Keajaiban Di Atas Keajaiban

article-image-5-tips-to-make-positive-thinking-easier

Bismillah, setelah sekian lama tidak menulis, dan membiarkan blog saya kosong tanpa aktivitas, Alhamdulillah sekarang saya punya kesempatan lagi “menengoknya”. Ini adalah semester kedua saya menjalani profesi sebagai dosen, profesi yang Alhamdulillah saya enjoy menjalaninya. Dengan segala aktivitas laiknya seorang dosen tentunya, mengajar, meneliti dan melakukan pengabdian kepada masyarakat.

Mengawali tulisan kali ini, saya teringat dengan sebuah kisah tentang “Ulama-ulama Yang Membujang” alias menjomblo hingga akhir hayatnya (buat yang masih jomblo, jangan bersedih ya…ternyata sekelas ulama saja ada yang jomblo juga…hehe) . Saya pernah membaca “kisah pilu” para pewaris nabi ini dalam buku “Mencari Pahlawan Indonesia” karya Anis Matta, salah seorang cendekiawan muslim Indonesia. Dalam rangkaian beberapa bab di bukunya “Mencari Pahlawan Indonesia”, yaitu bab tentang “Perempuan Bagi Pahlawan”. Anis Matta menuliskan salah satunya tentang kisah-kisah ulama terkenal yang ternyata tetap membujang hingga akhir hayatnya. Tentang bagaimana kisah sedih Imam Muhammad bin Dawud Adz Dzahiri (pendiri madzhab Dzahiriyah), atau kisah tragis Sayyid Qutb, atau kisah tentang Imam Nawawi dan Ibnu Taimiyah yang ternyata membujang hingga wafatnya. Bahkan ada ulama (Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, rahimahullah) yang menulis kitab khusus tentang Al-Ulama al-Uzzab (Ulama-ulama Bujang).

Tentu tulisan ini tidak akan bicara tentang bagaimana kiat-kiat menjomblo atau mengelola hati saat membujang…hehe. Saya cuma teringat dari apa yang disampaikan Anis Matta dalam bukunya itu ketika mengomentari mengenai bagaimana para “ulama jomblo” ini tetap berprestasi meski mereka mengalami “lara hati”.

Ya, sudah jamak di kalangan kita tentang ungkapan “dibalik kesuksesan seorang laki-laki, pasti ada perempuan hebat dibelakangnya”. Pertanyaannya, jika tidak ada wanita yang singgah di hatinya, bagaimana seorang laki-laki bisa Berjaya?. Contohnya seperti para ulama tadi yang tetap bisa tegar dan bekerja menghasilkan karya yang diakui sepanjang sejarah manusia. Imam Nawawi, Ibnu Taimiyah, Imam Adzzahiri, dan Sayyid Qutb contohnya. Umat Islam tidak asing dan tentu familiar dengan mereka. Mengutip kata Anis Matta, kehebatan mereka itu adalah keajaiban di atas keajaiban. Ketika kehidupan tidak cukup bermurah hati mewujudkan mimpi mereka (tentang wanita impiannya), mereka menambatkan harapannya kepada sumber segala harapan; Allah ‘Azza Wajalla!

Move On, begitulah kata anak muda. Tidak perlu terlalu lama bersedih atau meratapi nasib. Banyak hal di luar sana yang positif bisa dilakukan. Dunia tidak selebar daun kelor bro. Meski kadang tentu mudah untuk mengatakannya daripada melakukannya. Tapi yang jelas selalu ada hikmah dari setiap peristiwa kalau kita bisa memahami dan ikhlas menjalaninya.

