NGAJIKOK, Ngaji di Bangkok, Pengajian Mahasiswa Muslim Indonesia di Bangkok

ngajikok goes to halal expo 2014

Ngjikok Goes to “Halal Festival 2014″at Rajamanggala Stadium Complex, Bangkok

Bismillaah…

Tulisan saya tentang “Ngajikok atau Ngaji di Bangkok” Ini adalah tulisan saya yang kedua yang sudah diterbitkan dalam buku “Merah Putih di Negeri Gajah Putih”, yang baru saja dilaunching pada tanggal 25 Oktober 2015 lalu oleh teman-teman PPI Thailand/PERMITHA di Aula Ahmad Yani KBRI Bangkok. Selengkapnya adalah sebagai berikut…

Selamat menikmati..

Apa yang pertama kali anda bayangkan ketika datang ke Thailand?. Kebanyakan dari kita (saya maksudnya) para mahasiswa Indonesia ketika baru pertama datang ke Thailand beranggapan bahwa kita sebagai seorang muslim akan mengalami kesulitan untuk beribadah dan menemukan makanan halal. Hal ini cukup beralasan mengingat Thailand merupakan negara dengan mayoritas penganut agama Budha yang taat (Data Pew Research Center – Global Religious Landscape 2010, sekitar 93,6%).

Saya katakan masyarakat Thailand adalah penganut Budha yang taat karena hampir di setiap sudut rumah atau bangunan (hotel, kantor pemerintah/swasta) hampir pasti ada kuil kecil tempat sembahyang mereka. Bahkan mereka menempatkan tempat ibadah mereka ini di tempat strategis, di pojokan depan gedung pencakar langit ato tepat di depan mall besar. Tidak seperti di negara tetangga Indonesia yang meletakkan musholla gedung di pojokan belakang kantor atau di basement parkir dekat toilet umum. Begitulah diantara betapa “religius_nya” masyarakat Thailand.

Itulah mengapa ketika saya akan studi di Thailand yang terbayang di benak saya adalah kesulitan untuk beribadah dan mencari makanan halal. Namun faktanya tidak demikian. Bangkok sebagai ibukota dan kota bisnis utama di Thailand ternyata merupakan kota yang ramah dengan kita sebagai seorang muslim. Pemerintah Thailand memberikan kebebasan bagi warga untuk beribadaha sesuai agamanya. Bahkan di beberapa mall/tempat belanja terkenal (MBK, Siam Paragon, Central, Robinson dll) tersedia musholla yang cukup memadai, bahkan cukup mewah dibanding yang tersedia di Mall-mall di Indonesia.

Kebebasan untuk beribadah ini tentu tidak disia-siakan oleh masyarakat muslim di sini. Termasuk teman2 mahasiswa Indonesia yang ada disini. Namun demikian, sebagai umat minoritas tentu tetap ada yang terbatas. Misalnya mengenai kajian keislaman. Kebutuhan akan nutrisi ruhani yang menjadi fitrah manusia tentu harus dipenuhi, namun apa daya salurannya kurang tersedia di sini. Meski masjid lumanya banyak di sekitar Bangkok, namun kegiatan taklim tidak sebanyak di Indonesia dan tentunya perbedaan tulisan dan bahasa menjadi kendalanya.

Berangkat dari fakta itu, beberapa mahasiswa muslim lantas berinisiatif untuk mengadakan forum kajian pekanan sebagai sarana silaturahim dan juga saling mengingatkan dalam kebaikan. Kegiatan rutin setiap sabtu sore ini yang kemudian dikenal dengan “NGAJIKOK”, kependekan dari “Ngaji di Bangkok”. Yah, karena pesertanya adalah teman-teman mahasiswa Indonesia yang kuliah atau berdomisili di Bangkok.

“Jenjang Karir” dan materi berbasis “MBK” di Ngajikok

Diantara yang menarik dari Ngajikok ini adalah format acaranya. Dibandingkan dengan kegiatan “pengajian” pada umumnya yang lebih bersifat “satu arah” dimana ada seorang ustadz yang memberikan ceramah dan peserta mendengarkan. Format acara ngajikok lebih bersifat partisipatif “dua arah”, sehingga semua peserta dilibatkan. Acara Ngajikok ini biasanya dimulai dengan pembukaan oleh moderator – yang ditunjuk secara bergantian – sekaligus sebagai pengarah acara selama Ngajikok. Selanjutnya adalah tilawah Al Quran yang dilakukan oleh seluruh peserta secara bergantian, satu orang membaca yang lainnya menyimak dan mendengarkan.

