem di LDK adalah dominannya kegiatan syiar daripada kegiatan kaderisasi. Sehingga lebih banyak membina ummat tapi kurang mempersiapkan calon dai yang akan membina ummat (kader). Padahal organisasi mahasiswa adalah organisasi yang turnover_nya cepat. Untuk mahasiswa S1 paling banter efektif aktif 3 tahun, kecuali yang disayang dosen mungkin bisa lebih…hehe. Terlebih untuk mahasiswa D3 atau strata dibawahnya. Itulah pentingnya kerja-kerja kaderisasi.

Orientasi Kaderisasi

Problem selanjutnya dari pengelolaan kaderisasi LDK selain dari kegamangan antara urusan syiar dan pengelolaan kaderisasi adalah problem orientasi. Tidak semua pengelola (pengurus) organisasi paham untuk apa sebenarnya proses kaderisasi dilakukan selain hanya sekedar rutinitas dan melanjutkan apa yang sudah dilakukan para pendahulu di organisasinya.

Orientasi itu penting karena akan menentukan luaran (output) dari proses kaderisasi yang dilakukan. Ibarat organisasi, orientasi ini adalah visi dari kaderisasi. Sebesar apapun modal sarana yang dimiliki, jika orientasinya kecil jangan berharap output yang besar.

Secara gampang, orientasi kaderisasi LDK adalah tersedianya stok kader yang mumpuni untuk proses dan progress dakwah kampus. Namun dalam konteks LDK sebagai lembaga dakwah, menurut saya perlu diperluas tidak sekedar pada lingkup kampus. Tapi bagaimana menyiapkan dan menyediakan stok kader dakwah untuk ummat. Hal ini artinya proses kaderisasi yang dilakukan LDK tidak Cuma untuk menyediakan calon-calon pemimpin bagi LDK saja tapi juga bagi ummat, atau dalam konteks kecil kampus adalah bagi organisasi mahasiswa di kampus tersebut. Jadi nantinya dalam jangka panjang, kader-kader LDK tidak Cuma aktif di organisasi utamanya tapi juga mewarnai di lembaga mahasiswa di kampusnya. Sehingga kegiatan dakwah tidak Cuma hanya di LDK, tapi juga mewarnai diseluruh eleman kampusnya. Dengan ini kemanfaatan LDK sebagai agent stock calon pemimpin muda benar-benar terasa bagi semua.

Selain itu, fungsi sampingan dari kaderisasi adalah sebagai sarana “security organisasi”. Maksud dari sekuriti organisasi tentu bukan untuk mengkader penjaga keamanan sekretariat, tapi untuk menjaga ruh dan karakter organisasi dalam konteks reorganisasi. Karena untuk organisasi yang sudah matang dan maju, orang luar tidak bisa serta merta masuk menjadi pimpinan tanpa melalui proses kaderisasi yang panjang. Disinilah pentingnya kaderisasi menjaga organisasi dari infiltrasi penyusup dari luar.

Tahapan Kaderisasi LDK

Mengingat pentingnya proses kaderisasi dan vitalnya kegiatan ini bagi keberlangsungan organisasi, kegiatan kaderisasi perlu dilakukan dengan terarah dan terorganisasi. Menurut pengalaman dan pemahaman saya setidaknya ada 3 (tiga) tahapan yang bisa dilakukan agar kaderisasi berjalan dengan baik:

  1. Tahap Pengenalan (ta’rif)
  2. Tahap Pembentukan (takwin)
  3. Tahap Pengorganisasian (tandzim)

Pertama, Tahap Pengenalan (ta’rif)

Pada tahap ini, proses yang dilakukan diantaranya adalah mengenalkan lembaga/organiasasi (LDK) kepada calon kader. Tujuannya tentu agar calon potensial tertarik bergabung dengan organisasi. Membuat orang/mahasiswa tertarik dengan organisasi tentu tidak mudah. Harus ada manfaat yang dirasa oleh mahasiswa ketika bergabung dengan sebuah organisasi.

Termasuk dalam proses pengenalan ini selain mengenalkan organisasi juga mengenal calon kader. Perlu pemetaan terhadap calon kader potensial. Sehingga pendekatan yang dilakukan juga tepat. Selanjutnya setelah mengenalkan organisasi dan mengenal calon kader akan masuk ke proses inti dari tahapan ini yaitu rekrutmen. Rekrutmen bisa dilakukan dengan cara formal (missal training kader dll) bisa juga secara formal melalui pendekatan perseorangan. Jadi secara singkat tahapan dalam proses ini adalah:

  • Pengenalan organisasi
  • Pengenalan kader
  • Rekrutmen

Tahapan kedua, Pembentukan (takwin)

Setelah tahapan pertama dilakukan dengan proses akhir rekrutmen, berlanjut ke tahapan berikutnya yaitu tahapan pembentukan. Output dari proses rekrutmen diantaranya adalah database kader. Dari database kader maka bisa dipetakan raw input dari kader yang dimiliki, dengan segala potensinya. Hal Ini (database) adalah modal yang berharga untuk melangkah ke tahapan selanjutnya yaitu tahapan pembentukan.

Inti dari tahapan pembentukan adalah menyiapkan kapasitas kader sesuai dengan visi kaderisasi. Artinya kader mau dibentuk seperti apa, dengan kemampuan apa yang selanjutnya untuk dikaryakan (tahap pengorganisasian) ke mana. Itulah mengapa di awal saya sampaikan, visi kaderisasi itu penting dan pertama yang harus dijawab oleh para pengelola pengkaderan.

