Cerita Karantina Corona (Covid-19) di Korea: Prosedur dan Tips Menjalaninya

Oleh: Heri Akhmadi, M.A.
PhD Student di Kangwon National University Korea, HEAT Scholarship Awardee 2021.

Tulisan tentang karantina corona (covid-19) di Korea ini sebenarnya sudah terfikirkan idenya saat saya masih karantina di Yangpyeong (sekitar 50 km timur Seoul), Bulan September 2021 lalu. Namun saat itu saya pikir akan lebih tepat saya tulis saat saya sudah selesai dan “lulus” karantina, biar lengkap ceritanya. Hingga akhirnya Alhamdulillaah selesai 14 hari karantina dan “lulus” tes PCR terakhir dan akhirnya mendarat di Chuncheon City sebagai tujuan akhir saya ke Korea yaitu di kampus saya Kangwon National University (KNU).

Hingga akhirnya saya sampai di Kota Chuncheon dan sibuk dengan segala aktivitas kuliah, draf tulisan ini belum sempat dilanjutkan. Baru saat ini setelah libur semester dan ada waktu untuk melanjutkan. Selain itu juga karena saat ini (akhir Desember 2021 – awal Januari 2022) kebijakan karantina yang ketat diberlakukan lagi setelah munculnya varian “Omicron” yang menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika diduga mempunyai daya sebar lebih cepat dari varian corona sebelumnya, varian Delta. Padahal pemerintah Korea sendiri belum lama ini (awal November 2021) meluncurkan skema “Living with Covid-19” sebagai upaya mengembalikan kehidupan “normal” dengan melonggarkan beberapa aturan selama pandemi Covid-19 setelah 80% populasi tervaksinasi secara lengkap (2 dosis).

Kebijakan Karantina Korea

Berdasarkan regulasi dari Korea Centers for Disease Control & Prevention (KCDC), terhitung sejak 23 Februari 2020, semua pendatang dari luar negeri (tidak peduli asal negaranya/termasuk warga negara/WN Korea dan status vaksinasinya) WAJIB melakukan karantina setibanya di Bandara. Pada saat saya datang ke Korea pertengahan September 2021 lalu, semua pendatang wajib melakukan karantina selama 14 hari. Untuk warga negara Korea dan warga negara asing yang tinggal di Korea wajib melakukan karantina di rumah masing-masing (dengan pemantauan dari pemerintah). Sedangkan warga negara asing yang datang untuk kunjugan singkat (short-term visitor) atau belum mempunyai tempat tinggal tetap, wajib melakukan karantina di tempat (hotel) yang ditunjuk oleh pemerintah dengan biaya sendiri atau ditanggung sponsor. Untuk karantina di tempat yang ditunjuk pemerintah biayanya sebesar 2 juta won (sekitar 28 juta rupiah kurs saat itu) per orang.

UPDATE:kebijakan karantina mengalami pelonggaran sejak adanya skema “Living with Covid-19” mulai 1 November 2021 yaitu dengan mengurangi jumlah hari pelaksanaan karantina wajib menjadi hanya 10 hari 7 hari. Demikian pula biayanya dari semula sebesar 2 juta won menjadi 1,5 juta won (bagi yang melakukan karantina di hotel 10 hari, belum tahu jumlah yang harus dibayar setelah adanya kebijakan terbaru menjadi hanya 7 hari untuk periode kedatangan setelah tanggal 4 Februari 2022).

Adanya skema karantina mandiri di rumah sendiri baik bagi WN Korea maupun WN asing yang tinggal di Korea tentu memberikan kemudahan baik bagi warga maupun bagi pemerintah sendiri. Ini mengingatkan akan riuhnya berita proses karantina WNI di tanah air akhir-akhir ini (Desember 2021) yang selain memakan biaya juga prosesnya yang lama. Ya bisa dibayangkan menangani ribuan orang yang datang tiap hari tentu bukan perkara mudah. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah Korea untuk membolehkan warganya bahkan warga negara asing yang sudah tinggal di Korea untuk karantina mandiri di rumah masing-masing mungkin perlu dipertimbangkan juga oleh Pemerintah Indonesia. Tentu dengan melihat kondisi rumah/kediamannya jika memungkinkan dan kemampuan untuk memantaunya.