Setelah semua peserta mendapat giliran membaca Al Quran, acara selanjutnya adalah pembacaan tafsir. Yang dibaca adalah tafsir dari surat/ayat yang barusan dibaca bersama secara bergantian. Sehingga tidak hanya membaca, tapi juga paham artinya. Petugas yang membaca tafsir ini juga digilir secara bergantian diantara peserta/anggota Ngajikok. Acara selanjutnya adalah pembacaan hadist shahih Bukhari-Muslim, yang juga dilakukan oleh anggota yang bergantian setiap pekan. Dari sini terlihat bahwa Ngajikok mempunyai arti penting karena anggota akan selalu diingatkan dengan “dua pusaka” utama seorang muslim yaitu Quran dan Hadist.

Setelah dua acara pembuka tadi, selanjutnya ada break sekitar lima menit sebelum acara inti. Break ini disamping untuk persiapan pembicara juga untuk membagikan hidangan pembuka, biasanya terdiri dari minuman ringan (es teh, es buah ato minuman lainnya) dan snack (bakwan, aneka gorengan dan lainnya). Makanan ringan yang dibagikan ini umumnya adalah teman-teman anggota ngajikok yang membawa sendiri, siapa saja yang membawa tanpa perlu di jadwal atau digilirkan. Tapi subhanallah ada saja yang membawa dan hampir tidak pernah tidak ada. Ini yang kadang bagi saya diluar nalar.

Selanjutnya setelah semua hidangan tersajikan, Ngajikok berlanjut ke acara inti yaitu materi. Seperti petugas lainnya, pemberi materi juga digilirkan diantara anggota ngajikok. Pergiliran petugas ini dari mulai petugas kebersihan (ini bagian penting yang belum dibicarakan) hingga pemateri, oleh teman-teman anggota sering disebut dengan “jenjang karir” di Ngajikok. Karena seorang anggota Ngajikok biasanya akan memulai “karirnya” sebagai petugas kebersihan lalu pembaca hadist hingga sebagai pemateri. Semua dapat giliran yang sama dan kebagian “jabatan” yang sama tanpa kecuali.

Berkaitan dengan materi Ngajikok, ada “peraturan” tidak tertulis yang dipahami oleh semua anggota dan menjadi “guide” dalam menentukan materi apa yang akan disampaikan. Yaitu “MBK” atau materi berbasis kompetensi. Artinya, anggota yang bertugas memberi materi “disarankan” untuk menyampaikan sesuatu sesuai latar belakang kompetensinya. Mahasiswa yang berlatar belakang ekonomi menyampaikan materi dari kajian ekonomi, tentu dikaitkan dengan Islam. Pemateri dari kedokteran juga memberikan materi berkaitan dengan kedokteran. Hal ini dikarenakan pemateri adalah dari anggota sendiri yang umumnya berlatarbelakang kompetensi macam-macam dan bukan ustadz dengan latar belakang pendidikan Islam yang kuat. Untuk itu biar teman-teman tidak kesulitan dalam mencari bahan materi. Disamping juga untuk membangun kepakaran dan spirit pertanggungjawaban diantara anggota. Karena mereka menyampaikan sesuai dengan ilmunya, sesuai dengan kapasitas yang dia punya.

Satu rangkaian dengan pemberian materi Ngajikok adalah diskusi. Ini yang menarik, karena mayoritas anggota Ngajikok adalah mahasiswa dengan berbagai latar belakang maka session ngajikok ini seolah menjadi sarana bertukar pandangan sesuai dengan kapasitas dan latar belakang ilmunya. Sangat dinamis dan konstruktif diskusinya. Bahkan kadang berlanjut hingga setelah acara Ngajikok ini ditutup.

Acara terakhir ngajikok ditutup dengan makan malam bersama. Biasanya ini dilaksanakan setelah sholat mangrib berjamaah. Hidangan khas Indonesia, pecel, bakso, soto konro dan lainnya pernah “mampir” di sini. Seolah pengobat rindu akan kampong halaman. Ini hal yang jarang ditemukan bagi kami yang sedang merantau di Thailand dan selalu dirindukan dari Ngajikok. Dan lebih terasa karena kita menyantapnya bersama-sama. The last but not least, sebagai sarana komunikasi antar anggota, Ngajikok juga mempunyai blog dan group di facebook . Demikian sekilas tentang “Ngajikok atau Ngaji di Bangkok”, pengajian mahasiswa muslim Indonesia di Bangkok.

 

Advertisements

One thought on “NGAJIKOK, Ngaji di Bangkok, Pengajian Mahasiswa Muslim Indonesia di Bangkok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s