Dalam konteks lembada dakwah kampus, termasuk dalam tahapan pembentukan misalnya:

  • Pembentukan Kapasitas Keislaman, meliputi: pemahaman baca tulis Al Quran, pemahaman aqidah Islam, pemahaman fikih dan fikih dakwah dan lain sebagainya sesuai dengan visi kaderisasi.
  • Pembentukan Kapasitas Organisasi, meliputi: pemahaman logika organisasi, manajemen organisasi, leadership, retorika dll
  • Pembentukan Kapasitas Personal, meliputi: peningkatan soft skill, pengembangan potensi dan bakat, peningkatan kapasitas akademik (organisasi yes, akademik yes),

Tahap Ketiga, Pengorganisasian (Tandzim)

Setelah proses pembentukan kader dilaksanakan, ibarat senjata maka kader-kader itu sudah bisa “ditembakkan”. Artinya disini dikaryakan sesuai dengan tujuan pengkaderan dan tentu sesuai dengan potensi kader yang bersangkutan.

Setiap kader mempunyai potensi masing-masing sesuai dengan latar belakang dan kecenderungannya. Kita memang bisa mengarahkan dan menawarkan, tapi mereka sendiri yang memutuskan. Memang dalam logika organisasi, pimpinan berwenang menempatkan kader sesuai dengan kebutuhan. Namun kader juga perlu didengar aspirasinya kemana mereka ingin menyalurkan kemampuan dan kapasitasnya.

Termasuk dalam proses pengorganisasian ini adalah pengelolaan kader purna tugas. Karena sebagai kader dakwah, tugasnya tidak berhenti ketika tidak menjabat. Karena dakwah itu sepanjang hayat, untuk itulah pengelolaan kader juga tetap berlaku bahkan hingga selesai studinya.

Demikianlah bagaimana mengelola kaderisasi LDK menurut pemahaman dan pengalaman saya. Banyak hal yang masih perlu dituliskan disini, hanya saja sekarang belum memungkinkan. Semoga ini sebagai tulisan rintisan untuk ada perbaikan ke depan.

Semoga bermanfaat…

Purwokerto, Sabtu 2 Januari 2015

Heri Akhmadi.

Advertisements

Silsilah Lengkap Para Nabi dan Rasul dari Adam AS. sampai Muhammad SAW.

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.*

Kisah para nabi dan rasul dalam Al Quran memang menarik untuk di kaji. Jelas banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah para manusia pilihan Tuhan ini ketika mereka diutus ke dunia. Di Al Quran sendiri kisah para nabi dan rasul tidak secara kronologis di bahas/diwahyukan, karena Quran sendiri bukan kitab sejarah. Kisahnya terpencar dalam berbagai ayat dan surat, yang diturunkan sesuai dengan waktu dan saat tertentu dengan maksud sebagai pelajaran bagi manusia sebagaimana firman Allah dalam surat Yusuf ayat 111.

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi dan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat). al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman [Yusuf/12:111]

Karena pentingnya kisah para nabi dan rasul. Memahami jalur keturunan mereka dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW pun menjadi menarik untuk dibahas. Terlebih kita semua adalah keturunan Adam. Sehingga pembahasan ini seperti kita membahas silsilan keluarga sendiri.

Berikut ini “Silsilah Lengkap Para Nabi dari Adam AS. sampai Nabi Muhammad SAW”, semoga bermanfaat sebagai pengetahuan bagi kita mengenai nenek moyang dan orang-orang sholeh yang mendahului kita. Catatan kaki ada di akhir tulisan ini. Selamat membaca.

BIODATA LENGKAP SILSILAH 25 NABI DAN RASUL

1.Nabi ADAM AS.

  • Nama: Adam ‘Alaihis Salam.
  • Usia: 930 tahun.
  • Periode sejarah: 5.872-4.942 SM.
  • Tempat turunnya di bumi: India, ada yang berpendapat di Jazirah Arab.
  • Jumlah keturunannya: 40 laki-laki dan perempuan.
  • Tempat wafat: India, ada yang berpendapat di Mekkah.
  • Al-Quran menyebutkan namanya sebanyak: 25 kali.

baca selanjutnya

Reformasi Ekonomi “2,5 Tahun” Umar Bin Abdul Aziz

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Bismillaah

Pembaca yang budiman, tulisan saya mengenai Reformasi Ekonomi “2,5 Tahun” Umar Bin Abdul Aziz ini adalah materi khutbah jumat yang pernah saya sampaikan di Masjid As Shafir KBRI Bangkok pada hari Jumat, 19 September 2014 (lebih dari satu tahun yang lalu). Selain itu, karena tulisan ini berasal dari materi khutbah, jadi gaya penulisannya tentu tidak seperti tulisan biasa. Saya sengaja mempertahankan sebagaimana aslinya biar menjadi pembeda dengan tulisan saya lainnya. Catatan lainnya, beberapa kalimat doa dan pengantar yang berbahasa arab tidak saya cantumkan di sini. Semoga bermanfaat.

Khutbah Pertama

Hadirin Sidang Jum’at Rahimakumullah..

Mari kita syukuri segala kenikmatan yang telah Allah berikan, segala kesempatan yang Allah hadirkan kepada kita meski kadang kita malu karena banyaknya dosa dan maksiat yg telah lakukan namun Allah yang Maha Pemurah senantiasa memberikan kesempatan sekali lagi pada kita. Semoga kita termasuk orang yang mampu untuk memanfaatkan kesempatan yang belum tentu datang lagi ini….

Berapa banyak diantara saudara kita yang pada saat ini tidak bisa merasakan seperti yang kita laksanakan, baik karena belum tergugah imannya, sedang dalam perjalanan atau sedang terkena musibah terbaring di rumah sakit atau kendala lainnya…

Kita tentu berdoa dan berharap bahwa pada kesempatan lainnya mereka bisa kembali melaksanakan dan merasakan sebagaimana kita laksanakan pada hari ini.

Hadirin jamaah jumat rakhimakumullah

Baru saja kita sebagai bangsa melaksanakan hajatan besar 5 tahunan, pemilu legislative dan pemilu presiden. Banyak harapan tentunya digantungkan pada anggota dewan dan presiden terpilih. Cita2 reformasi yg digaungkan sejak 15 tahun lalu memang sebagian sudah dirasakan oleh kita semua. Banyak prestasi yang sudah diukir oleh pemerintahan yg ada selama ini.