20210917_100108

Suasana Bandara Incheon Saat Corona

Secara singkat, kebijakan karantina di Korea mencakup beberapa poin penting, diantaranya:

  1. Waktu/Lama karantina:
    – 10 hari (per 1 November 2021 – 3 Februari 2022, sebelumnya 14 hari)
  2. Tempat Karantina
    – Karantina Mandiri di Rumah, bagi WN Korea maupun WN asing/long term foreign resident yang mempunyai rumah/apartemen di Korea.
    – Karantina Mandiri di Hotel yg ditunjuk (biaya sendiri/sponsor) for short term visitor atau bagi yang belum mempunyai tempat tinggal di Korea
  3. Lain:
    – Test PCR 2x pada hari pertama karantina dan menjelang selesai (biasanya 1 atau 2 hari sebelum hari terakhir)
    – Tidak boleh keluar dari tempat karantina selama karantina
    – Tidak boleh membeli/menerima makanan dari luar kecuali yang disediakan petugas
    – Wajib install aplikasi karantina (Self-quarantine Safety Protection App 상세보기)
    – Wajib melaporkan suhu tubuh 2x sehari (pagi pukul 10.00 sore pukul 17.00)

Detail teknis pelaksaannya akan saya uraikan lebih lanjut.

Prosedur Karantina Pada Saat Kedatangan (Arrival) di Bandara Korea (Incheon Intl’ Airport)

Adanya kebijakan karantina saat kedatangan di bandara membuat agak sedikit berbeda pada prosedur kedatangan luar negeri dari sebelumnya. Sebelum corona, kebetulan tahun 2019 saya ke Korea, seperti biasanya tiba di bandara kedatangan (Incheon International Airport) setelah turun dari pesawat kita akan menuju pemeriksaan imigrasi dan selanjutnya jika oke langsung turun untuk ambil bagasi dan melanjutkan perjalanan sesuai tujuan.

20210917_100357

Tiba di Incheon International Airport

Namun saat ini agak berbeda dengan adanya kebijakan pencegahan penularan virus corona. Saat setelah keluar dari pesawat, setelah mengisi arrival card dan custom declare selanjutnya pemeriksaan oleh Badan Karantina, di sini diminta menyerahkan hasil tes PCR dan form deklarasi tentang gejala yang mungkin dirasakan saat ini (seperti apa ada batuk, demam, apakah sedang dalam pengobatan dll). Mengenai pemeriksaan di Karantina Kesehatan ini saya punya cerita tersendiri. Silakan bisa baca di akhir tulisan ini.

UPDATE PCR TEST REQUIREMENT: From January 20th 2022, PCR negative certificate for overseas entry will be strengthened: The testing must have been performed, and a certificate must have been issued, within 48 hours before the departure date. Previously, it was within 72 hours before the departure date. (Source: NCOV Ministry of Health and Welfare, South Korea)

Selanjutnya setelah lulus dari pemeriksaan karantina dan imigrasi bisa meneruskan untuk mengambil bagasi (jika ada). Dari sini proses selanjutnya jika sebelum corona adalah ke tempat penjemputan atau jika akan melanjutkan perjalanan pakai transportasi publik bisa ke stasiun kereta bandara atau bus stop dan pilihan lainnya. Namun saat setelah ada corona, setelah ambil barang/bagasi langsung ke booth tempat registrasi karantina.

Booth Karantina

Booth Registrasi Karantina di Incheon Airport

Tempat registrasi karantina ini semacam booth pendaftaran dengan beberapa meja dan ada petugas yang menjaga. Ada beberapa booth yang ditulis sesuai daerah tempat tujuan, mulai dari Seoul, Gyeonggi, Daejon, Gwangju, Kangwon dan lain sebagainya.