Seperti halnya saya saat ini. Tentu bukan karena saya masih jomblo ya…. Alhamdulillah sold out…hehe. Tapi kembali ke cerita awal mengenai profesi saya saat ini. Di saat teman-teman saya di fakultas lain mengeluh padatnya jadwal kuliah mereka sehingga seolah waktunya hanya untuk ngisi kuliah saja, sampai-sampai tidak sempat melakukan penelitian, menulis paper atau kegiatan lainnya. (Sekedar contoh, ada teman saya yang mengajar di Fakultas Ekonomi yang mengajar sampai hampir 40 SKS per minggu, artinya hampir tiap hari kuliah, bahkan kadang sampai malam hari). Sebaliknya saya Alhamdulillah saya cuma dapat jatah 2 mata kuliah dan semua tergabung dalam sebuah team teaching. Itu pun ada yang anggota team teachingnya 5 orang dosen. Jadi praktis saya hanya mengajar rata-rata ½ kelas dalam satu semester untuk masing-masing mata kuliah. Artinya kalau mata kuliah itu terdiri dari 2 sks teori, saya hanya mengajar sebanyak 2×50 menit saja per minggu per mata kuliah. Atau sekitar 200 menit atau CUMA 3 JAM 20 MENIT PER MINGGU. Wow…ini artinya saya diberi kesempatan yang buanyak untuk aktivitas keprofesian lainnya, seperti penelitian, menulis paper atau pengabdian kepada masyarakat. Yah, memang si ada sisi gelapnya. Secara  ekonomi, tentu ini akan mempengaruhi penerimaan dalam negeri…hehehe. Btw, sy percaya rejeki sudah ada yang mengatur. Dan seperti halnya jodoh, rejeki itu insyaAllah juga tidak tertukar. Bismillah saja

Yang jelas hikmahnya, saya bisa punya waktu yang longgar untuk konsentrasi pada banyak hal. Pertama, saya lebih punya waktu luang untuk keluarga. Jelas, apa si yang lebih penting dari keluarga bagi yang sudah menikah? Terlebih bagi saya yang sedang LDRan saat ini (semoga tidak banyak rapat di akhir pekan…please). Kedua, jelas rencana studi lanjut saya. Mulai dari menulis rancangan proposal disertasi, mencari calon professor, menentukan di kampus mana saya akan meraih Ph.D insyaAllah. Ketiga, tentu saatnya saya menulis paper ilmiah saya. Selain sebagai kewajiban akademik juga tentunya untuk menunjang jenjang karir saya. Keempat, menulis proposal penelitian dan pengabdian masyarakat. Kelima, ada waktu untuk berkunjung ke saudara dan sahabat di jogja yang selama ini belum kesempatan. Keenam, ada kesempatan jalan-jalan mengenal jogja. Malu rasanya tinggal di Jogja tapi saat ditanya “Plengkung Gading, Joteng, Demangan, Kauman atau jalan di timur Tugu jogja” jawabannya ga tahu..haha. Dan ketujuh, tentunya saya bisa menulis lagi di blog ini…hehehe. Jadi banyak juga yang bisa saya lakukan…Alhamdulillaah..

All in all, insyaAllah selalu ada hikmah dibalik peristiwa. Selalu ada kebaikan jika kita bisa positif menyikapinya. Dan semoga kita selalu diberikan kemampuan untuk melihatnya dan memanfaatkan setiap waktu dan apa saja yang Allah tetapkan untuk kebaikan bagi semua. Sebagai penutup, izinkan saya mengutip tulisan Anis Matta:

 

Begitulah Sayyid Quthb menyaksikan mimpinya hancur berkeping-keping, sembari berkata, “Apakah kehidupan memang tidak menyediakan gadis impianku, atau perkawinan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisiku?” Setelah itu, ia berlari meraih takdirnya; dipenjara 15 tahun, menulis Fii Dzilalil Qur’an, dan mati di tiang gantungan! Sendiri. Hanya sendiri!

Jogjakarta, 21 September 2016.

03.36

Heri Akhmadi.

 

References;

Anis Matta, 2005. Mencari Pahlawan Indonesia. Tarbawi Press. Jakarta

Picture by http://www.unilab.com.ph

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s