Kebebasan pers dan kemerdekaan berbicara serta berpendapat merupakan salah satu diantara buah reformasi yg kita rasakan. Pertumbuhan ekonomi yg relative tinggi juga telah mengantarkan Indonesia termasuk salah satu 20 besar ekonomi di dunia, satu-satunya negara asean yang masuk G-20. Dan merupakan kekuatan ekonomi terbesar di ASEAN.

Namun demikian diantara berbagai prestasi tersebut, masih banyak “pekerjaan rumah” (PR) reformasi yg belum terselesaikan juga. Bahkan seolah semakin jauh dari harapan. Korupsi contohnya, bahkan terasa tidak ada habisnya. Merata dari pusat hingga daerah, dari pegawai biasa sampai pejabat tinggi negara. Persoalan lainnya adalah dalam bidang ekonomi. Perkembangan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia memang menunjukkan prestasi luar biasa, dari data selama 10 tahun terakhir “Gross Domestic Product” (GDP) Indonesia telah tumbuh 4 kali lipat (200 M USD – 800 M USD), GDP per kapita naik 5 kali lipat (dari $ 700 mjd $ 3,500). Pertanyaannya apakah pertumbuhan yg tinggi tersebut telah merata dinikmati oleh semua rakyat ato tidak? Jumlah rakyat miskin memang cenderung menurun (16% – 11%), tp jumlahnya serasa tetap pada kisaran 30an juta. Pengangguran juga menunjukkan tren penurunan (10% – 6%) tp sekali lagi jumlahnya masih jutaan (8 jutaan).

Secara ekonomi, pemerataan hasil pembangunan bisa dilihat dari index GINI yang menggambarkan sebaran penghasilan dari penduduk dengan penghasilan tertinggi dan penghasilan terrendah. Dengan range nilai dari 0 sampai 1, dengan ketentuan nilai mendekati nol berarti disparitas penghasilan kecil artinya antara penduduk berpenghasilan tertinggi dan terrendah tidak terpaut jauh. Demikian sebaliknya. Berdasarkan index GINI ini ternyata Indonesia mengalami kanaikan dari 0,29 pada tahun 2002 menjadi 0,38 pada 2012, artinya ada kecenderungan bahwa terjadi ketimpangan dalam pendapatan. Artinya pertumbuhan ekonomi tinggi, tp distribusinya timpang. Atau dengan kata lain orang kaya semakin kaya, yang miskin tidak banyak terangkat dari kemiskinannya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa 90% perekonomian Indonesia dikuasai hanya 2% orang. Dan yang lebih menyedihkan dari 2 persen itu mayoritas bukan orang Islam.

Hal ini tentu tidak sesuai dengan prinsip Islam dalam distribusi ekonomi sebagaimana disebutkan dalam Al Quran Surat Al Hasyr ayat 7 :

Apa saja harta rampasan (fay’) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan; supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya di antara kalian saja. Apa saja yang Rasul berikan kepada kalian, terimalah. Apa saja yang Dia larang atas kalian, tinggalkanlah. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS al-Hasyr [59] 7).

Hadirin sidang jumat rakhimakumullah…

Demikianlah potret sekilas kondisi negara kita. Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia ini tentu menjadi keprihatinan kita. Lantas apakah Islam punya jawaban untuk situasi yang tidak mudah ini.

Karena Allah telah menggarisan dalam Al Quran bahwa kita adalah sebaik2 ummat :

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”(QS Âli ‘Imrân, 3: 110)

Rasulullah SAW juga bersabda bahwa kita telah dibekali modal kesuksesan di dunia yaitu :

Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW bersabda :”Aku tinggalkan di kalangan kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh pada dua perkara tersebut. Yaitu kitab Alloh (Al-Qur’an) dan sunnah Nabi-Nya (Al-Hadits)”—- diriwayatkan oleh Malik dalam Kitab Al Muwatho

Barangkali diantara kita akan menggumam bahwa kita semua sudah tahu hal itu. Tapi nyatanya banyak negara muslim seperti Indonesia justeru paling banyak rakyat miskinnya. Paling korup pemerintahannya. Apa yang salah?

Sebagai muslim yg beriman kita harus yakin bahwa konsep Islam adalah yg terbaik dan paling cocok untuk kita. Pertanyaannya kenapa kita tidak bisa mengaplikasikannya?. Mungkin kita perlu mencari role-model, contoh nyata yang pernah melaksanakannya. Sehingga kita tidak akan terjebak seperti kaum orientalis yang menganggap Islam hanyalah utopia.

Hadirin jamaah jumat rakhimakumullah…

Pada kesempatan ini Khatib ingin menyampaikan contoh nyata dari penerapan nilai-nilai Islam dalam perekonomian negara yang membawa kemaslahatan bagi umatnya. Ini adalah kisah tentang reformasi ekonomi Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari daulah Umayyah. Ada beberapa alasan kenapa khatib mengangkat kisah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz ini :

  1. Beliau hidup dan memerintah masyarakat muslim tp bobrok akhlaknya

Meski tidak persis sama, barangkali kondisi ini hampir seperti negara kita Indonesia dan Negara muslim lainnya, mempunyai system hidup (Syariat ISLAM) yg baik tp realitas kehidupan sebaliknya.

  1. Hanya dalam waktu 2 tahun 5 bulan masa pemerintahannya dapat mengubah kondisi masyarakat yang korup, hedon, banyak ketimpangan sosial dan melakukan reformasi ekonomi menjadi masyarakat yang taat beragama, bersih dr korupsi dan tercipta pemerataan ekonomi. Diantara indikator kemakmuran yang pernah ada saat itu adalah ketika para amil zakat berkeliling perkampungan di afrika tapi mereka tidak menemukan seorang pun yang mau menerima zakat.