Pengalaman Hari Pertama Karantina di Korea – Mampir di Karantina Bandara

Apapun kalau yang pertama biasanya mempunyai kesan yang berbeda. Pun dengan cerita karantina saya pertengahan September 2021 lalu. Meskipun ini bukan kali pertama saya ke Korea, namun pergi ke sana sebagai “mahasiswa” tentu berbeda. Saya berangkat ke Korea menggunakan pesawat kebanggaan bangsa, Garuda Indonesia (jane sengaja pilih Garuda karena lebih murah dari Korean Air…hehe). Di tiket tertera jadwal keberangkatan 16 September 2021 pukul 23.30 WIB dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta Jakarta dan dijadwalkan tiba di Incheon International Airport pukul 08.30 Waktu Korea Selatan (WKS).

Alhamdulillaah di Bandara Soetta ketemu dengan 4 orang rekan mahasiswa Indonesia, mereka teman-teman GKS scholarship awardee, beasiswa dari pemerintah Korea yang terkenal itu. Saya sendiri HEAT scholarship student, bukan penerima beasiswa GKS, tapi karena sama-sama dari pemerintah Korea jadi jadwal keberangkatan (dan juga karantina) diatur jadwalnya sama. Sebenarnya saya dan 4 orang teman GKS ini termasuk “kloter” terakhir dari beberapa rombongan mahasiswa Indonesia penerima beasiswa Korea yang berangkat sebelumnya. Ya, ada sedikit “drama” dalam proses pengajuan visa yang sempat tidak bisa. (maklum saat Juli-Agustus Indonesia sedang dalam puncak kasus corona dan “di_baned” oleh beberapa negara, termasuk Korea).

Tiba di bandara Incheon International Airport sekitar pukul 09.00 WKS semua berjalan normal. Seperti biasa penumpang diberikan arrival card, selembar kertas seukuran KTP berisi informasi singkat untuk diisi sebagaimana biasanya kita sampai di negara orang (nama, no flight, alamat tinggal selama di Korea). Selain itu ada tambahan mengisi kertas semacam self assesment corona. Ya maklum saja karena sekarang sedang “musim” corona.

Pada lembar assesment corona ini ada beberapa pernyataan misal apakah mempunyai gejala demam, batuk dll. Termasuk apakah dalam 14 hari terakhir ke dokter dan menjalani atau mendapatkan pengobatan. Untuk asesmen corona ini saya sempat bingung, karena kurang lebih seminggu sebelum berangkat saya sempat ke dokter dengan maksud semacam “medical check up” karena untuk jaga2 mengingat situasi saat ini yang sedang tidak baik-baik saja. Alhamdulillaah hasilnya sehat2, dan hanya diberi suplemen imboost. Saya juga sempat batuk dan hasil dari dokter aman2 dan hasil PCR juga negatif. Saya sempat kepikiran, kalau saya isi “sejujurnya” kemungkinan besar saya akan diperiksa lebih. Tapi kalau tidak diisi saya khawatir tidak jujur dan nanti jadi perkara. Oke bismillah saya isi saja apa adanya dengan sejujurnya bahwa saya pernah ke dokter, diberi suplemen, dan ada keluhan batuk meski hasil PCR negative. 

20210917_112521

Perjalanan Menuju Karantina Bandara Incheon International Airport

Dan betul saja, setelah turun dari pesawat, yang biasanya masuk ke pemeriksaan imigrasi ini semua masuk pemeriksaan karantina. Dan dengan lembar assesment corona yang saya serahkan dimana ada 2 item “Yes” (pernah ke dokter dalam 14 hari terakhir, ada batuk) maka saya langsung diperiksa lebih lanjut. Bahkan saya diminta ganti masker khusus (padahal saya sudah pakai masker KN95 3M made in Korea), dan saya dinyatakan sebagai “suspected symtomatic” corona/Covid-19. Selanjutnya setelah pemeriksaan imigrasi dengan diantar petugas karantina saya langsung dibawa ke “Karantina Bandara” untuk melakukan tes PCR. Dari sinilah saya sempat kehilangan kontak dan dicari-cari oleh teman2 satu rombongan. Karena mereka sudah menunggu jemputan untuk ke hotel tempat karantina. Sementara berhubung di luar bandara tidak ada Wifi dan saya belum sempat mengaktifkan fitur roaming, maka sempat hilang kontak hampir 4 jam lamanya.

Tempat karantina bandara ini sebenarnya semacam karantina sementara bagi siapapun yang tiba dari luar negeri dan “disangka bergejala” atau asymtomatic. Jadi sampai disini langsung dibawa ke kamar untuk selanjutnya diperiksa suhu badan dan ditanyakan beberapa pertanyaan standar identifikasi gejala. Selanjutnya disampaikan kalau akan ditest PCR dan harus menunggu hasilnya di kamar. Dengan catatan, kalau hasilnya negativ maka boleh melanjutkan perjalanan, namun jika hasilnya positif maka akan di karantina di situ hingga test PCR hasilnya negative. Saya lalu bertanya kepada petugasnya berapa lama hasil tesnya keluar? katanya paling cepat 3 jam atau sampai 6 jam (saya sudah kepikiran, bisa bakal bermalam di sini nih…). Petugas pertama yang ketemu saya sempat juga menanyakan tentang preferensi makanan, karena paling tidak saya akan makan siang di sini. Saya sampaikan kalau saya tidak ada pantangan makanan tertentu, kecuali saya muslim dan hanya makan makanan yang halal atau dalam pengertian sederhana tidak mengandung babi (kalau harus menjelaskan konsep halal bisa seharian…hehe).  

Saya masuk ke karantina bandara ini sekitar pukul 11.30 Waktu Korea Selatan (WKS). Dan sekitar 3o menit berikutnya ada 2 orang petugas datang untuk melakukan PCR test, satu laki-laki satu perempuan. Dan tidak berselang lama datang petugas yang membawa makan siang, tp dia tidak masuk ke kamar hanya masuk ke ruangan kecil di antara pintu masuk dan pintu kamar. Jadi kamarnya ada dua pintu, dimana pintu pertama lalu ada ruang kecil kurang lebih 1,5m x 1,5m, ini semacam ruang antara dimana petugas menaruh makanan dan lain2 untuk saya yg di dalam. Lalu setelah itu ada pintu ke kamar. Pintu kedua ini hanya bisa dibuka dari luar, atau bisa dikatakan saya tidak bisa keluar kecuali ada orang lain dari luar yang membukakan pintu (di pintu tertulis “Don’t Get Out The Door For Keeping Negative Pressure”). Jadi ini memang benar-benar fasilitas yang disediakan untuk karantina. 

Karantina bandara

Suasana Kamar Karantina Bandara

Setelah menunggu hampir 3 jam, sekitar pukul 15.00 sore seorang petugas perempuan mengetuk pintu kamar saya dan menyatakan kalau hasil tes PCR negatif dan saya bisa melanjutkan perjalanan. Alhamdulillaah sekali saya ucapkan, setelah menunggu tanpa bisa komunikasi keluar (tidak ada internet) akhirnya bisa keluar. Selanjutnya saya diantar balik lagi ke bandara. Sampai bandara saya segera mencari booth untuk mahasiswa, dalam hal ini boot GKS dan HEAT scholarship, untuk selanjutnya diantar dengan travel ke tempat karantina.

Transportasi dari Bandara ke Tempat Karantina

Setelah didata dan dicek administrasi (di booth GKS/HEAT scholarship mereka sudah punya data siapa saja yang akan datang hari itu dari daftar penerima beasiswa). Selanjutnya mereka akan mengantarkan ke kendaraan, sejenis travel dan akan diberangkatkan ke tempat karantina. Kendaraan ini tidak bayar alias free karena semua fasilitas karantina dibiayai oleh KCUE (funding dari HEAT Scholarship).

Kebijakan terbaru pemerintah Korea setelah adanya varian Omicron melarang setiap yang baru datang ke korea menggunakan transportasi umum, harus menggunakan transportasi yang sudah ditentukan untuk karantina baik itu bus, taksi atau bisa juga menggunakan kendaraan sendiri.