Bandingkan dengan kondisi masyarakat kita yang berebut zakat Rp.50,000 dengan mempertaruhkan nyawanya…innnalillah..

  1. Bisa dipertimbangkan sebagai role model pengelolaan pemerintahan

Secara ringkas kurang lebih seperti ini kisahnya :

Umar bin Abdul Aziz boleh dikata muncul di persimpangan jalan sejarah umat Islam di bawah kepemimpinan dinasti Bani Umayyah. Pada penghujung abad 1(pertama) hijriyah, dinasti ini memasuki usianya yang ke 60 (enam puluh), atau 2/3 (dua pertiga) dari usianya, dan telah mengalami pembusukan internal yang serius. Umar sendiri adalah bagian dari dinasti ini, hampir dalam segala hal. Walaupun pada dasarnya ia seorang ulama yang telah menguasai seluruh ilmu ulama-ulama Madinah, tapi secara pribadi ia juga merupakan simbol dari gaya hidup dinasti Bani Umayyah yang korup, mewah dan boros.

Itu membuatnya tidak cukup percaya diri untuk memimpin ketika keluarga kerajaan memintanya menggantikan posisi Abdul Malik Bin Marwan setelah beliau wafat. Bukan saja karena persoalan internal kerajaan yang kompleks, tapi juga karena ia sendiri merupakan bagian dari persoalan tersebut.

Ketika akhirnya Umar menerima jabatan ini, ia mengatakan kepada seorang ulama yang duduk di sampingnya, Al-Zuhri, “Aku benar-benar takut pada neraka.” Dan sebuah rangkaian cerita kepahlawanan telah dimulai dari sini, dari ketakutan pada neraka, saat beliau berumur 37 tahun, dan berakhir dua tahun lima bulan kemudian, atau ketika beliau berumur 39 tahun, dengan sebuah fakta: reformasi total telah dilaksanakan, keadilan telah ditegakkan dan kemakmuran telah diraih. Ulama-ulama kita bahkan menyebut Umar Bin Abdul Aziz sebagai pembaharu abad pertama hijriyah, bahkan juga disebut sebagai khulafa rasyidin kelima.

Lantas apa yang dilakukan Umar bin Abdul Aziz dalam masa singkat pemerintahannya :

  • Memulai reformasi dari Diri Sendiri, Keluarga dan lingkungan Istana

Umar Bin Abdul Aziz menyadari dengan baik bahwa ia adalah bagian dari masa lalu. Ia tidak mungkin sanggup melakukan perbaikan dalam kehidupan negara yang luas kecuali kalau ia berani memulainya dari dirinya sendiri, kemudian melanjutkannya pada keluarga intinya dan selanjutnya pada keluarga istana yang lebih besar. Maka langkah pertama yang harus ia lakukan adalah membersihkan dirinya sendiri, keluarga dan istana kerajaan. Dengan tekad itulah ia memulai sebuah reformasi besar yang abadi dalam sejarah.

Begitu selesai dilantik Umar segera memerintahkan mengembalikan seluruh harta pribadinya, baik berupa uang maupun barang, ke kas negara, termasuk seluruh pakaiannya yang mewah. Ia juga menolak tinggal di istana, ia tetap menetap di rumahnya. Pola hidupnya berubah secara total, dari seorang pencinta dunia menjadi seorang zahid yang hanya mencari kehidupan akhirat yang abadi. Sejak berkuasa ia tidak pernah lagi tidur siang, mencicipi makanan enak. Akibatnya, badan yang tadinya padat berisi dan kekar berubah menjadi kurus dan ceking.

Setelah selesai dengan diri sendiri, ia melangkah kepada keluarga intinya. Ia memberikan dua pilihan kepada isterinya, “Kembalikan seluruh perhiasan dan harta pribadimu ke kas negara, atau kita harus bercerai.” Tapi istrinya, Fatimah Binti Abdul Malik, memilih ikut bersama suaminya dalam kafilah reformasi tersebut. Langkah itu juga ia lakukan dengan anak-anaknya. Suatu saat anak-anaknya memprotesnya karena sejak beliau menjadi khalifah mereka tidak pernah lagi menikmati makanan-makanan enak dan lezat yang biasa mereka nikmati sebelumnya. Tapi Umar justeru menangis tersedu-sedu dan memberika dua pilihan kepada anak-anak, “Saya beri kalian makanan yang enak dan lezat tapi kalian harus rela menjebloskan saya ke neraka, atau kalian bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita akan masuk surga bersama.”

Selanjutnya, Umar melangkah ke istana dan keluarga istana. Ia memerintahkan menjual seluruh barang-barang mewah yang ada di istana dan mengembalikan uangnya ke kas negara. Setelah itu ia mulai mencabut semua fasilitas kemewahan yang selama ini diberikan ke keluarga istana, satu per satu dan perlahan-lahan. Keluarga istana melakukan protes keras, tapi Umar tetap tegar menghadapi mereka. Hingga suatu saat, setelah gagalnya berbagai upaya keluarga istana menekan Umar, mereka mengutus seorang bibi Umar menghadapnya.

Boleh jadi Umar tegar menghadapi tekanan, tapi ia mungkin bisa terenyuh menghadapi rengekan seorang perempuan. Umar sudah mengetahui rencana itu begitu sang bibi memasuki rumahnya. Umar pun segera memerintahkan mengambil sebuah uang logam dan sekerat daging. Beliau lalu membakar uang logam tersebut dan meletakkan daging diatasnya. Daging itu jelas jadi “sate”, Umar lalu berkata kepada sang bibi: “Apakah bibi rela menyaksikan saya dibakar di neraka seperti daging ini hanya untuk memuaskan keserakahan kalian? Berhentilah menekan atau merayu saya, sebab saya tidak akan pernah mundur dari jalan reformasi ini.”