Tempat Karantina, Sono Moon (Sono Hue) Hotel YangPyeong

Setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam lebih dari Incheon Airport, akhirnya sekitar jam 21.00 Waktu Korea Selatan (WKS) saya tiba di tempat karantina yang disediakan untuk mahasiswa penerima beasiswa GKS dan HEAT Scholarship. Sebenarnya jarak Seoul ke Yangpyeong tidak telalu jauh, sekitar 50 kilometer dan normalnya perjalanan sekitar 45 menit sampai 1 jam, namun waktu itu bersamaan jam pulang kantor dan menjelah libur Cuseok. Jadi seperi saat arus mudik di Indonesia. Saya sendiri sempat merasa ini kok ga nyampai-nyampai, sampai punya pikiran jangan-jangan kesasar…hehe

20211001_111942

Sono Moon (Sono Hue) Hotel Yang Pyeong, Korea

Btw, setelah perjalanan hampir 4 jam (macet di tol keluar Seoul) akhirnya nyampai juga di Sono Moon (Sono Hue) Hotel dan langsung dijemput petugas hotel di parkiran untuk diarahkan lewat pintu belakang. Jadi untuk yang karantina tidak melalui lobi hotel seperti biasanya, pun demikian nanti saat kepulangan. Mungkin bagian dari SOP untuk pencegahan, karena hotel ini juga buka seperti biasa dan menerima tamu lainnya selain kita-kita yang karantina. Sebelum masuk kamar di bawa ke seperti aula besar dan dicek suhu seperti biasanya, lalu diputarkan video mengenai teknis selama karantina. Seperti apa yang harus dilakukan tiap hari, melaporkan suhu tubuh, jam berapa makanan datang, dan cara mencuci peralatan serta buang sampah.

Kamar

Kamar Karantina di Sono Moon Hotel

Selanjutnya setelah cukup jelas breafingnya saya diantar ke kamar oleh petugas yang selanjutnya dia yang menjadi semacam penghubung antara kita peserta dan hotel. Jadi kalau ada apa kita kontak dia, kita diberi juga kontak Kakaotalk (layanan pengirim pesan yang jamak dipakai di Korea). Kamar saya berada di lantai 3 dan mempunyai balkoni yang menghadap ke halaman depan hotel dengan pemandangan perbukitan yang lumayan indah. Secara umum tempat karantina ini bagus, mungkin kalau boleh mengira-ira paling kemungkinan ini hotel bintang 4. Dari lantai sudah pakai karpet, fasilitas lainnya juga sangat memadai.

Kamar yang disediakan untuk karantia juga cukup luas, bahkan boleh dikata sangat luas untuk ditempati oleh satu orang. Ini seperti kamar apartemen dengan 2 kamar tidur, satu ruang keluarga dan satu kamar mandi. Bahkan disediakan juga peralatan masak. Ada kompor listrik, panci dengan segala peralatan dapur lainnya (piring, gelas, sendok dll). Tersedia juga jemuran pakaian dan seperangkat televisi. 

Peraturan Selama Karantina

Korea seperti halnya Jepang dan beberapa negara maju terkenal akan keteraturan dan kerapihannya. Namun dibalik itu ada sederet aturan yang membentuknya yang harus ditaati oleh semua pihak. Hal ini juga tercermin dalam pelaksanaan karantina. Mulai dari peraturan cara buang sampah sampai beberapa hal yang boleh dan tidak boleh di lakukan.

Peraturan dan Fasilitas

Peraturan dan Perangkat Yang Disediakan Selama Karantina di Sono Moon Hotel YangPyeong

Berikut ini beberapa aturan selama karantina:

  1. Wajib mengukur suhu tubuh dan melaporkannya dua kali sehari (pukul 10.00 pagi dan 17.00 sore) melalui aplikasi dan papan yang ditempelkan di depan pintu.
  2. Tidak boleh keluar kamar karena alasan apapun (termasuk dilarang keluar balcony). Keluar kamar hanya diperbolehkan saat menuliskan suhu tubuh di lembaran yang ditempelkan di pintu.
  3. Sampah harus dipisahkan antara sampah makanan (recycle waste) dan sampah non makanan dan dikumpulkan di kamar (bisa dibayangkan selama 14 hari…hehe)
Suhu

Pengecekan Suhu Tubuh

Untuk pengecekan suhu tubuh ini benar-benar dipantau, kalau misal kelupaan segera saja untuk mencatatnya. Jadi sebaiknya di pasang alarm sesuai jadwal pengecekan suhu tubuh biar tidak lupa. Untuk perangkat termometer disediakan oleh hotel tetapi tidak boleh dibawa pulang.

Sholat dan Penentuan Kiblat

Sebagai muslim, satu hal penting yang harus diperhatikan ketika sampai di hotel tempat karantina adalah bagaimana terkait sholat. Tentu karena selama karantina hanya di kamar saja segala keperluan dikerjakan di kamar termasuk sholat dan ibadah lainnya.

Yang perlu dipikirkan paling arah kiblat, karena beda dengan di Indonesia, yang umumnya di kamar hotel ada petunjuk kiblatnya, di Korea belum ada. Jadi harus menentukan sendiri arah kiblat. Selain itu juga mengenai waktu sholat bagaimana menentukannya. Tentu di era internet saat ini bukan hal yang sulit, tinggal tanya “Ustadz Google” saja…hehe.

MUFKO

Aplikasi MUFKO (sebelah kanan, tampilan di handphone)

BTW, saya merekomendasikan untuk install aplikasi “Muslim Friendly Korea” atau MUFKO. Bisa didownload di Playstore (Android) atau Appstore (Apple). Selain ada fasilitas jadwal sholat, penentu arah kiblat juga ada list restoran dan produk halal di Korea. Dan ini bermanfaat tidak hanya saat karantina, tetapi juga bisa digunakan setelahnya selama hidup di Korea. Selain aplikasi MUFKO, ada beberapa aplikasi lainnya yang juga saya rekomendasikan untuk dipunyai selama di korea, silakan bisa baca artikel saya tentang “7 Aplikasi Teknologi Yang Perlu Anda Punya Untuk Memudahkan Hidup Selama di Korea”.

[BACA: 7 Aplikasi Teknologi Yang Perlu Anda Punya Untuk Memudahkan Hidup Selama di Korea]

Makanan Selama Karantina

Makanan diberikan 3 kali sehari, termasuk jatah air minum 2 liter per hari.  Secara umum layanan makanan yang disediakan cukup baik, artinya saya tidak kelaparan atau kekurangan makan…hehe. Hanya saja meskipun menunya macam-macam, tetapi secara umum cukup monoton. Misal, menu sarapan nasi goreng, dengan berbagai macam modelnya, tapi ujung-ujungnya nasi goreng…hehe. Jadi kalau selama 14 hari ya lumayan bosen juga tiap hari sarapan nasi goreng…hehe

Menu Karantina

Contoh Beragam Menu Selama Karantina (Breakfast, Lunch, Dinner)

Selain itu, beberapa menu merupakan menu korea seperti Kimchi yang hampir tidak pernah absen dari menu makan malam. Atau salad dengan berbagai macam jenis sayuran Korea. Tentu ini masalah selera, tiap orang bisa jadi berbeda preferensinya.

Tips:

  • Sebaiknya bawa makanan awetan dari Indonesia seperti rendang, kering tempe atau teri nasi untuk jaga-jaga jika selama karantina ada makanan yang tidak pas, karena selama karantina tidak bisa beli atau menerima makanan dari luar selain yang disediakan oleh hotel.
  • Membawa mie instan/bakso instan boleh juga, untuk selingan (sorry rekom makanan tidak sehat…haha). Terlebih hawa di Korea cukup dingin.
  • Pastikan stok makanan untuk selama karantina…hehe

Mengelola Sampah dan Cucian Selama Karantina

Persoalan sampah ini kelihatannya sepele, tapi ternyata juga penting. Bayangkan anda harus menahan sampah khususnya sampah makanan selama 14 hari di kamar, tidak boleh dibuang keluar dan tidak ada layanan pengambilan sampah. Bisa dibayangkan kalau ternyata bau busuk dan itu membaui seisi kamar di mana disitulah satu2nya tempat anda menghabiskan waktu selama 14 hari, sholat, makan, tidur dan semua aktivitas harian di lakukan di situ.