Langkah pembersihan diri, keluarga dan istana ini telah meyakinkan publik akan kuat political will untuk melakukan reformasi dalam kehidupan bernegara, khususnya dalam pemberihan KKN. Sang pemimpin telah telah menunjukkan tekadnya, dan memberikan keteladanan yang begitu menakjubkan.

  • Efisiensi/Penghematan total dalam penyelenggaraan Negara

Langkah ini jauh lebih mudah dibanding langkah pertama, karena pada dasarnya pemerintah telah menunjukkan kredibilitasnya di depan publik melalui langkah pertama. Tapi dampaknya sangat luas dalam menyelesaikan krisis ekonomi yang terjadi ketika itu.

Sumber pemborosan dalam penyelenggaraan negara biasanya terletak pada struktur negara yang tambun, birokrasi yang panjang, administrasi yang rumit. Tentu saja itu disamping gaya hidup keseluruhan dari para penyelenggara negara. Setelah secara pribadi beliau menunjukkan tekad untuk membersihkan KKN dan hidup sederhana, maka beliau pun mulai membersihkan struktur negara dari pejabat korup. Selanjutnya beliau merampingkan struktur negara, memangkas rantai birokrasi yang panjang, menyederhanakan sistem administrasi. Dengan cara itu negara menjadi sangat efisien dan efektif.

  • Redistribusi Kekayaan Negara

 Langkah ketiga adalah melakukan redistribusi kekayaan negara secara adil. Dengan melakukan restrukturisasi organisasi negara, pemangkasan birokrasi, penyederhanaan sistem administrasi, pada dasarnya Umar telah menghemat belanja negara, dan pada waktu yang sama, mensosialisasikan semangat bisnis dan kewirausahaan di tengah masyarakat. Dengan cara begitu Umar memperbesar sumber-sumber pendapatan negara melalui zakat, pajak dan jizyah.

Dalam konsep distribusi zakat, penetapan delapan objek penerima zakat atau mustahiq, sesungguhnya mempunyai arti bahwa zakat adalah sebentuk subsidi langsung. Zakat harus mempunyai dampak pemberdayaan kepada masyarakat yang berdaya beli rendah. Sehingga dengan meningkatnya daya beli mereka, secara langsung zakat ikut merangsang tumbuhnya demand atau permintaan dari masyarakat, yang selanjutnya mendorong meningkatnya suplai. Dengan meningkatnya konsumsi masyarakat, maka produksi juga akan ikut meningkat. Jadi, pola distribusi zakat bukan hanya berdampak pada hilangnya kemiskinan absolut, tapi juga dapat menjadi faktor stimulan bagi pertumbuhan ekonomi di tingkat makro.

Itulah yang kemudian terjadi di masa Umar Bin Abdul Aziz. Jumlah pembayar zakat terus meningkat, sementara jumlah penerima zakat terus berkurang, bahkan habis sama sekali. Para amil zakat berkeliling di pelosok-pelosok Afrika untuk membagikan zakat, tapi tak seorang pun yang mau menerima zakat. Artinya, para mustahiq zakat benar-benar habis secara absolut. Sehingga negara mengalami surplus. Maka redistribusi kekayaan negara selanjutnya diarahkan kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi (swasta), dan subsidi sosial dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara, seperti biaya perkawinan. Suatu saat akibat surplus yang berlebih, negara mengumumkan bahwa “negara akan menanggung seluruh biaya pernikahan bagi setiap pemuda yang hendak menikah di usia muda.”…subhanallaah…

Itulah sekilas kisah mengenai reformasi negara dan ekonomi Umar bin Abdul Aziz

Khutbah kedua :

Hadirin jamaah jumat rakhimakumullah

Dalam khotbah kedua ini, khatib ingin menyimpulkan dari Kisah Umar bin Abdul Azis ini. Satu hal yang kadang jadi petanyaan adalah : Apakah sejarah bisa berulang?

Sejarah selalu hadir di depan kesadaran kita dengan potongan-potongan zaman yang cenderung mirip dan terduplikasi. Pengulangan-pengulangan itu memungkinkan kita menemukan persamaan-persamaan sejarah, sesuatu yang kemudian memungkinkan kita menyatakan dengan yakin, bahwa sejarah manusia sesungguhnya diatur oleh sejumlah kaidah yang bersifat permanen. Manusia, pada dasarnya, memiliki kebebasan yang luas untuk memilih tindakan-tindakannya. Tetapi ia sama sekali tidak mempunyai kekuatan untuk menentukan akibat dari tindakan-rindakannya. Tetapi karena kapasitas manusia sepanjang sejarah relatif sama saja, maka ruang kemampuan aksinya juga, pada akhirnya, relatif sama.

Itu sebabnya Allah Subhaanahu wa ta’ala memerintahkan kita menyusuri jalan waktu dan ruang, agar kita dapat merumuskan peta sejarah manusia, untuk kemudian menemukan kaidah-kaidah permanen yang mengatur dan mengendalikannya.

“Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebihkuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri” (Ar Rum: 9).

Sejarah adalah cermin yang baik, yang selalu mampu memberi kita inspirasi untuk menghadapi masa-masa sulit dalam hidup kita. Seperti juga saat ini, ketika bangsa kita sedang terpuruk dalam krisis multidimensi yang rumit dan kompleks, berlarut-larut dan terasa begitu melelahkan. Ini mungkin saat yang tepat untuk mencari sepotong masa dalam sejarah, dengan latar persoalan-persoalan yang tampak mirip dengan apa yang kita hadapi, atau setidak-tidaknya pada sebagian aspeknya, untuk kemudian menemukan kaidah permanen yang mengatur dan mengendalikannya.

Masalah di Ujung Abad

Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menyatakan sebuah ketetapan sejarah, bahwa di ujung setiap putaran seratus tahun Allah Swt akan membangkitkan seorang pembaharu yang akan akan mempebaharui kehidupan keagamaan umat ini.

Itulah yang terjadi di ujung abad pertama hijriyah dalam sejarah Islam. Sekitar enam puluh tahun sebelumnya, masa khulafa rasyidin telah berakhir dengan syahidnya Ali bin Abi Thalib. Muawiyah bin Abi Sofyan yang kemudian mendirikan dinasti Bani Umayyah di Damaskus, mengakhiri sistem khilafah dan menggantinya dengan sistem kerajaan. Pemimpin tertinggi dalam masyarakat Islam tidak lagi dipilih, tapi ditetapkan.

Perubahan pada sistem politik ini berdampak pada perubahan perilaku politik para penguasa. Secara perlahan mereka menjadi kelompok elit politik yang eksklusif, terbatas pada jumlah tapi tidak terbatas pada kekuasaan, sedikit tapi sangat berkuasa. Sistem kerajaan dengan berbagai perilaku politik yang menyertainya, biasanya secara langsung menutup katup politik dalam masyarakat dimana kebebasan berekspresi secara perlahan-lahan dibatasi, atau bahkan dicabut sama sekali.

Dalam keadaan begitu para penguasa memiliki keleluasaan untuk melakukan apa saja yang mereka ingin lakukan. Maka penyimpangan politik segera berlanjut dengan penyimpangan ekonomi. Kezaliman dalam distribusi kekuasaan dengan segera diikuti oleh kezaliman dalam distribusi kekayaan. Yang terjadi pada mulanya adalah sentralisasi kekuasaan, tapi kemudian berlanjut ke sentralisasi ekonomi. Keluarga kerajaan menikmati sebagian besar kekayaan negara.

Itulah persisnya apa yang terjadi pada dinasti Bani Umayyah. Berdiri pada tahun 41 hijriyah, dinasti Bani Umayyah berakhir sekitar 92 tahun kemudian, atau tepatnya pada tahun 132 hijriyah. Tapi sejarah dinasti ini tidaklah gelap seluruhnya. Dinasti ini juga mempunyai banyak catatan cemerlang yang ia sumbangkan bagi kemajuan peradaban Islam. Salah satunya adalah cerita sukses yang tidak terdapat atau tidak pernah terulang pada dinasti lain ketika seorang laki-laki dari klan Bani Umayyah, dan merupakan cicit dari Umar Bin Khattab, yaitu Umar Bin Abdul Aziz, muncul sebagai khalifah pada penghujung abad pertama hijriyah.

Yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz adalah mempertemukan keadilan dengan kemakmuran. Ketika pemimpin yang saleh dan kuat dihadirkan di persimpangan sejarah, untuk menyelesaikan krisis sebuah umat dan bangsa. Dan itu bisa saja terulang, kalau syarat dan kondisi yang sama juga terulang. Dan inilah masalah kita, pengulangan sejarah itu tidak terjadi, karena syaratnya tidak terpenuhi.

Hanya saja kita tidak boleh berhenti bermimpi dan berharap bahwa suatu saat aka nada pemimpin ummat yg bisa mempertemukan keadilan dan kemakmuran. Contohnya sudah ada, tinggal kita menirunya.

Selanjutnya marilah kita berdoa dan memohon pada Allah SWT agar diberi kemampuan untuk menyongsongnya. Menghadirkan kepemimpinan ummat yg membawa maslahat.

Bangkok, 18 September 2014

References:

Mengelola Penghasilan Dalam Kacamata Islam

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.

Setelah kemarin saya posting tentang “NGAJIKOK” atau ngaji di Bangkok, yaitu pengajian mahasiswa muslim Indonesia di Bangkok. Kali ini saya akan posting materi ceramah saya tentang Mengelola Penghasilan Dalam Kacamata Islam” yang pernah disampaikan di Ngajikok, yaitu tepatnya pada hari Sabtu 24 Agustus 2013 lalu (sudah dua tahun lebih rupanya…hehe), semoga masih cukup relevan materinya…

Selamat membaca..

Sesuai dengan tagline ngajikok yaitu “MBK”…materi berbasis kompetensi, untuk itu saya akan mencoba menyampaikan sesuai kompetensi saya di bidang ekonomi. Bicara ekonomi, umumnya ada dua kajian, yaitu bicara aspek makro dan mikro. Namun tentu kalo bicara ekonomi makro tidak akan aplikatif. Meski sbenernya menarik jg utk berbicara seperti tentang “nilai tukar rupiah” yang sekarang sedang hangat di tanah air, yang meski itu secara makro namun jg ternyata berpengaruh terhadap perilaku ekonomi mikro.

Atau tentang mata uang itu sendiri yang ternyata sekarang tidak Cuma berfungsi sebagai “alat tukar” tapi juga “komoditas” yang diperdagangkan. Bagaimana Islam memandang spt hal spt ini. Meski kalo secara fiqhiyah saya sendiri juga belum terlalu paham spt apa hukumnya. Namun cukup menarik, semoga suatu saat kita bisa mendiskusikannya.

Atau juga tentang “Inflasi” sesuatu yang “dibenci” tapi ternyata kita hadapi setiap hari. Bagaimana inflasi telah “menggerogoti” penghasilan kita. Bagaimana sesuatu yang belum terjadi tapi sudah mengakibatkan inflasi di hari ini. Ex : rencana kenaikan BBM. Rencana kenaikan gaji pegawai negeri (pidato SBY 18 Agustus 2013) kemarin PNS naik gaji 6%

So, langsung saja saya ke materi yang akan saya sampaikan. Karena ini sudah masuk tanggal kepala dua, saya jadi inget “update status” mas Sopian bbrp hari lalu. Tentang tangisan istrinya (ga tahu ini istri beneran ato hehe) setelah membaca sebuah buku. Dan teryata itu buku tabungan, yang katanya endingnya “menyedihkan”. Meski saya si percaya tentu itu bukan cceritanya mas sopian di sini yang selalu ceria meski sdh tanggal tua.. So, rasanya bicara ekonomi yang pas adalah tentang bagaimana mengelola penghasilan. Bagaimana sich biar “kondisi moneter” tetap aman meski tanggal 1 masih jauh…hehe. Bagaimana Islam memandang harta dan mengelolanya. Karena penghasilan/harta adalah salah satu yang akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak : dari mana didapatkan dan kemana membelanjakannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai dia ditanya (diminta pertanggungjawaban) tentang umurnya; kemana dihabiskannya, tentang ilmunya; bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.

(HR. at-Tirmidzi, no. 2417, ad-Darimi, no. 537, dan Abu Ya’la, no. 7434, dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam as-Shahihah, no. 946 karena banyak jalurnya yang saling menguatkan).

Hadits yang agung ini menunjukkan kewajiban mengatur pembelanjaan harta dengan menggunakannya untuk hal-hal yang baik dan diridhai oleh Allah, karena pada hari Kiamat nanti manusia akan diminta pertanggungjawaban tentang harta yang mereka belanjakan sewaktu di dunia (Lihat kitab Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyaadhish Shalihin, 1/479).

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya, Allah tidak menyukai bagi kalian tiga perkara…(di antaranya) idha’atul maal (menyia-nyiakan harta)”( HR. al-Bukhari, no.1407 dan Muslim, no. 593).

Arti idha’atul maal (menyia-nyiakan harta) adalah menggunakannya untuk selain ketaatan kepada Allah Ta’ala, atau membelanjakannya secara boros dan berlebihan (Lihat kitab an-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar, 3/237).

Saya akan mulai kajian ini dengan satu pertanyaan : Apakah Anda merasa puas atau merasa cukup dengan penghasilan yang ada saat ini?.

Boleh jadi sebagian besar mengatakan belum puas. Kalaupun penghasilan sudah sangat besar, mungkin Anda mengatakan cukup puas, tapi kalau bisa, ya lebih besar lagi. Wajar, manusia memang tidak ada cukupnya. Barangkali itulah yang dialami kebanyakan orang

Pertanyaannya lagi : Apakah benar penghasilan Anda saat ini tidak memuaskan atau tidak MENCUKUPI…???. Apa ukurannya..?. Coba bandingkan penghasilan Anda saat ini dengan, katakanlah 5 tahun yang lalu. Apakah ada peningkatan? Asumsikan ada peningkatan, lalu kenapa Anda masih merasa tidak puas?.

Sesungguhnya puas atau tidak puas, cukup atau tidak cukup bukanlah terletak pada seberapa besar penghasilan Anda dalam jumlah, melainkan lebih merupakan PERSEPSI Anda sendiri. Coba lihat teman, tetangga Anda sendiri, atau orang lain yang penghasilannya dibawah Anda. Tidak semuanya mengeluh. Bahkan banyak yang kelihatannya bisa hidup sangat bahagia kendati tidak dalam kemewahan. So, sekali lagi kepuasan terhadap penghasilan sebenarnya lebih berupa “rasa”. Dan untuk menjadi puas cukup dengan mengubah “rasa” itu dari semula tidak puas menjadi bersyukur. Barangkali kita perlu mengingat kata bijak “Lihatlah Dunia ke bawah, Lihatlah Akhirat ke Atas”.

Okey, barangkali Anda akan bersungut-sungut dan mengatakan bahwa tausyiah semacam itu semua orang juga tahu. Baik, jika memang sudah tahu kita implementasikan saja pada tataran praktis. Bisa jadi nanti yang mengemuka bukan lagi rasa puas-tidak puas, melainkan sudah EFEKTIF-kah pengelolaan penghasilan kita sehingga dapat dengan tepat mencukupi kebutuhan yang ada.

Menurut perencana keuangan Achmad Ghozali, penghasilan/rizki pada dasarnya di bagi menjadi dua :

  1. Rizki Lahiriah
  • Berupa ; kekuatan fisik dan materi dunia
  1. Rizki Batiniah
  • Berupa ; keimanan, ketenangan jiwa dan tentu saja bagi seorang muslim yang mencati cita2 nanti adalah masuk sorga.

Pembahasan kita kali ini adalah mengenai Riski Lahiriah berbentuk materi dunia (karena itu yang kasat mata dan mudah kita kenali). Penghasilan pada dasarnya merupakan pendapatan yang diperuntukkan untuk konsumsi rumah tangga plus saving (plus asuransi) dan investasi. Hal ini karena kita berprinsip pada 2 fase kehidupan manusia. Yaitu fase produktif dan fase konsumtif, sehingga pengelolaan penghasilan juga memperhatikan 2 hal tersebut.

Okey, sekarang kita masuk sedikit ke perhitungan matematika ekonomi. Penghasilan Anda berapa pun besarnya, setara 100%. Maka pada dasarnya penghasilan itu dikeluarkan dalam 4 hal :

  1. Pengeluaran berdasarkan HAK ALLAH
  • Misal : zakat, infak, sodaqah dan kegiatan social lainnya.
  1. Pengeluaran berdasarkan HAK ORANG LAIN
  • Berupa ; hutang, tagihan, kredit, dll.
  1. Pengeluaran berdasarkan HAK DIRI SENDIRI untuk MASA DEPAN
  • Berupa ; tabungan, investasi, keperluan cadangan, dll.
  1. Pengeluaran berdasarkan HAK DIRI SENDIRI untuk MASA SEKARANG
  • Berupa ; konsumsi rumah tangga, kebutuhan harian dll.

Prinsip pengeluaran dalam pengelolaan keuangan adalah

DAHULUKAN HAK ALLAH lalu HAK ORANG LAIN, kemudian baru hak diri sendiri di masa datang dan terakhir hak diri sendiri di masa kini.

Allah Ta’ala berfirman,

{وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ}

Dan apa saja yang kamu nafkahkan (sedekahkan), maka Allah akan menggantinya, dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya” (QS Sabaa’:39).

Makna firman-Nya “Allah akan menggantinya” yaitu dengan keberkahan harta di dunia dan pahala yang besar di akhirat.

Dan dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ»

Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya) kecuali kemuliaan, serta tidaklah seseorang merendahkan diri di (hadapan) Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya[18].

Arti “tidak berkurangnya harta dengan sedekah” adalah dengan tambahan keberkahan yang Allah Ta’ala jadikan pada harta dan terhindarnya harta dari hal-hal yang akan merusaknya di dunia, juga dengan didapatkannya pahala dan tambahan kebaikan yang berlipat ganda di sisi Allah Ta’ala di akhirat kelak, meskipun harta tersebut berkurang secara kasat mata”[19].

Perhitungan rinciannya adalah dari 100% tersebut, setidaknya/minimal 2,5% (ato bisa ditambahkan 10%) untuk memenuhi hak ALLAH. Selanjutnya paling sedikit 30% harus Anda alokasikan untuk alokasi masa depan yang dapat berupa tabungan, asuransi dan investasi.

Barangkali diantara Anda ada yang “PROTES” dengan mengatakan : “Bagaimana mau menabung, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan dasar saja masih kurang…?. Anda memang benar..jika menggunakan persepsi tersebut. Akan tetapi jika mau hidup lebih TERKELOLA, (belum lagi bicara cadangan, krn masa depan siapa yg tahu?) persepsi tersebut meski diubah yaitu dengan menganggap penghasilan Anda hanya yang 67,5%. Jumlah itulah yang menjadi pegangan Anda untuk dikonsumsi. Begitulah prinsipnya.

Bagaimana alokasi untuk membayar hutang…? (hak orang lain). Tanyakan kembali pada diri Anda, apa peruntukan dana hasil hutang tersebut. Bila peruntukkannya untuk hal yang sifatnya tidak produktif, maka jangan sekali-kali Anda menggunakan sumber dana yang 30% di atas untuk membayarnya. Bila Anda melakukan hal itu, sama saja Anda menggadaikan masa depan Anda. Yang Anda meski lakukan adalah memotong kembali peruntukan konsumsi yang sebelumnya 67,5%. Dengan kata lain sekian persen dari 67,5% itu meski dipakai untuk mengangsur hutang.

Bagaimana jika hutang Anda demikian besar sehingga tidak memungkinkan menggunakan dana yang 67,5% untuk mengangsur…?. Apa boleh buat, maka Anda harus melakukan “penggerusan asset”. Artinya, sebagian asset Anda meski dicairkan untuk menurunkan jumlah hutang. Anda tidak perlu harus melunasi semua hutang sekaligus, tetapi jumlah hutang yang terlalu banyak harus diturunkan. Dengan jumlah hutang lebih rendah, maka pada bulan-bulan selanjutnya jumlah angsuran akan semakin kecil.

Dengan sisa penghasilan yang sudah dibawah 67,5%, karena sebagian untuk membayar hutang. Apa yang bisa dilakukan…?. Hitung kembali keperluan Anda dalam sebulan, mulai dari kebutuhan makan, transportasi, komunikasi/pulsa dll, lalu jumlahkan semuannya. Boleh jadi, hasilnya deficit alias tidak mencukupi. Putus asa…?, tidak ada gunanya. Yang harus Anda lakukan adalah merumuskan mana konsumsi yang utama atau HARUS dan mana yang sifatnya sekunder (Skala PRIORITAS). Konsumsi yang sifatnya sekunder itu suka atau tidak suka harus DICORET dulu dari daftar pengeluaran. Mungkin hal ini akan terasa “menyakitkan”, akan tetapi hanya itu yang bisa dilakukan jika penghasilan ingin terkelola dengan baik.

Terakhir, prinsip dalam perencanaan dan pengelolaan penghasilan adalah :

RUMUS : Q

artinya

QONA’AH

(cukup dengan sedikit, tak berlebih jika banyak)

Karena yang menentukan cukup atau tidaknya anggaran belanja bukanlah dari banyaknya jumlah anggaran harta yang disediakan, karena berapa pun banyaknya harta yang disediakan untuk pengeluaran, nafsu manusia tidak akan pernah puas dan selalu memuntut lebih.

Oleh karena itu, yang menentukan dalam hal ini adalah justru sifat qana’ah (merasa cukup dan puas dengan rezki yang Allah berikan) yang akan melahirkan rasa ridha dan selalu merasa cukup dalam diri manusia, dan inilah kekayaan yang sebenarnya. Sebagaimana sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam,Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)”.

Sifat qana’ah ini adalah salah satu ciri yang menunjukkan kesempurnaan iman seseorang, karena sifat ini menunjukkan keridhaan orang yang memilikinya terhadap segala ketentuan dan takdir Allah.

Lebih daripada itu, orang yang memiliki sifat qana’ah dialah yang akan meraih kebaikan dan kemuliaan dalam hidupnya di dunia dan di akhirat nanti, meskipun harta yang dimilikinya tidak banyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah Ta’ala berikan kepadanya”.

Demikian uraian saya mengenai “Mengelola Penghasilan Dalam Kacamata Islam”, semoga bisa menjadi bahan masukan dalam pengelolaan keuangan anda.

SELAMAT MENCOBA….

References :

  1. Achmad Ghozali. Melawan Arus Uang dengan Qona’ah. MQ-Tabloid. No.4 Vol.16 Edisi Agustus 2005. Bandung
  2. Elvin G Masyasha. Menyiasati Keterbatasan Penghasilan. Harian Kompas. Edisi 15 Mei 2005. Jakarta
  3. Mengatur dan Membelanjakan Harta — Muslim.Or.Id
  4. Heri Akhmadi, Mengelola Keterbatasan Penghasilan. Posted in muslim_fb@yahoogroups on Mon Jul 9, 2007 11:16 pm