Tipsnya sederhana, dengan mengumpulkan makanan sisa dalam wadah tertutup dan lalu ditaruh di kulkas. Saya biasanya menggunakan box sarapan yang ada penutupnya dan lalu mengumpulkan makanan sisa di situ selanjutnya di tutup dan ditaruh di kulkas. InsyaAllah selama 14 hari aman. Nanti di hari terakhir tinggal dikeluarkan semua dan taruh di plastik penampung sampah makanan. Daripada anda masukkan ke plastik dan ditaruh di kamar bisa dipastikan 5 hari saja sudah tercium bau busuk di kamar.

sampah

Penyimpanan Makanan Sisa di Kulkas Untuk Mengurangi Bau di Luar

Selain masalah sampah, hal lain yang perlu diperhatikan adalah mengenai cuci-mencuci. Karena selama karantina tidak disediakan layanan laundry, otomatis harus mencuci sendiri. Kecuali persediaan pakaian mancukupi selama 10 atau 14 hari karantina mungkin tidak perlu mencuci. Hotel tidak menyediakan sabun atau mesin cuci di kamar, jadi otomatis harus sedia sabun cuci dari Indonesia dan siap2 “olahraga air” alias mencuci manual. Untuk jemuran disediakan semacam jemuran lipat.

Untuk cucian saya setelah di cuci saya gantung pakai hanger di kamar mandi sampai lumayan agak kering, setidanya jika dipindah tidak menetes lagi airnya. Setelah itu saya jemur menggunakan jemuran lipat yang disediakan hotel di deket jendela. Memanfaatkan sinar matahari pagi saat masuk. Jadi mencucinya sore hari, lalu semalaman digantung pakai hanger di kamar mandi, lalu esok paginya bisa dipindah ke deket jendela pakai jemuran lipat yang disediakan hotel. Barangkali yang perlu diantisipasi membawa hanger yang mencukupi, mengingat hanger yang disediakan hotel hanya beberapa saja.

Bagaimana Dengan Karantina Mandiri di Rumah/Apartemen?

Seperti saya sampaikan di awal tulisan ini, ada dua model pelaksanaan karantina untuk pelaku kedatangan dari luar negeri di Korea, karantina di hotel atau karantina mandiri di rumah/tempat tinggal sendiri. Yang sudah saya ceritakan barusan adalah untuk karantina di hotel sesuai pengalaman saya. Bagaiamana teknis dan prosedurnya untuk karantina mandiri di rumah?

Saya sendiri belum pernah mengalami ini, tetapi menurut pengalaman teman saya yang sekitar bulan November 2021 lalu menjalani karantina mandiri di apartemennya, prosedurnya relatif mudah. Kebetulan teman saya (laki-laki) ini mahasiswa yang menjemput keluarganya (anak&istri) yang datang dari Indonesia. Dia sudah satu tahun tinggal di Korea sehingga sudah punya tempat tinggal di sini. Prosedur karantinanya intinya tinggal registrasi di bandara (isi form, keterangan tempat tinggal dll). Selanjutnya menggunakan kendaraan yang disediakan oleh petugas (bayar sendiri tentunya) menuju tempat tinggal. Selama proses karantina tidak boleh keluar dari rumah. Btw, karena yang datang ke Korea ini anak dan istrinya, jadi yang dikarantina hanya anak dan istrinya saja. Cuma tingal beda kamar saja (jangan tanya bagaimana biar memisahkan interaksi di apartemennya ya…hehe). Selanjutnya selalu melaporkan kondisi (terutama suhu tubuh) ke petugas pemantau karantina tiap hari selama karantina juga melalui aplikasi. Paling yang mungkin perlu disiapkan adalah supply bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga selama karantina. Ada yang mengatakan bahwa petugas akan mendrop makanan/sembako untuk yang melakukan karantina mandiri, tetapi saya belum tahu mekanisme dan kebenaran informasi ini.

Itu saja saya kira sementara yang bisa saya bagikan pengalaman dan tips selama karantina corona di Korea. Hal-hal lainnya seperti uang tidak perlu bawa banyak-banyak karena tidak dipakai juga…hehe. Kalau pembaca ada pengalaman lainnya boleh share di komentar.

Itulah sekilas cerita saya saat menjalani 14 hari karantina corona di Korea. Semoga bermanfaat.

Chuncheon, Januari 2022.
***************************

References:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: